Pendapat kami benar, tetapi mungkin salah. Pendapat yang tidak sejalan dengan kami adalah salah, tetapi mungkin benar

Dalam kajian hukum Islam berkenaan dengan perkara-perkara yang melingkupi hamba mukallaf, dikenal istilah At Tsawaabit dan Al Mutaghayyiraat.
At Tsawaabit adalah perkara-perkara yang status hukumnya telah final karena telah ada ketetapannya dalam dalil-dalil shahih, tegas dan tidak multitafsir (dalil-dalil yang bersifat qath’ie);

  • Agama apa yang benar dan diridhai oleh Allah hingga hari kiamat?. Islam
    Apakah boleh menganut agama selain Islam?. Tidak boleh
    Siapakah Tuhan yang berhak disembah?. Allah
    Bolehkah menyembah Tuhan selain Allah?. Tidak boleh

Empat jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan adalah diantara contoh At Tsawaabit dalam agama ini.
Al Mutaghayyiraat adalah perkara-perkara yang status hukumnya masih boleh didiskusikan karena pendalilannya berdasar pada dalil atau keterangan-keterangan yang sifatnya dzhanni (ada beda pendapat ulama dalam penetapan makna atau validitasnya) atau karena pertimabangan maslahat dan mafsadat yang tentunya tidak bertolak belakang dengan hal-hal yang masuk dalam ranah at tsawaabit;

  • Apa hukum ikut serta dalam pemilu?
    Apa hukum cadar?
    Apa hukum isbal?
    Apakah berkumur-kumur ketika wudhu adalah wajib?

Empat masalah di atas adalah diantara contoh perkara agama yang masuk dalam kategori al mutaghayyiraat. Jawaban dari masing-masing pertanyaan di atas adalah masuk dalam ranah ijtihad (ada beda pendapat ulama menjawab masing-masing pertanyaan di atas).

Hal yang penting diketahui berkenaan dengan At Tsawaabit dan Al Mutaghayyiraat adalah bagaimana seorang muslim menyikapi perbedaan dalam masing-masing perkara tersebut. Diambil contoh perbedaan pilihan agama (masalah akidah) dan perbedaan pandang tentang kewajiban memakai cadar bagi wanita (masalah cabang dalam bidang keilmuan fikih). Penjelasan global tentang sikap yang seharusnya diambil seorang muslim terkait masalah ini dinyatakan -diantaranya- oleh imam Al Jurjaani -rahimahullah-:

الصواب: خلاف الخطأ، وهما يستعملان في المجتهدات، والحق والباطل يستعملان في المعتقدات، حتى إذا سئلنا في مذهبنا ومذهب من خالفنا في الفروع، يجب علينا أن نجيب بأن مذهبنا ‌صواب يحتمل الخطأ، ومذهب من خالفنا خطأ يحتمل الصواب، وإذا سئلنا عن معتقدنا ومعتقد من خالفنا من المعتقدات، يجب علينا أن نقول: الحق ما عليه نحن، والباطل ما عليه خصومنا

“Benar (shawaab) adalah lawan dari salah (khatha). Kedua istilah itu dipergunakan dalam wilayah ijtihadi, sedangkan hak dan bathil dipergunakan di bidang akidah. Jika ditanya tentang madzhab kita dibandingkan madzhab yang berbeda dalam masalah furu’ (percabangan fikih), jawaban kita adalah madzhab kami benar, tetapi mungkin salah. Madzhab yang tidak sejalan dengan kami adalah salah, tetapi mungkin benar. Jika ditanya tentang akidah kita dibandingkan akidah yang bertentangan dengannya, kita wajib menjawab; akidah kami hak, sedangkan akidah lawan kami adalah bathil. (At Ta’rifaat, hal. 135)

Kesalahan umum yang terkadang ditemukan di tengah masyarakat dan berakibat fatal adalah ketika seorang menganggap perkara tsawaabit adalah perkara mutaghayyiraat, hingga ruang diskusi pun dibuka selebar-lebarnya untuk mengakomodir berbagai paham kufur yang berusaha disusupkan ke dalam agama ini. Sebaliknya, kesalahan yang tidak kalah fatal adalah ketika seorang menganggap perkara mutaghayyiraat sebagai perkara yang masuk dalam ranah tsawaabit, hingga ruang diskusi pun ditutup serapat-rapatnya dan orang-orang yang berbeda pendapat diklaim telah keluar dari agama. Wallahul musta’aan

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *