Nasehat Agama Di Masa Bencana

    0
    377

    Dalam hadits Salman radhiyallahu ‘anhu, ketika beliau di tanya oleh orang-orang kafir, “Adakah agama kalian juga mengajari kalian hingga ke urusan buang air ?”. Dengan penuh yakin, Salman radhiyallahu ‘anhu berkata; “Tentu”.

    Demikianlah agama ini, tidak satupun perkara hamba sekecil apapun perkara itu melainkan ada tuntunan agama pada masalah tersebut. Terlebih pada masalah-masalah besar yang mengaitkan kepentingan dan hajat hidup orang banyak. Maka terhadap masalah-masalah itu tentu agama akan memberi tuntunan dan arahan yang pasti akan memberi pencerahan-pencerahan yang baik untuk maslahat hidup di alam semesta.

    Diantara arahan agama di masa bencana seperti hari-hari ini adalah ;

    1. Hendaknya setiap orang dalam situasi bencana seperti saat ini senantiasa taat terhadap arahan dan perintah para ulama dan aparat pemerintah, khususnya dalam kebijakan-kebijakan yang bersifat publik dan melibatkan kepentingan banyak orang. Tidak boleh bagi kaum muslimin untuk mengabaikan arahan-arahan ulama dan pemerintah karena informasi atau pernyataan-pernyataan yang bersifat personal. Allah berfirman :

    وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ

    “Dan apabila sampai kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau ketakutan mereka langsung menyiarkannya. Padahal jika mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil amri diantara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya akan dapat mengetahuinya secara resmi dari mereka.”. (An Nisaa; 83)

    Dalam ayat ini Allah menuntun seluruh hamba untuk merujuk pada arahan resmi dari pihak yang resmi dalam perkara-perkara yang menyangkut stbilitas dan hajat hidup masyarakat secara luas.

    1. Jangan mengambil informasi dari pihak yang tidak berkompeten, terlebih menyebarkannya. Dalam situasi saat ini banyak beredar berbagai informasi dengan sumber yang tidak jelas, yang tidak sedikit membuat kegaduhan dan menyebar rasa panik dan ketakutan. Allah berfirman :

    يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

    “Wahai orang-orang beriman bila datang kepadamu seorang fasik dengan sebuah informasi maka telitilah informasi tersebut, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan atau kecerobohan, yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”. (Al Hujuraat; 6)

    قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2) وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ

    “Sungguh beruntunglah orang-orang beriman. Yaitu mereka yang khusyu dalam shalatnya. Yaitu mereka yang berpaling dari perkara-perkara yang tidak bermanfaat.”. (Al Mukminuun; 1-3)

    Dalam ayat ini ada perintah untuk menjauhi perkara yang tidak bermanfaat. Maka jika demikian itu dinyatakan terhadap hal-hal yang tidak bermanfaat, tentu terhadap hal yang merugikan akan lebih utama. Terlebih jika ternyata informasi itu adalah hoax. Disebutkan dalam hadits bahwa penyebar “hoax internasional” di akhirat kelak akan di robek-robek rahangnya dengan besi hingga ke ujungnya, lalu hidungnya hingga ke ujungnya, kemudian matanya hingga ke ujungnya. (HR. Bukhari)

    1. Setiap mukmin hendaknya meyakini bahwa apapun musibah yang Allah timpakan kepada manusia, maka hal tersebut memiliki dua sisi, yaitu;
    • Sisi bahwa musibah itu adalah adzab yang Allah timpakan kepada orang-orang yang ingkar,
    • Sisi bahwa musibah itu adalah rahmat bagi orang-orang beriman, yaitu orang-orang yang mengikuti arahan dan tuntunan agama dalam menyikapi musibah tersebut.
    1. Setiap muslim dalam segenap keadaan yang tidak biasa (musibah) hendaknya mengambil pelajaran dari peristiwa tersebut. Hendaknya peristiwa tersebut menambah kedekatannya kepada Dzat Yang Maha Kuasa. Hendaknya ia memperbanyak ibadah, doa, istighfar, sedekah dan ketaatan-ketaatan lainnya. Demikianlah arahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada keadaan-keadaan yang tidak biasa, diantaranya adalah ketika terjadi gerhana. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

    فَافْزَعُوا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَدُعَائِهِ وَاسْتِغْفَارِهِ

    “Bersegeralah ingat kepada Allah, berdoa dan beristighfar”. (HR. Baihaqi)

    فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ، فَادْعُوا اللَّهَ، وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا

    “Apabila kalian melihat gerhana itu, maka berdoalah, bertakbirlah, laksanakanlah shalat dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari)

    1. Dalam situasi tidak biasa (musibah melanda) hendaknya setiap muslim mempertebal keimanannya terhadap segala takdir dan ketentuan Allah. Hendaknya ia meyakini sepenuhnya bahwa tidak satupun yang menimpa seorang hamba melainkan hal tersebut telah menjadi ketetapan Allah yang tidak akan meleset darinya. Dan ketika itu hendaknya dia senantiasa berbaik sangka kepada Allah. Allah berfirman :

    إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

    “Sesungguhnya Kami telah ciptakan segala sesuatu menurut kadarnya.” (Al Qamar; 49)

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

    عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ، صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

    “Urusan setiap mukmin itu sungguh menakjubkan. Seluruh perkaranya adalah baik, dan hal itu tidak akan terjadi melainkan bagi orang-orang mukmin. Apabila ia dianugrahi kebaikan, maka dia bersyukur, dan itu adalah baik baginya. Dan apabila ia diuji dengan kemalangan, maka ia pun bersabar. Dan itu juga adalah baik baginya.”. (HR. Muslim)

    1. Hendaknya ia melakukan ikhtiar (berbagai upaya) secara maksimal untuk menyelematkan diri, keluarga dan orang-orang lain secara umum. Dan termasuk bagian dari ikhtiar adalah taat kepada arahan dan aturan pemerintah seperti yang telah disampaikan pada point pertama. Dan setelah itu, hendaknya ia bertawakkal kepada Allah terhadap segela urusannya. Allah berfirman;

    وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

    “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Dialah yang akan mencukupkan urusannya.”. (At Thalaaq; 3)

    1. Sebarkan dan tanamkan rasa optimis dan jangan menyebar hal-hal atau konten-konten yang justru akan semakin melemahkan semangat orang-orang atau bahkan akan semakin memperburuk keadaan mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

    إِنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ بَعْدَ الْفَرَائِضِ إِدْخَالُ السُّرُورِ عَلَى الْمُسْلِمِ

    “Diantara amalan yang paling dicintai Allah setelah amalan-amalan fardhu adalah memberi kegembiraan kepada orang-orang muslim.”. (HR. Thabraan)

    Orang-orang yang gemar menyebarkan konten atau informasi-informasi yang akan menakut-nakuti orang dalam kondisi yang prihatin, disadari atau tidak disadarinya telah melakukan tindakan yang akan atau dapat menyakitkan orang-orang. Dan kepada mereka yang menyakiti orang-orang beriman, Allah berfirman :

    وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

    “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, tanpa ada kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh, mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.”. (Al Ahzaab; 58)

    Demikian beberapa arahan agama di masa-masa cobaan seperti ini. Dan semua kita berharap semoga Allah segera mengangkat cobaan ini dari kita, hingga kita semua dapat kembali beraktivitas secara normal. Wallahul musta’an wa huwa hasbuna wa ni’mal wakiil.

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here