Pelajaran Dari Hadits Ghurabaa

    0
    23

    Rasulullah -shallallahu álaihi wa sallam- bersabda;

    عَنْ أَبِى حَازِمٍ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- : بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

    “Islam itu dimulai dari keadaan asing, dan kelak akan kembali menjadi asing. Maka beruntunglah orang-orang yang asing itu (ghurabaa) .”. (HR. Muslim)

    Sebagian orang –bertolak dari hadits ini- lantas bersikap lebih tertutup dan tidak bersahabat dengan masyarakat sekitar yang awwam. Dengan sikap seperti itu, masyarakat pun akan semakin menjauh dan semakin merasa aneh dengan keberislamannya. Namun anehnya, orang tersebut justru menganggap itu sebuah hal yang wajar dan telah menjadi sebuah sunnatullah.

    Tetapi benarkah Islam mengarahkan kita berpandangan seperti itu dari hadits yang telah dibawakan ?

    Tidak demikian,

    Pandangan aneh manusia terhadap ajaran Islam justru hendaknya dijawab dengan intensitas sosialisasi dan dakwah yang lebih tinggi. Maksud Rasulullah -shallallahu álaihi wa sallam- memuji kaum ghuraba’ (yang asing) sejatinya adalah motivasi agar umat Islam lebih gencar melakukan aktualisasi ajaran agama secara sempurna dan menyebarkan kebaikan yang terdapat di dalam Islam secara masif, agar pandangan aneh terhadap agama ini dapat berubah sebagaimana yang pernah dirasakan oleh umat pada masa kejayaan Islam pertama.

    Demikianlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta para sahabat, taabi’ien dan para pengikut Beliau yang lurus; tidak henti-hentinya mereka berdakwah dan melakukan upaya perbaikan di tengah-tengah komunitas mereka, apa dan bagaimanapun sikap yang mereka dapatkan dari komunitas mereka itu.

    Olehnya, dalam beberapa redaksi lain dari hadits ghurabaa ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang orang-orang asing itu;

    هم أناس صالحون قليل في أناس سوء كثير

    “Mereka itu adalah orang-orang shaleh minoritas yang berada di tengah mayoritas orang-orang jahat.”. Dalam redaksi lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

    الذي يصلحون إذا فسد الناس

    “Mereka itu adalah orang-orang yang senantiasa berusaha mengadakan perbaikan di tengah kerusakan manusia.”.

    Olehnya, meski sedikit, tetaplah berusaha untuk mengadakan perbaikan dan menegakkan syari’at Allah di muka bumi ini.

    Waffaqanallahu wa iyyakum lil khair.