Pelajaran Dari Surah Al Anfaal

    0
    45

    Allah berfirman di dalam surah al Anfaal, ayat 67-68 ;

    مَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَكُونَ لَهُ أَسْرَى حَتَّى يُثْخِنَ فِي الْأَرْضِ تُرِيدُونَ عَرَضَ الدُّنْيَا وَاللَّهُ يُرِيدُ الْآخِرَةَ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (67) لَوْلَا كِتَابٌ مِنَ اللَّهِ سَبَقَ لَمَسَّكُمْ فِيمَا أَخَذْتُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

    “Tidak sepantasnya seorang nabi memiliki tawanan perang sebelum ia mampu melumpuhkan musuhnya di muka bumi ini. Kamu menghendaki harta duniawi, sedangkan Allah menghendaki pahala akhirat untukmu. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kalau saja tidak ada ketetapan yang terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa dengan siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil.”. (al Anfaal; 67-68)

    Tentang sebab turunnya ayat ini;

    Ketika kaum muslimin berhasil menawan orang-orang kafir dalam perang badar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta saran kepada para sahabat tentang para tawanan tersebut;

    • Abu Bakar berpendapat sebaiknya mereka dibebaskan dan kaum muslimin menerima tebusan mereka.
    • Umar berpendapat sebaiknya mereka dihukum mati.

    Setelah mendengar dua pendapat tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada akhirnya condong dan memilih pendapat Abu Bakar.

    Terhadap peristiwa inilah, Allah berfirman sebagaimana dua ayat yang telah disebutkan di awal. Dua ayat tersebut berisi pembenaran Allah terhadap pilihan Umar radhiyallahu ‘anhu.

    Ayat ini merupakan satu diantara ayat yang secara tersirat ingin menjelaskan kepada kita bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia biasa. Olehnya itu, meski Beliau adalah seorang pemegang otoritas tertinggi, tetapi hal itu tidaklah membuatnya ragu untuk meminta saran kepada para sahabatnya. Dan sebagai manusia biasa, boleh saja Beliau memiliki kecondongan hati terhadap pendapat tertentu yang dikemukakan oleh para sahabatnya. Dan pendapat terpilih tersebut, bisa jadi benar dan bisa jadi keliru.

    Ayat ini mengajarkan kita tentang sikap ketundukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap otoritas yang ada di atas Beliau, yaitu Allah ‘Azza wa Jalla. Betapapun Beliau adalah pemegang kekuasaan tertinggi di dunia, namun jika Zat Pemilik dunia ini berkehendak lain, maka Beliau akan tunduk dan patuh terhadap ketentuan Allah, Tuhan semesta alam. Demikianlah sikap seorang muslim yang benar terhadap seluruh aturan dunia jika bertentangan dengan hukum dan ketetapan Allah. Demikianlah adab seorang hamba yang benar kepada Allah, Sang Maha Pencipta.

    Meski dalam ayat ini, Allah menegur Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun dalam ayat tersebut Ia juga menyisipkan pesan kepada setiap muslim agar tetap menjaga adabnya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah menyatakan bahwa kecondongan hati dan pemilihan Rasulullah terhadap pendapat Abu Bakar meski keliru, tetapi kecondongan hati itu bukanlah semata berdasar kemauan pribadi Beliau, melainkan hal itu berdasarkan pada ketetapan Allah sebelumnya, yaitu halal mengambil tebusan dari tawanan yang dibebaskan karena pertimbangan tertentu. Allah berfirman di ayat yang ke-68; “Kalau saja tidak ada ketetapan yang terdahulu dari Allah”.

    Hal ini penting diketahui agar seorang muslim dapat menjaga sikap dan adabnya terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Wallahu a’lam bis shawaab wa waffaqanallahu wa iyyakum lil khair