Home » Puasa ‘Arafah dan Perbedaan Mathla’ Hilal

Puasa ‘Arafah dan Perbedaan Mathla’ Hilal

Perbedaan mathla’ (tempat terbitnya) hilal adalah sebuah hukum alam yang pasti terjadi. Di sebuah negara, hilal mungkin telah terlihat. Namun masyarakat di belahan negara lain belum melihatnya. Perbedaan itu mungkin disebabkan oleh berbagai macam faktor, bisa jadi karena pergerakan bumi atat faktor cuaca atau yang lainnya. Olehnya itu, konsekwensi dari perbedaan tersebut adalah ketika hilal di sebuah negara telah terlihat, maka dengan itu dinyatakan masuknya bulan baru di negara itu. Adapun jika belum terlihat dengan berbagai faktor yang tadi telah disebutkan maka dinyatakan bahwa jumlah hari dalam bulan berjalan disempurnakan menjadi 30 hari (bulan baru belum masuk).

Demikianlah ketentuan umum ini berlaku untuk setiap bulan, dan tidak ada perbedaan antara bulan Ramadhan dan bulah Dzulhijjah. Adapun hari Arafah di mana orang-orang melaksanakan wuquf di tempat itu, meski hari tersebut adalah hari yang telah tetap, tetapi hal itu berlaku khusus bagi mereka yang berada di tempat itu dan menyaksikan hilal mengawali bulan itu. Berbeda dengan mereka yang berada di belahan negara lain, maka hukum-hukum agama terkait dengan hari itu kembali kepada ru’yah hilal di tempat mereka masing-masing. Mereka yang berpuasa di hari ‘Arafah sesuai dengan ru’yah di tempatnya, akanlah mendapat pahala sebagaimana yang dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu bahwa puasa di hari itu akan menghapuskan dosa selama dua tahun, dosa tahun lalu dan dosa tahun yang akan datang.

Menguatkan hal itu dinyatakan bahwa perbedaan waktu-waktu shalat didasarkan pada perbedaan falakiyyah adalah sebuah hal yang telah disepakati dan tidak dipungkiri. Masing-masing negara memiliki waktu shalat yang disesuaikan dengan perbedaan perputaran waktu itu; kapan waktu zawal, kapan waktu terbit dan terbenamnnya matahari, seluruhnya disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku di negara masing-masing. Maka bila ketentuan ini berlaku untuk shalat yang merupakan ibadah termulia bagi seorang muslim, demikianlah juga hal ini tentunya berlaku bagi jenis ibadah lainnya, termasuk puasa. Bisa saja orang-orang di sebuah negara melaksanakan puasa ‘Arafah pada hari Sabtu, tetapi orang-orang di negara lainnya melaksanakannya di hari Jum’at; tergantung pada tetapan ru’yah di negara mereka masing-masing. Dan rahmat Allah akanlah meliputi seluruhya.

Hal lain yang juga menguatkan adalah keumuman hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

‌صَوْمُكُمْ ‌يَوْمَ ‌تَصُومُونَ وَفِطْرُكُمْ يَوْمَ تُفْطِرُونَ

“Hari berpuasa kalian adalah hari di mana orang-orang berpuasa dan hari I’ed (berhari raya) kalian adalah hari di mana orang-orang berhari raya.” (HR. Daraquthni). Diantara makna yang dipetik dari hadits ini adalah bahwa perbedaan waktu berpuasa dan waktu berhari raya adalah hal yang diakomodir dalam agama. Maka sebagaimana ketentuan itu berlaku untuk puasa Ramadhan dan hari I’edul fithri, maka demikianlah juga seharusnya berlaku untuk hari I’edul Adha dan puasa ‘Arafah sebelumnya. Terlebih bahwa dalam dalam redaksi lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

‌وَأَضْحَاكُمْ ‌يَوْمَ ‌تُضَحُّونَ

“Dan hari menyembelih hewan kurban kalian adalah hari di mana kalian (orang-orang di negara kalian) menyembelih kurban” (HR. Abu Daud)

Hal ketiga yang juga dapat menguatkan pandangan ini adalah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam;

‌صَوْمِ ‌يَوْمِ ‌عَرَفَةَ: إِنِّي لَأَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ، وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ

“Puasa hari ‘Arafah adalah ibadah yang dapat menghapuskan dosa dua tahun, setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR. Abu Daud). Penggunaan diksi “puasa hari ‘Arafah” dalam hadits ini mungkin ditafsirkan dalam dua penafsiran, yaitu;

  1. Penafsirkan yang mengaitkan penggunaan diksi itu dengan mengacu pada tempat pelaksanaan wuquf di hari ‘Arafah.
  2. Penafsiran yang mengaitkan penggunaan diksi itu dengan mengacu pada waktu pelaksanaan wuquf di ‘Arafah, yaitu pada hari ke-9 di bulan Dzulhijjah.

Manakah dari kedua penafsiran itu yang lebih kuat? Dalam pandangan ulama yang mengakomodir adanya perbedaan mathla’ dalam pelaksanaan puasa ‘Arafah, penafsiran yang lebih kuat adalah penafsiran yang mengaitkan penggunaan diksi itu dengan mengacu pada waktu pelaksanaan wuquf di ‘Arafah. Menurut mereka penafsiran yang mengaitkan penggunaan diksi itu dengan mengacu pada tempat pelaksanaan wukuf adalah penafsiran yang kurang tepat. Akan menjadi rancu jika suatu saat ditakdirkan bahwa karena sebab tertentu pelaksanaan wukuf di tempat itu (‘Arafah) ditiadakan; adakah peniadaan ibadah wuquf itu pada tahun tersebut juga akan berimplikasi pada syariat melaksanakan puasa ‘Arafah? Hal yang ditanyakan tentu bukan masalah bagi mereka yang mengakomodir adanya perbedaan mathla’ dalam pelaksanaan puasa ‘Arafah, karena yang menjadi acuan mereka bukan pada tempat ibadah wuquf itu dilaksanakan, tetapi pada waktu ibadah wuquf itu dilaksanakan, yaitu pada hari ke-9 di bulan Dzulhijjah yang disesuaikan dengan mathla’ negara masing-masing. Wallahu a’lam bis shawaab

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top
%d bloggers like this: