Pendapatku Benar dan Pendapatmu Salah

Imam Syafi’ie rahimahullah berkata :

قولي صواب يحتمل الخطأ، وقول المخالف خطأ يحتمل الصواب

“Pendapatkulah yang benar, namun mungkin salah. Dan pandangan yang salah adalah yang menyelisihiku, namun mungkin juga benar.”. (Madkhal Ilaa ‘Uluumis Syari’ah, hal. 24)

Pernyataan ini mengarahkan kita agar senantiasa berlapang dada terhadap perbedaan pendapat yang sifatnya boleh. Betapapun keilmuwan yang dimiliki oleh seorang ulama, tetaplah pendapatnya bukan hal yang wajib diikuti secara mutlak. Mungkin saja ada ulama lain yang berbeda pandangan dengannya, dan seorang penuntut ilmu / awam lebih condong pada pandangan dari ulama itu. Imam Ahmad rahimahullah berkata :

لا ينبغي للفقيه أن يحمل الناس على مذهبه، ولا يُشدد عليهم

“Tidak sepantasnya seorang ulama memaksa orang-orang untuk meyakini kebenaran madzhabnya.”. (Madkhal Ilaa ‘Uluumis Syari’ah, hal. 24)

Olehnya, perbedaan pendapat adalah hal yang sangat wajar. Dan menyikapinya pun, hendaknya dilakukan secara bijaksana dan beradab. Imam Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata menukil pernyataan beberapa ulama salaf;

من لم يسمع الاختلاف فلا تعدوه عالماً

“Barangsiapa tidak pernah mendengar / mendapati masalah khilaf (perbedaan pendapat), maka janganlah menganggapnya sebagai seorang ulama.”. Yunus As Shadfi berkata;

ما رأيت أعقل من الشافعي، ناظرته يوماً في مسألة ثم افترقنا، ولقيني فأخذ بيدي ثم قال: يا أبا موسى ألا يستقيم أن نكون إخواناً وإن لم نتفق في مسألة

“Saya tidak melihat seorang pun yang lebih cerdas dari imam Syafi’ie. Suatu ketika saya mendebatnya dalam sebuah masalah, lantas kami pun berpisah. Kemudian Beliau menemuiku dan meraih tanganku seraya berkata; ‘Wahai Abu Musa, tidakkah sebaiknya kita tetap bersaudara meski dalam sebuah masalah kita tidak sejalan ?!’.”. Terhadap kejadian ini, Imam Dzahabi berkomentar ;  

هذا يدل على كمال عقل هذا الإمام وفقه نفسه فما زال النظراء يختلفون

“Kejadian ini menunjukkan kesempurnaan akal dan nalar sang imam. Dan hingga saat ini pun, perbedaan pendapat itu masih terus berlangsung di kalangan para ulama.”. Yahya bin Sa’id berkata;

ما برح المستفتون يستفتون فيحل هذا ويحرّم هذا، فلا يرى المحرّم أن المحلل هلك لتحليله، ولا يرى المحلل أن المحرّم هلك لتحريمه

“Hingga saat ini masih saja ada perbedaan pendapat di kalangan para pemberi fatwa. Sebagian ada yang menghalalkan dan yang lainnya justru mengharamkannya. Meski demikian, tidaklah yang mengharakmkannya menyatakan bahwa yang menghalalkannya akan celaka sebab ia menghalalkannya. Dan tidaklah pula yang menghalalkannya menyatakan bahwa yang mengharamkannya akan celaka sebab ia mengharamkannya.”.

Semangat berdiskusi untuk mencari kebenaran, itulah yang wajib disemaikan dalam kehidupan kaum muslimin. Berdiskusi secara ilmiah dan beradab, dengannya diharapkan muncul generasi berakhlak yang kritis, senantiasa semangat dalam membaca dan menuntut ilmu, serta tidak terjebak dalam lingkar fanatisme yang kelam.    

 

Lihat juga di : 

You may also like...

%d bloggers like this: