Pernahkah Kita Menyesalinya ?

    0
    151

    Adalah sahabat yang mulia bernama Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, terbiasa setiap selesai shalat jenazah beliau langsung pulang ke rumahnya (tanpa ikut mengiringi jenazah tersebut sampai ke kuburannya) dan ketika itu beliau belum pernah mendengar sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu anhu yang berbunyi :

    مَنْ شَهِدَ الْجَنَازَةَ حَتَّى يُصَلَّى عَلَيْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ، وَمَنْ شَهِدَهَا حَتَّى تُدْفَنَ فَلَهُ قِيرَاطَانِ» ، قِيلَ: وَمَا الْقِيرَاطَانِ؟ قَالَ: مِثْلُ الْجَبَلَيْنِ الْعَظِيمَيْنِ

    Artinya :”Barangsiapa yang menyasikan jenazah sampai menshalatinya maka baginya pahala satu qirath. Dan barangsiapa yang menyaksikan jenazah sampai ia dikuburkan maka baginya pahala dua qirath”. Lalu ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Apakah dua qirath tersebut?”. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : “Seperti dua buah gunung yang besar”. (H.R.Bukhari dan Muslim)

    Maka tatkala hadits tersebut di atas sampai kepada Ibnu Umar-radhiyallahu anhuma-, beliau pun menyesal sembari berkata : “Kita telah kehilangan (pahala) qirath yang banyak sekali”. (shahih Muslim, 2/ 652  Hadits Nomor  945 )

    Hadits di atas menerangkan bagamaina semangat sahabat Ibnu Umar radhiyallahu anhuma dalam mengamalkan kebaikan dan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Semangat yang menghadirkan perasaan sedih dan sesal tak terkira tatkala terlewatkan dari dirinya pahala yang besar di sisi Allah Ta’ala. Padahal ibadah yang terlewatkan adalah ibadah yang hukumnya fardhu kifayah yang tak meninggalkan dosa selama ada sebagian dari kaum muslimin yang melaksanakannya. Pun beliau tidak meninggalkan ibadah tersebut secara sengaja, namun murni karena belum sampainya hadits Abu Hurairah kepada beliau.

    Apabila sahabat saja merasa bersedih hati dengan kehilangan pahala dari ibadah-ibadah yang sifatnya sunnah ataupun fardhu kifayah, lalu bagaimana dengan mereka yang terlampau sering meremehkan dan meninggalkan ibadah-ibadahnya kepada Allah-bahkan sampai ibadah yang hukumnya wajib/fardhu ain- secara sengaja dan sadar, pernahkah hati ini merasa sedih dan menyesal karena telah terlewatkan pahala yang banyak? Ataukah hati ini sudah menjadi keras sehingga merasa biasa-biasa saja meskipun telah bermaksiat kepada Allah dengan meninggalkan ibadah-ibadah yang hukumnya wajib? Jawabannya hanya mereka dan Allah saja yang tahu.

    Semoga Allah melembutkan hati kita dan menjauhkan kita dari hati yang keras.

    Wallahua’lam

    ✍️ Penulis : Ustadz Rafael Afrianto, Lc

    Tim Rubrik Kajian Ilmiyah Al Binaa Menyapa


    Donasi Pembangunan Masjid