Penjelasan Kitab Puasa Dari Hadits-Hadits Umdatul Ahkam (I)

    0
    343

    Jika seorang akan kedatangan tamu kehormatan, maka tentu ia akan melakukan berbagai persiapan untuk menyambut kedatangannya. Demikianlah seorang muslim, jelang kedatangan Ramadhan yang merupakan tamu agung bagi mereka, akanlah melakukan berbagai persiapan untuk menyambut kedatangannya. Persiapan-persiapan itu diantaranya meliputi persiapan secara ruhiyyah dan persiapan jasadiyyah.

    Diantara persiapan ruhiyyah yang dituntunkan agama kepada mereka adalah memperbanyak puasa sebulan sebelumnya, yaitu di bulan Sya’ban. Demikianlah contoh dan anjuran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ummatnya, sebagaimana yang dinyatakan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha;

    لَمْ أَرَ النبي صَائِمًا مِنْ شَهْرٍ قَطُّ، أَكْثَرَ مِنْ صِيَامِهِ مِنْ شَعْبَانَ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ إِلَّا قَلِيلًا

    “Saya tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sebanyak yang beliau lakukan dari puasanya di bulan Sya’ban. Bahkan beliau berpuasa sebulan di bulan Sya’ban kecuali beberapa hari saja.”. (HR. Muslim)

    Diantara persiapan jasadiyyah yang dituntunkan agama untuk menyambut kedatangan tamu agung tersebut adalah dengan tidak mendahului Ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari sebelumnya. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

    لا تَقَدَّمُوا رَمَضَان بِصَومْ يوم أوْ يَوْمَين، إِلا رَجلاً كانَ يَصُومُ صَوماً فَلْيَصُمْه

    “Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan melakukan puasa sehari atau dua hari sebelumnya, kecuali jika hari itu bertepatan dengan puasa sunnah yang telah menjadi kebiasaannya, maka boleh ia tetap berpuasa.”. Terlebih bagi mereka yang secara fisik tidak kuat berpuasa, atau tidak terbiasa melakukan puasa sunnah, maka hendaknya mereka lebih maksimal dalam menjaga kondisi fisik mereka, diantaranya dengan tidak berpuasa setengah bulan sebelumnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

    إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ، فَلَا تَصُومُوا

    “Apabila telah berlalu setengah dari bulan Sya’ban, maka janganlah kalian berpuasa.”.

     

    Faidah tambahan berkenaan dengan larangan mendahului Ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari sebelumnya adalah

     

    Lantas, bagaimana seorang mengetahui awal kehadiran Ramadhan ?. Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, saya telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

    إذا رَأَيْتمُوه فَصُومُوا، وَإذا رَأَيْتُمُوه فَأفْطِروُا، فَإنْ غُمَّ عَليْكم فاقْدُرُوا لَهُ

    “Apabila kalian telah melihat hilal awal Ramadhan, maka berpuasalah. Dan bila kalian telah melihat hilal awal Syawwal, maka akhirilah puasa Ramadhan kalian. Dan bila hilal tertutup awan, maka takdirkanlah harinya.”.

     

    Berdasarkan hadits ini, para ulama sepakat menyatakan bahwa parameter penentuan awal dan akhir Ramadhan adalah terlihatnya hilal. Selanjutnya muncullah pertanyaan, bagaimana jika hilal tidak terlihat karena tertutup oleh awam (misalnya) ?. Dalam konteks itulah, Rasulullah bersabda; “maka takdirkanlah harinya”.

     

    Namun pernyataan tersebut ternyata menjadi sumber pemantik adanya perbedaan pendapat dikalangan ulama, apa maksud dari kata “takdirkanlah” ?

    • Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa maksud dari kata “takdirkanlah” adalah gunakanlah perhitungan falak untuk menentukan keberadaan atau ketidakberadaan hilal itu. Dengan kata lain bahwa mulai tidaknya mereka berpuasa keesokan harinya ditentukan oleh perhitungan falak.
    • Ada juga yang berpendapat bahwa maksud dari kata “takdirkanlah” adalah sempitkanlah harinya, yaitu dengan menetapkan bilangan hari bulan tersebut adalah 29 hari. Dengan kata lain bahwa keesokan harinya mereka telah wajib berpuasa.
    • Ada juga yang berpendapat bahwa maksud dari kata “takdirkanlah” adalah genapkanlah jumlah hari pada bulan tersebut menjadi 30 hari. Dengan kata lain bahwa keesokan harinya mereka belum berpuasa.

     

    Dari ketiga pendapat tersebut, pendapat yang paling tepat in sya Allah adalah pendapat ketiga, karena adanya redaksi lain dari hadits tersebut yang secara dzhahir (kasat mata) merupakan tafsir dari hadits Abdullah bin Umar yang telah dibawakan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

    فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثَلَاثِينَ

    “Maka apabila hilal terhalang oleh awan, sempurnakanlah bilangan hari bulan itu menjadi 30 hari.”.

     

    Persoalan lain bertalian dengan masalah hilal ini adalah apakah kemunculan hilal di suatu negara adalah pendoman yang mengikat seluruh negara untuk juga memulai puasa ?

    Sebagian ulama memilih pendapat wihdatul mathaalie / mathla’ internasional (terbitnya hilal di suatu negara mengikat negara lain untuk menjadikannya sebagai patokan dalam memulai dan mengakhiri Ramadhan). Diantara dalilnya adalah keumuman seruan dalam hadits tentang hilal : “Apabila kalian telah melihat hilal awal Ramadhan, maka berpuasalah. Dan bila kalian telah melihat hilal awal Syawwal, maka akhirilah puasa Ramadhan kalian.”. Seruan tersebut sifatnya umum, olehnya dinyatakan bahwa seruan itu mengikat seluruh orang yang mengetahui kemunculan hilal di suatu negara, meski bukan negara tempatnya bermukim.

    Pendapat lainnya memilih ikhtilaaful mathaalie (awal dan akhir Ramadhan ditentukan oleh kemunculan hilal pada masing-masing negara). Diantara dalil dari pendapat ini adalah hadits Kuraib. Beliau berkata ;

    قدمت الشام، واستهل رمضان وأنا بالشام، فرأينا الهلال ليلة الجمعة. ثم قدمت المدينة في آخر الشهر. فسألني ابن عباس، ثم ذكر الهلال فقال: متى رأيتم الهلال؟. فأخبرته. فقال: لكنا رأيناه ليلة السبت، فلا نزال نصوم حتى نكمل ثلاثين أو نراه. فقلت: ألا تكتفي برؤية معاوية وصيامه؟. فقال: لا. “هكذا أمرنا رسول صلى الله عليه وسلم” رواه مسلم

    “Saya pernah datang ke negeri Syam. Ketika di Syam, kami lihat hilal Ramadhan terbit di malam Jumat. Kemudian saya tiba di Medinah pada akhir Ramadhan. Ibnu ‘Abbas bertanya kepadaku, “(Sewaktu di Syam) kapan kalian melihat hilal Ramadhan ?”. Maka sayapun mengabarinya bahwa kami melihatnya malam Jumat. Kemudian Ibnu ‘Abbas berkata; tapi kami melihatnya malam sabtu. Maka kami terus akan berpuasa hingga genap 30 hari atau kami melihat hilal (pada hari ke-29). Saya (Kuraib) berkata; “tidakkah engkau mencukupkan diri dengan apa yang telah dilihat oleh Mu’awiyah dan puasa yang mereka lakukan berdasarkan hilal yang mereka saksikan ?”. Ibnu ‘Abbas berkata; “Ia tidak. Demikian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan hal itu kepada kami.”. (HR. Muslim)

    Wallahu a’alam bis shawaab, pendapat inilah yang lebih tepat berdasarkan kejelasan hadits di atas dan pendapat ini dalam tataran aplikasi faktual, berbeda dengan pendapat pertama di mana sejarah belum pernah sekalipun mencatat bahwa kaum muslimin di seluruh belahan dunia pernah mengawali dan mengakhiri Ramadhan secara serempak.

     

    Selanjutnya, diantara hal yang disunnahkan sebelum berpuasa adalah bersantap sahur. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

    تَسَحًرُوا فَإن في السَّحُور بَرَكَةً

    “Bersantap sahurlah kalian. Sesungguhnya pada makanan dan pada pekerjaan itu terdapat keberkahan.”. Adapun berkenaan dengan waktu sahur, maka dianjurkan melaksanakannya di akhir malam. Dari Anas bin Malik, dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhuma, (Zaid) berkata;

    تَسَحَّرْنَا مَع رَسُولِ الله صلى الله عليه وسلم ثُمَّ قَامَ إلى الصَّلاةِ

    “Kami pernah sahur bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian kami melaksanakan shalat subuh.”. Anas berkata, maka sayapun bertanya kepada Zaid;

    كَمْ كَانَ بَيْنَ الأذَانِ وَالسُّحُورِ؟ قال: قَدْرُ خَمْسِينَ آيةٍ

    “Berapa kadar waktu antara waktu qamat dan sahur ?”. Zaid berkata; “Sekitar 50 ayat bacaan Al Quran”. Imam Bukhari rahimahullah di dalam shahihnya menulis sebuah judul bab;

    بَاب قدر كم بَيْنَ السُّحُورِ وَصَلَاةِ الْفَجْرِ

    “Bab tentang interval waktu antara sahur dan shalat subuh”. Ibnu Hajar rahimahullah berkata menjelaskan pengertian dari bab ini ;

    أَيِ انْتِهَاءِ السُّحُورِ وَابْتِدَاءِ الصَّلَاةِ

    “Maksudnya adalah interval dari waktu selesainya mereka bersantap sahur dan awal pelaksanaan shalat subuh.”.

     

    Diantara masalah berkaitan dengan puasa adalah seorang yang terbangun dalam keadaan junub setelah adzan subuh berkumandang , apakah sah puasa yang dilakukannya ?. Aisyah dan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anhuma berkata;

    أن رَسُولَ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يُدْركُهُ الْفَجْرُ وَهُوَ جُنٌبٌ مِنْ أهلِهِ. ثُمَّ يَغتَسِلُ وَيصُومُ

    “Pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih berada dalam keadaan junub di saat fajar telah menyingsing. Ketika itu beliau mandi junub dan berpuasa.”.Jika demikian maka dinyatakan bahwa puasa yang dilakukannya adalah sah.

     

    Hal yang membatalkan puasa adalah makan, minum dan berjima’ (bercampur dengan istri) dengan sengaja. Adapun jika seorang yang tengah berpuasa lupa, lantas ia makan dan minum; maka puasanya tetaplah dinyatakan sah karena alasan tersebut (lupa). Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

    مَنْ نَسيَ وهُوَ صَاِئمٌ فَأكَلَ أوْ شَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فإنَّمَا أطعَمَهُ الله وَسَقَاهُ

    “Barangsiapa yang lupa bahwa ia tengah puasa, lantas ia makan dan minum, maka hendaknya ia teruskan puasa yang dilakukannya itu karena sesungguhnya yang memberinya makan dan minum itu adalah Allah.”.

     

    Apakah hukum ini juga berlaku bagi mereka yang berjima’ sedang ia lupa bahwa ia tengah puasa ?

    Imam Ahmad berpendapat bahwa puasa orang ini dinyatakan batal, meski ia melakukannya karena lupa. Diantara dalil dari pendapat ini adalah ;

    • Hadits Abu Hurairah yang memuat dispensasi bagi mereka yang lupa hanya menyebutkan makan dan minum saja. Adapun aktivitas jima’, maka tidak disebutkan dalam hadits tersebut.
    • Udzur lupa yang dilekatkan pada aktivitas berjima’ adalah udzur yang sulit diterima secara logis, karena melibatkan dua pihak terhadap aktivitas yang tidak biasa.

    Adapun pendapat dari mayoritas ulama adalah puasanya tidaklah batal, sama dengan seorang yang makan dan minum dalam keadaan lupa. Diantara alasan dari pendapat ini adalah ;

    • Keumuman hadits yang berisi dispensasi bagi mereka yang melakukan hal yang membatalkan puasa karena lupa. Disepensasi ini sebagaimana berlaku untuk aktivitas berupa makan dan minum, pun seharusnya berlaku pada aktivitas jima’. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata membawakan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ;

    من أفطر في رمضان ناسياً فلا قضاء عليه ولا كفارة

    “Barangsiapa berbuka puasa pada siang hari Ramadhan karena lupa, maka tidak ada qadha dan tidak ada kaffarah atasnya.”. (HR. Hakim). Adapun bahwa aktivitas berupa jima’ ini tidak disebutkan dalam beberapa redaksi hadits, maka dinyatakan bahwa aktivitas ini telah terwakili dengan penyebutan makan dan minum karena lupa.

    • Mereka yang berpendapat bahwa jima’ karena lupa tetap membatalkan puasa, pun menyatakan bahwa ia tidak berdosa. Jika dinyatakan bahwa mereka tidak berdosa karena alasan lupa, maka seharusnya alasan ini pun boleh digunakan sebagai pendalilan bahwa puasa mereka tetap dinyatakan sah.

    Masalah lain terkait dengan puasa Ramadhan adalah hukum mereka yang berjima’ secara sengaja di siang hari Ramadhan. Berkenaan dengan masalah ini, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata;

    بَينماَ نَحن جُلُوسْ عِنْدَ النبي صلى الله عليه وسلم إذ جَاءه رَجلٌ فقَالَ: يَا رَسولَ الله، هَلَكتُ. فقال: “ما أهلَكَكَ؟ ” أو مَالكً؟. قال: وَقَعْتُ على امْرَأْتِي، وأنا صائمٌ ” وفي رواية: أصبتُ أهلي في رَمَضَانَ”. فقالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم: “هَلْ تَجِدُ رَقَبَةً تعتقها؟ ” قال: لا. قال: “فهل تستطِعُ أن تصوم شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعْين؟ ” قال: لا. قال: “فهل تجد إطعام ستين مسكيناً؟ ” قال: لا. قال: فَسَكَتَ النبي صلى الله عليه وسلم. فبينما نَحْنُ على ذلك إذْ أُتي النبي صلى الله عليه وسلم بِعَرَق فيهِ تَمرٌ”. قال: “أَيْنَ السَّائِلُ؟ ” قالَ: أنا. قال: ” خُذْ هذَا فتصَدَّق بِهِ، فقال: أعلى أفقَرَ منِّي يَا رَسُولَ الله؟ فَوَ الله مَا بَيْنَ لا بَتَيْها, يريد الحَرَّتَيْنِ , أهْلُ بَيْتٍ أفْقَر مِنْ أهل بَيْتي. فَضَحِكَ النَّبِي صلى الله عليه وسلم حتى بَدَتْ أنيابُهُ، ثمَّ قَالَ: أطْعِمْهُ أهْلَكَ

    “Ketika kami tengah duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetiba datanglah seorang laki-laki berkata, wahai Rasulullah celakalah saya !. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ada apa denganmu ?. Orang itu berkata, saya telah bercampur dengan istriku di siang hari Ramadhan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Apakah engkau mempunyai seorang budak yang bisa engkau merdekakan ?”. Orang itu berkata, “tidak”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sanggupkah engkau berpuasa selama dua bulan berturut-turut ?”. Orang itu berkata, “tidak”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah engkau sanggup memberi makan 60 orang miskin ?”. Orang itu berkata, “tidak”. Setelah itu, nabi pun diam. Lantas beberapa saat setelah itu datanglah seorang membawa hadiah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa sekeranjang kurma. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bertanya, “Kemana orang yang tadi datang bertanya ?”. Orang itu berkata, “Saya wahai Rasulullah”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ambillah kurma ini dan gunakanlah untuk membayar kaffarahmu”. Orang itu bertanya; “Apakah kurma ini akan saya berikan kepada orang yang lebih miskin dari saya ?. Demi Allah, tidak ada satupun penduduk kota ini yang lebih miskin dari saya.”. Mendengar itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersenyum lebar hingga nampak gigi beliau. Beliau bersabda, “Kalau demikian, maka berikanlah kurma ini kepada keluargamu.”. Dari hadits ini diketahui bahwa seorang yang berjima’ dengan sengaja di siang hari Ramadhan wajib membayar kaffarah untuk memutihkan dosanya itu. Kaffarah yang dimaksud adalah :

    • Memerdekakan seorang budak, jika tidak mampu maka :
    • Berpuasa 60 hari, jika tidak mampu maka :
    • Memberi makan kepada 60 orang miskin

     

    Setelah itu, adakah kewajibannya yang lain ?. Imam Malik dan Abu Hanifah berpendapat bahwa ia juga wajib berpuasa qadha mengganti hari yang ia batalkan puasanya ketika itu dengan berjima’. Bila demikian maka kewajiban seorang yang berjima’ dengan sengaja di siang hari bulan Ramadhan adalah ;

    1. Qadha puasa
    2. Membayar kaffarah berupa ;
    • Memerdekakan seorang budak, jika tidak mampu maka :
    • Berpuasa 60 hari jika tidak mampu maka :
    • Memberi makan kepada 60 orang miskin

    Dalil wajibnya membayar qadha ini adalah adalah pernyataan tambahan yang disebutkan dalam redaksi lain dari hadits Abu Hurairah ini, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah menyebutkan urutan kaffarah tersebut bersabda;

    وَصُمْ يَوْمًا مَكَانَهُ

    “Dan puasa (qadha) lah sehari yang engkau batalkan itu (dengan berjima’).”.

     

    Pertanyaan selanjutnya adalah ; apakah hukum berjima’ dengan sengaja ini sama dengan hukum mereka yang makan dan minum dengan sengaja di siang hari Ramadhan ?

    Pendapat yang terkuat dalam masalah ini adalah pendapat para ulama yang menyatakan bahwa mereka yang sengaja makan dan minum di siang hari Ramadhan tidaklah lagi memiliki kesempatan untuk menebus dosanya itu dengan membayar kaffarah. Tentu hal ini adalah sebuah hukuman yang sangat keras kepada mereka yang secara sengaja mengabaikan puasa Ramadhan dan tidak melaksanakannya. Pandangan ini didasarkan pada beberapa keterangan dari sahabat, diantaranya adalah keterangan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu;

    مَنْ أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ عِلَّةٍ لَمْ يُجْزِهِ صِيَامُ الدَّهْرِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ فَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُ وَإِنْ شَاءَ عذبه

    “Barangsiapa sengaja membatalkan sehari puasa Ramadhannya tanpa alasan yang benar dalam pandangan agama, maka tidaklah akan terbayar meski dengan berpuasa sepanjang masa hingga ia bertemu dengan Allah untuk mempertanggungjawabkan kesalahannya itu langsung kepada Allah. Jika Allah berkehendak untuk mengampuniya (maka itu adalah karunia Allah kepadanya), dan jika Allah hendak mengazabnya (maka demikianlah balasan yang seharusnya ia terima).”.

     

    Jika ditanyakan; mengapa mereka tidak diwajibkan mengqadha dan membayar kaffarah sebagaimana diwajibkan kepada mereka yang berjima’ dengan sengaja di siang hari Ramadhan ?.

    Dijawab bahwa mengqadha dan membayar kaffarah itu adalah jenis ibadah yang membutuhkan dalil khusus dalam penetapannya. Untuk pelanggaran berupa jima’ dengan sengaja di siang hari Ramadhan, telah disebutkan dalil yang menyebutkan kewajiban qadha dan membayar kaffarah secara khusus. Adapun jenis pelanggaran berupa makan dan minum secara sengaja di siang hari Ramadhan, maka tidak ada satupun keterangan khusus yang menjelaskan tentang kewajiban itu. Bahkan telah dinukil keterangan dari Ibnu Mas’ud yang juga sama dengan keterangan dari Abu Hurairah menyatakan bahwa pelanggaran semacam ini bukanlah jenis pelanggaran yang bisa ditebus dengan qadha dan kaffarah.

     

    Wallahu a’lam bis shawaab

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here