Niat Untuk Puasa Sunnah Muqayyad

Pertanyaan:

Apakah mencanangkan niat sebelum fajar adalah syarat sahnya puasa sunnah?

 

Jawaban:

Tentang niat sebagai syarat sahnya puasa, maka ulama merincikan masalahnya;

1. Untuk puasa wajib, maka niat wajib dicanangkan sebelum fajar, berdasarkan keterangan yang menyatakan bahwa tidak ada puasa bagi mereka yang tidak meniatkan puasa di malam harinya. (HR. An Nasaai)

2. Untuk puasa sunnah, maka mayoritas ulama menyatakan bahwa mencanangkan niat di malam hari tidak menjadi syarat sahnya puasa sunnah di siang harinya. Tetapi mereka berbeda pendapat tentang kesempurnaan pahala puasa seorang yang memulai niatnya setelah fajar;

1. Diantara ulama ada yang menyatakan bahwa pahala puasanya tidak sesempurna seorang yang telah berniat sebelum fajar, karena pahalanya itu baru terhitung setelah ia mencanangkan niat puasa.

2. Ulama lainnya berpendapat bahwa selama puasa orang itu dinyatakan sah, maka pahalanya pun akan dinilai sempurna, sebagaimana seorang yang masbuk. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa barangsiapa yang mendapati ruku’ bersama imam maka sungguh ia telah mendapati (rakaat) shalat itu bersama imam. (HR. Bukhari)

Dari kedua pendapat ini, yang lebih kuat adalah pendapat kedua (Khudhair, 1437) karena;

1. Keumuman hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha yang menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam ketika mengetahui bahwa tidak ada makanan di pagi hari, maka beliau memulai niat puasa sunnahnya ketika itu. (HR. Muslim). Dalam keterangan tersebut tidak ada pemilahan antara puasa sunnah mutlak (puasa sunnah yang dilakukan kapan saja tanpa terkait dengan moment tertentu) dan puasa sunnah muqayyad (puasa sunnah yang dilakukan berdasarkan keterangan khusus tentang hari atau keutamannya)

2. Asal dari ibadah sunnah adalah dipermudah pelaksanaannya. Satu diantara bentuk kemudahan tersebut adalah tidak dijadikannya niat sebelum fajar sebagai syarat dari sahnya puasa itu. (Zaamil, 2016)

 

Wallahu a’lam bis shawaab.

 

Sumber:

  1. Bukhari, M. bin I. Al (1993) ‘Shahih Al Bukhari’. Dimasyq: Daar Ibni Katsiir.
  2. Hajjaaj, M. bin Al (1955) ‘Shahih Muslim’. Beirut: Daar Ihyaa At Turaats.
  3. Khudhair, A. K. bin A. Al (1437) ‘تبييت النية من الليل في صيام النفل’. Available at: https://shkhudheir.com/fatawa/849075102.
  4. Nasaai, A. bin S. A. (2001) ‘As Sunan Al Kubra’. Beirut: Muassasah Ar Risaalah, p. 170.
  5. Zaamil, A. M. A., 2016. هل يشترط تبييت النية لصيام الست من شوال ؟. [Online]
    Available at: https://youtu.be/NsvLD0UtWRc

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: