Nikmat Itu, Syukurilah !

    0
    110

    Nikmat terbesar yang wajib disyukuri oleh setiap muslim adalah diutusnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada manusia dengan membawa misi kenabian dan kerasulan, menjelaskan kitab yang Allah turunkan sebagai petunjuk hidup bagi seluruh manusia di alam semseta ini.

    Allah utus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa misi mulia tersebut kepada manusia dengan berbagai macam karakter dan wataknya. Lantas Allah satukan hati mereka seluruhnya di bawa panji Islam yang diemban oleh Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Allah selamatkan mereka dari tipu daya syaithan yang terlaknat.

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah menyatukan para sahabatnya dengan kekerasan dan kekuatan militer atau persenjataan. Namun ia satukan hati-hati mereka dengan penjelasan, rahmat dan kasih sayangnya. Semua itu Beliau lakukan dan tidak lepas dari petunjuk ilahi kepadanya agar seluruh umatnya menjadikan hal tersebut sebagai ikutan dan tuntunan mereka dalam berdakwah dan dalam upayanya menyatukan hati manusia di bawah naungan panji Islam. Allah berfirman;

    فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

    Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal. (Ali Imran; 159)

    Bertolak dari petunjuk tersebut dan wasiat Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam yang menyatakan bahwa agama ini adalah nasehat, dan mengamati kondisi umat Islam diberbagai belahan dunia yang terus dirundung fitnah dan ujian yang menyasar kesatuan dan keutuhan umat; maka ada beberapa nasehat terkait dengan kondisi kekinian yang terjalin antara sesama mereka, diantaranya adalah :

    1. Wajib bagi setiap muslim menjadikan Al Quran dan sunnah sebagai rujukan pertama dan utama mereka dalam menyelesaikan seluruh masalahnya. Hal ini tentu telah dipahami oleh setiap muslim, bahwa di dalam keduanya terdapat penjelasan untuk menyelesaikan seluruh persoalan hidup mereka. Hal yang dituntut bagi mereka adalah kembali mempelajarinya dan komitmen terhadap seluruh aturannya. Allah berfirman :

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

    Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul, apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan. (Al Anfaal; 24)

    فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا

    Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (An Nisaa; 59)

    2. Menjadikan para ulama sebagai tempat rujukan mereka dalam memahami Al Quran dan sunnah, khususnya masalah-masalah yang pelik, kontroversi dan tidak diketahui oleh orang-orang secara umum. Allah berfirman :

    هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

    Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad). Diantaranya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok Kitab (Al-Qur’an) dan yang lain mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat untuk mencari-cari fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, “Kami beriman kepadanya (Al-Qur’an), semuanya dari sisi Tuhan kami.” Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang yang berakal. (Ali Imran; 7)

    Persoalan kembali merujuk kepada para ulama dalam masalah-masalah agama bukan semata persoalan yang diserahkan kepada ikhtiar masing-masing orang. Tetapi hal itu adalah kewajiban yang Allah tetapkan atas setiap muslim. Allah berfirman :

    وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا

    Dan apabila sampai kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka (langsung) menyiarkannya. (Padahal) apabila mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya (secara resmi) dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Sekiranya bukan karena karunia dan rahmat Allah kepadamu, tentulah kamu mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja (di antara kamu). (An Nisaa; 83)

    3. Setiap orang hendaknya menyadari bahwa padunya kata dan hati yang terjalin melalui prosedur dialog dan musyawarah dalam mencapai sebuah kemufakatan adalah cara terbaik untuk mengokohkan ikatan ukhuwwah dan persaudaraan guna meraih kebaikan hidup di dunia dan kebahagiaan di akhirat.

    Sebaliknya penyelesaian masalah yang dilakukan secara represif, tanpa melalui dialog dan musyawarah tidaklah akan menyelesaikan masalah, malah hanya akan menambah dan mempertajam masalah tersebut, serta memperluas wilayah perpecahan umat, padahal Allah berfirman :

    وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ

    Dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang. (Al Anfaal; 46).

    Olehnya, guna meminimalisir bertambah dan semakin melebarnya wilayah perpecahan, hendaknya setiap orang berusaha sebisa mungkin untuk menjauhkan diri dari perdebatan yang diprediksi tidak akan membawa kemaslahatan atau nilai mafsadatnya lebih besar dari kemanfaatannya. Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayah, dari kakeknya, berkata :

    سَمِعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَوْمًا يَتَدَارَءُونَ ، فَقَالَ: ” إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِهَذَا، ضَرَبُوا كِتَابَ اللهِ بَعْضَهُ بِبَعْضٍ، وَإِنَّمَا نَزَلَ كِتَابُ اللهِ يُصَدِّقُ بَعْضُهُ بَعْضًا، فَلَا تُكَذِّبُوا بَعْضَهُ بِبَعْضٍ، فَمَا عَلِمْتُمْ مِنْهُ فَقُولُوا، وَمَا جَهِلْتُمْ، فَكِلُوهُ إِلَى عَالِمِهِ

    Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah mendengar suatu kaum yang bertengkar (tentang ayat Al Quran). Lalu Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya kebinasaan orang-orang sebelum kalian hanyalah karena sebab ini. Mereka mempertentangkan Al Quran, antara satu ayat dengan ayat lainnya. Kitabullah turun hanyalah untuk membenarkan (melengkapi/menguatkan/menjelaskan) ayat satu dengan yang lainnya. Maka, janganlah kalian mendustakan sebagian ayat dengan sebagian yang lainnya. Apa saja yang kalian ketahui darinya, maka katakanlah; dan apa saja yang kalian tidak mengetahuinya, maka serahkan kepada orang yang mengetahuinya”. (HR. Ahmad)

    Untuk meminimalisir bertambah dan semakin melebarnya wilayah perpecahan, hal yang juga hendaknya diupayakan adalah berusaha sebisa mungkin menjauhi orang atau kelompok yang sering atau gemar memprovokasi untuk membenci kelompok atau tokoh tertentu dalam sebuah kelompok atau komunitas. Bila tidak sepakat dengan kelompok tertentu atau tokoh tertentu maka mekanisme diskusi adalah hal yang disyari’atkan sebagaimana telah disampaikan sebelumnya. Tidak justru dengan saling melempar opini yang sarat dengan nuansa pelecehan dan permusuhan kepada kelompok atau tokoh tertentu.

    Demikian tiga diantara hal yang wajib diperhatikan oleh setiap muslim untuk menjaga keharmonisan jalinan ukhuwwah diantara mereka. Jalinan ukhuwwah yang harmonis, sungguh adalah satu diantara nikmat besar yang wajib disyukuri dan dijaga. Allah berfirman :

    وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

    Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk. (Ali Imraan; 103)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here