Pahamilah Posisi Anda

    0
    99

    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

    إنما الإمامُ – أو إنما جُعِل الإمامُ – ليؤتَمَّ به، فإذا كبَّر فكبِّروا، وإذا ركَع فاركَعوا، وإذا رفَع فارفَعوا، وإذا قال سمِع اللهُ لمَن حمِده، فقولوا ربَّنا ولك الحمدُ، وإذا سجَد فاسجُدوا

    “Imam itu diangkat untuk diikuti. Bila ia takbir, maka ikutlah takbir setelahnya. Bila ia ruku, maka ruku’lah setelahnya. Bila ia bangkit dari ruku’, maka bangkitlah kalian setelahnya. Bila ia berkata, “sami’allahu liman hamidah”, maka ucapkanlah setelahnya, “Rabbana wa lakal hamdu”. Dan apabila ia sujud, maka sujudlah kalian setelahnya.”. (HR. Bukhari)

    Hadits ini memberikan arahan kepada kita tentang aturan yang wajib diikuti oleh setiap makmum dalam pelaksanaan shalat berjama’ah.

    Tentu dapat dibayangkan betapa kacaunya sebuah jama’ah jika imamnya sujud, lantas diantara jama’ahnya ada yang masih berdiri, yang lainnya baru ruku, bahkan ada juga yang sudah berdiri untuk rakaat selanjutnya.

    Gambaran shalat berjama’ah ini sesungguhnya adalah refleksi hidup dari kondisi sosial masyarakat.

    📌 Dalam sebuah negara, ada presiden dan ada struktur di bawahnya.

    📌 Dalam sebuah keluarga, ada pimpinan dan ada struktur di bawahnya.

    📌 Dalam sebuah perusahaan, ada direktur dan ada struktur di bawahnya.

    📌 Dalam sebuah lembaga pendidikan, ada ketua dan ada struktur di bawahnya.

    Dan demikianlah seterusnya …

    Kebahagiaan dan ketentraman hidup bersosial itu dapat terjaga jika masing-masing komponennya menyadari hak dan kewajibannya sesuai dengan posisi sosialnya tersebut.

    Dan hal yang pasti merusak tatanan sosial tersebut adalah ketika masing-masing orang dalam shalat berjama’ah itu memposisikan dirinya sebagai imam, dan tidak mau berdiri dalam jajaran para makmum. Dan demikianlah sebaliknya, jika seorang imam tidak mau berdiri di posisinya, tetapi juga latah berada di posisi jama’ahnya.