Meraut Cinta, Mendulang Berkah

    1
    11


    Allah berfirman:

    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَن يَرۡتَدَّ مِنكُمۡ عَن دِينِهِۦ فَسَوۡفَ يَأۡتِي ٱللَّهُ بِقَوۡمٖ يُحِبُّهُمۡ وَيُحِبُّونَهُۥٓ ‌أَذِلَّةٍ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ يُجَٰهِدُونَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوۡمَةَ لَآئِمٖۚ ذَٰلِكَ فَضۡلُ ٱللَّهِ يُؤۡتِيهِ مَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ

    Wahai orang-orang yang beriman! Barangsiapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui. (Al Maaidah; 54)

    Diantara ciri orang-orang beriman adalah lekatnya cinta di dalam sanubari mereka terhadap Allah. Dengan kecintaan itu, Allah pun mencintai mereka. Namun cinta bukanlah sekedar pengakuan, tetapi kebenarannya haruslah dibuktikan. Maka diantara pembuktiannya adalah sikap loyal kepada orang-orang yang dicintai Allah dan tidak justru melekatkan loyalitas itu kepada orang-orang yang memusuhi atau ingkar kepada Allah sebagai satu-satunya sembahan yang benar. Olehnya, setelah menyatakan;

    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَن يَرۡتَدَّ مِنكُمۡ عَن دِينِهِۦ فَسَوۡفَ يَأۡتِي ٱللَّهُ بِقَوۡمٖ يُحِبُّهُمۡ وَيُحِبُّونَهُ

    Allah jelaskan diantara bukti kecintaan itu dengan firman-Nya selanjutnya;

    ‌أَذِلَّةٍ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ

    Bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman,

    يُجَٰهِدُونَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوۡمَةَ لَآئِمٖۚ

    Tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, berjihad di jalan Allah, dan tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.

    Cinta kepada orang-orang beriman adalah satu diantara bukti keimanan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

    ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ ‌وَجَدَ ‌بِهِنَّ ‌حَلَاوَةَ ‌الْإِيمَانِ: مَنْ كَانَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

    Tiga perkara jika tertanam dalam diri seorang muslim sungguh ia akan merasakan manisnya iman, yaitu; cinta kepada Allah dan rasul Nya melebihi cintanya kepada selain keduanya; cinta kepada saudara seiman karena Allah; benci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana kebenciannya kalau-kalau ia dicampakkan ke dalam neraka. (HR. Muslim)

    Bagaimana cara memupuk rasa saling cinta tersebut?. Satu diantaranya adalah sebagaimana arahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam;

    لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ ‌أَفْشُوا ‌السَّلَامَ بَيْنَكُمْ

    “Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Kalian tidak akan beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah kalian kutunjuki sebuah amalan, yang jika kalian lakukan, niscaya kalian akan saling mencintai.  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda; sebarkanlah salam diantara kalian.”. (HR. Muslim).

    Kepada siapa kita memberi salam?. Kepada seluruh muslim; kenalan ataupun bukan kenalan. Abdullah bin ‘Amr bin al Ash –radhiyallahu ‘anhu- berkata;

    أن رجلا سأل النبي : أي الإسلام خير؟ قال: تطعم الطعام ، وتقرأ السلام على من عرفت وعلى من لم تعرف

    “Seorang laki-laki bertanya kepada  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-; beritahulah saya tentang amalan yang baik dalam Islam.  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda; memberi makan, dan memberi salam kepada siapa yang engkau kenal dan kepada siapa yang tidak engkau kenal.”. (HR. Bukhari)

    Memberi salam adalah satu jenis ibadah yang oleh beberapa orang saat ini disepelekan, namun oleh para sahabat sangat dijaga. Anas –radhiyallahu ‘anhu- berkata;

    كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَمَاشَوْنَ فَإِذَا لَقِيَتْهُمْ شَجَرَةٌ أَوْ أَكَمَةٌ تَفَرَّقُوا يَمِينًا وَشِمَالًا فَإِذَا الْتَقَوْا مِنْ وَرَائِهَا يُسَلِّمُ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ

    “Dahulu para sahabat biasa berjalan beriring. Maka ketika berjumpa dengan pohon atau bukit kecil, mereka pun berpisah, sebagian ke kanan dan sebagian ke kiri. Lantas ketika kembali bertemu di penghujung batas yang memisahkannya, mereka pun kembali saling memberi salam.”. (Subulus Salaam)

    Memberi salam adalah satu diantara jenis ibadah yang dapat merekatkan persatuan kaum muslimin. Ketika bersatu, merekapun menjadi kuat. Hal inilah yang tidak disenangi oleh musuh-musuh Allah, dan hal itulah diantara yang menjadi pemicu hasad mereka kepada kaum muslimin. Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda;

    ما حسدتكم اليهود على شيء ما حسدتكم على السلام والتأمين

    “Tiadalah orang-orang Yahudi hasad kepadamu sebesar hasadnya kepadamu terhadap syari’at menebar salam dan mengucapkan amin.”. (HR. Ibnu Majah)

    Olehnya, mari menghidupkan syi’ar ini di bulan mulia ini untuk kembali merekatkan cinta, memperkuat ukhuwwah dan meraih ridha Allah.

    1 COMMENT

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here