Musuh Allah

    0
    112

    Allah berfirman;

    مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِلَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ فَإِنَّ اللَّهَ عَدُوٌّ لِلْكَافِرِينَ

    “Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.”. (Al Baqarah; 98)

     

    “Singkat dan padat”, demikianlah diantara ciri mendasar dari sebuah pernyataan baik dan bagus  dalam bahasa Arab. Sifat dasar inilah yang dimiliki oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam segenap pernyataannya, hingga Beliau digelari “Jawaami’e al kalim” (seorang yang mampu mengutarakan makna yang sangat banyak degan kata-kata yang singkat).

    Satu diantara instrument yang dimiliki oleh bahasa Arab untuk menyingkat beberapa kata yang panjang adalah menggunakan “Dhamir” (kata ganti).

    Al Quran sebagai mukjizat, tentu memiliki sifat dasar tersebut. Jika dapat diringkas, maka tentu Allah akan meringkas sebuah ayat yang diturunkannya. Misalnya, Allah berfirman: “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah”, menyatakan balasan mereka Allah berfirman;

    أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

    “Allah telah menyediakan untuk hum  (mereka) ampunan dan pahala yang besar.”. Dalam ayat ini, Allah menggunakan dhomir hum   (mereka) sebagai ganti dari pengulangan kata berderet yang disebutkan sebelumnya (sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, dst)

    Namun dalam beberapa tempat, ternyata disebutkan beberapa ayat yang tidak mengikuti ketentuan asal tersebut. Contohnya adalah ayat yang disebutkan mengawali rubrik hari ini. Allah berfirman;

    مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِلَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ فَإِنَّ اللَّهَ عَدُوٌّ لِلْكَافِرِينَ

    “Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.”. (Al Baqarah; 98). Dalam ayat ini, Allah tidak menggunakan “dhomir” (kata ganti) hum   (mereka) untuk menyatakan kalimat yang lebih panjang, yaitu “orang-orang kafir”.  Penggunaan sistimatika berbahasa yang tidak biasa ini pasti memiliki sebab. Lantas apakah sebab itu ?.

    Syaikh ‘Utsaimiin rahimahullah berkata bahwa tidak digunakannya “dhamiir” hum   (mereka) sebagai ganti dari kata “orang-orang kafir” dalam ayat ini untuk memberi pelajaran yang lebih dari sekedar bahwa orang-orang yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail adalah musuh Allah. Tambahan dan penegasan makna yang dimaksud adalah;

    1. Orang-orang yang memusuhi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail adalah orang-orang kafir
    2. Orang-orang kafir adalah musuh-musuh Allah

    Bila hal ini telah dipahami maka diketahui bahwa ;

    1. Memusuhi malaikat, rasul, jibril dan mikail adalah sama dengan memusuhi Allah
    2. Memusuhi mereka adalah sebab masuknya seorang dalam wilayah kafir
    3. Seluruh orang kafir adalah musuh Allah
    4. Malaikat, rasul, Jibril dan mikail adalah orang dan makhluk yang dicintai Allah karena ketaatannya
    5. Diantara makhluk yang dicintai Allah adalah orang-orang shaleh karena keshalehannya
    6. Jika demikian maka memusuhi orang-orang yang dicintai Allah karena keshalehannya sama dengan memusuhi Allah
    7. Memusuhi orang-orang shaleh karena keshalehannya adalah sebab masuknya seorang dalam wilayah kafir

    Semoga menjadi bahan renungan bagi kita semua dalam segenap interaksi sosial kita bersama orang-orang sekitar, rekan-rekan kita; baik yang sehaluan maupun yang bersebrangan dalam hal-hal keduniaan, bisnis, politik dan yang lainnya.

     

    Wallahu a’lam bis shawaab


    Info Donasi Korban Gempa Sulbar

    Orang yang paling dicintai Allah adalah mereka yang paling bermanfaat bagi orang manusia. Dan amalan yang paling dicintai Allah adalah rasa gembira yang engkau sisipkan ke dalam hati saudaramu muslim; engkau membantunya dalam kesulitan, engkau bayarkan utangnya, atau engkau obati rasa lapar yang melilitnya. Sungguh saya berjalan bersama saudaraku untuk membantunya menyelesaikan kesusahannya adalah lebih saya sukai daripada melakukan I’tikaf selama sebulan di masjidku ini (masjid Nabawi). (Shahih At Targhiib wa at Tarhiib, 2/709)