Modal Niat

    0
    35

    Adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam beserta para sahabatnya sepulang dari peperangan tabuk dan saat akan mendekati kota Madinah, Beliau shallallahu alaihi wasallam menyampaikan sabdanya kepada para pasukan yang ikut serta bersama beliau dalam perang tabuk tersebut. Beliau bersabda :

    إِنَّ بِالْمَدِينَةِ أَقْوَامًا، مَا سِرْتُمْ مَسِيرًا، وَلاَ قَطَعْتُمْ وَادِيًا إِلَّا كَانُوا مَعَكُمْ» ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَهُمْ بِالْمَدِينَةِ؟ قَالَ: وَهُمْ بِالْمَدِينَةِ، حَبَسَهُمُ العُذْرُ

    Artinya : ”Sesungguhnya di Madinah ada sekelompok orang (para sahabat yang tidak ikut berperang karena udzur) yang senantiasa membersamai kalian (dalam perolehan pahala) baik ketika menempuh perjalanan maupun menyeberangi lembah. Para sahabat pun lantas bertanya :”Wahai Rasulullah, mereka di madinah?”, Lalu Rasulullah pun menjawab :”Mereka di Madinah karena terhalang oleh udzur(yang membuat mereka tidak ikut dalam peperangan). (H.R.Bukhari)

    Hadits di atas adalah bentuk penghargaan dari Allah dan RasulNya kepada para sahabat yang tidak ikut serta dalam perang tabuk dikarenakan udzur yang menghalanginya. Mereka inilah yang diceritakan oleh Allah Ta’ala dalam firman Nya :

    وَلَا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَا أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوْا وَأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا مَا يُنْفِقُونَ

    Artinya : “Dan tidak pula (berdosa) orang-orang yang mendatangi kamu (Muhammad) seraya memintamu untuk membawa mereka (ikut serta dalam peperangan), lalu Engkau (Muhammad) berkata : “Aku tidak mendapati sesuatu yang bisa membawa kalian (ke medan perang), lalu mereka pun berpaling sedangkan air mata mereka mengalir, bersedih karena tidak mendapatkan sesuatu yang mereka bisa infakkan (di jalan Allah)”. (Q.S.At Taubah : 92)

    Mereka yang Allah sebutkan dalam ayat di atas adalah orang-orang yang memiliki keterbatasan bekal, kendaraan dan persenjataan untuk ikut berperang bersama Nabi shallallahu alaihi wasallam. Namun dibalik keterbatasan yang mereka miliki, terdapat niat dan keinganan yang kuat untuk ikut dalam barisan perang. Karena niat dan keinginan yang kuat itulah lalu Allah Ta’ala ganjar mereka dengan pahala sebagaimana yang mereka niatkan.

    Begitulah syariat kita menghargai sebuah kebaikan. Tidak harus menjadi kebaikan yang terealisasikan, namun dengan “sekedar”  niat dan keinginan yang kuat di dalam hati untuk melakukan kebaikan adalah sebuah kebaikan yang layak diganjar dengan pahala.

    Baarakallahufiikum.

    ✍️ Penulis : Ustadz Rafael Afrianto, Lc
    
    Tim Rubrik Kajian Ilmiyah Al Binaa Menyapa