Pakaian Berwarna Merah

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum mengenakan pakaian berwarna merah.

Perbedaan pendapat ini muncul karena adanya dalil-dalil yang secara kasat mata bertentangan; sebagian berisi larangan dan sebagian lagi mengisyaratkan kebolehan.

Dari perbedaan dalil dan cara memahami dalil tersebut, maka ulama terbagi menjadi tiga ;
1. Ulama yang mengharamkan secara mutlak
2. Ulama yang membolehkan
3. Ulama yang mencoba menggabungkan antara dalil-dalil yang ada, hingga menyimpulkan bahwa yang terlarang adalah mengenakan pakaian yang berwarna merah polos. Namun jika warna pakaian itu merah bercorak atau bergaris (tidak polos), maka tidak mengapa mengenakannya.

Diantara dalil yang memuat pelarangan adalah :

عن البراء بن عازب رضي الله عنه : ” نهانا النبي صلى الله عليه وسلم عن المياثر – الفراش اللين – الحُمر ، والقَسِيّ – ثياب مخططة بالحرير

Hadits Al Bara’ radhiyallahu ‘anhu, Beliau berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang kami dari mayatsiir (kain tipis untuk pengalas duduk) berwarna merah dan pakaian yang bersulam sutrah. (HR. Bukhari)

عن ابن عباس قال : نُهِيتُ عن الثوب الأحمر ، وخاتم الذهب ، وأن أقرأ وأنا راكع

Hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Beliau berkata; saya telah dilarang dari pakaian berwarna merah, cincin emas dan saya dilarang membaca Al Quran ketika ruku. (HR. An Nasaai)

Diantara hadits yang berisi isyarat pembolehan :

عن هلال بن عامر عن أبيه قال : رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم بمنى يخطب على بغلة , وعليه بُرْدٌ أحمر , وعَليٌّ أمامه يُعَبِّرُ

Hadits Hilal bin Amir, dari ayahnya, beliau berkata; saya pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam khutbah di atas tunggangannya di Mina memgenakan pakaian berwarna merah. Saat itu, Ali radhiyallahu ‘anhu yang mengeraskan suara, menyampaikan kembali pesan Rasulullah agar dapat di dengar oleh seluruh yang hadir.”. (HR. Abu Daud).

Berdasarkan keterangan-keterangan yang telah disebutkan, maka ulama berbeda pendapat sebagaimana yang telah disebutkan; sebagian ada yang membolehkan dan sebagian lagi melarangnya.

Namun pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini adalah pendapat ketiga, yang mengkompromikan hadits-hadits yang berisi pelarangan dan hadits-hadits yang berisi isyarat akan kebolehannya. Dinyatakan bahwa pelarangan itu hanya tertuju bagi mereka yang mengenakan pakaian berwarna merah polos. Adapun jika warna baju yang mereka kenakan itu adalah merah bercorak atau bermotif atau bergaris (bukan merah polos), maka tidak mengapa mengenakannya. Pendapat demikian diantaranya dinyatakan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar di dalam “Al Fath” dan Imam Ibnul Qayyim rahimahumallah di dalam “Zaadul Ma’ad”.

Adapun wanita, maka disebutkan dalam sebuah riwayat dari Umar radhiyallahu ‘anhu :

أنه كان إذا رأى على الرجل ثوبا معصفرا جذبه وقال : دعوا هذا للنساء أخرجه الطبري

“Beliau jika melihat seorang memakai pakaian berwarna merah polos, maka beliau menariknya dengan kuat dan berkata; pakaian itu untuk wanita.”. (HR. Thabari)

Pages: 1 2

You may also like...

%d bloggers like this: