Puasa Asyuuura

    0
    138

    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

    وصوم يوم عاشوراء إني أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله

    “Puasa pada hari Asyuraa akan menghapus dosa setahun yang lalu.”. (HR. Abu Daud)

     

    Jenis ibadah yang sangat ditekankan dalam bulan Muharram adalah puasa Asyuura. Puasa Asyuura memiliki empat tingkatan, yaitu;

    1. Berpuasa tiga hari berturut-turut yaitu pada hari ke-9, 10 dan ke 11 dari bulan Muharram.

    Demikian ini tingkatan terbaik dari puasa Asyuura, berdasarkan beberapa alasan;

    1. Keumuman keterangan yang menyatakan bahwa semulia-mulia puasa yang dilakukan oleh seorang muslim setelah Ramadhan yaitu puasa yang dilakukannya pada bulan Allah, yaitu bulan Muharram.

    2. Keumuman keterangan yang memerintahkan berpuasa sebanyak tiga hari dalam setiap bulan. Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu- berkata;

    أَوْصَانِي خَلِيلِي بِثَلَاثٍ لَا أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَصَلَاةِ الضُّحَى وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ

    “Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- telah berwasiat dengan tiga wasiat yang tidak akan pernah saya tinggalkan hingga wafatku, yaitu; berpuasa tiga hari dalam setiap bulan, shalat dhuha dan shalat witir sebelum tidur.”[HR. Bukhari] .

    3. Keumuman keterangan yang memerintahkan kaum muslimin untuk melakukan puasa yang berbeda dengan puasanya orang Yahudi di bulan Muharram, yang hanya berpuasa pada hari ke-10 saja. Abdullah bin Abbas –radhiyallahu ‘anhuma- berkata bahwa orang-orang bertanya ketika Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- berpuasa pada hari Asyuura dan memerintahkan mereka untuk –juga- melaksanakan puasa itu;

    يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ ». قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-

    “Wahai Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-, sesungguhnya hari itu adalah hari besarnya orang-orang Yahudi dan Nashrani. Maka Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda; kalau demikian, tahun depan saya akan –juga- melaksanakan puasa pada hari ke-9. Namun ternyata Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- telah wafat belum sempat mendapati tahun itu.”[HR. Abu Daud] .

    1. Berpuasa pada hari ke-9 dan 10 dari bulan Muharram

    Berdasarkan keterangan-keterangan yang shahih berisi keinginan dan perintah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- untuk mengiringi puasa pada hari ke-10 di bulan Muharram dengan puasa pada hari sebelumnya untuk menyelisihi kebiasaan orang-orang Yahudi yang hanya berpuasa pada hari ke-10 saja.

    1. Berpuasa pada hari ke-10 dan ke-11

    Berdasarkan keterangan-keterangan umum yang berisi perintah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- untuk menyelisihi kebiasaan orang-orang Yahudi yang hanya berpuasa pada hari ke-10 saja.

    Hanya saja, tidak ada keterangan shahih yang berisi perintah untuk melakukan puasa pada ke-2 hari tersebut. Ibnu Abbas –radhiyallahu ‘anhuma- meriwayatkan hadits marfu’;

    صوموا يوم عاشوراء و خالفوا اليهود صوموا قبله يوما أو بعده يوما

    “Berpuasalah pada hari Asyura dan selisihilah Yahudi; berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.”. Hadits ini diriwayatkan diantaranya oleh imam Ibnu Khuzaimah dan imam Ahmad, namun didhaifkan oleh syaikh nashiruddin al Baani dan syaikh Syuaib al Arnauuth. Demikian juga redaksi lain dari hadits ini yang menyatakan;

    صوموا قبله يوما و بعده يوما

    “… Berpuasalah sehari sebelum dan sesudahnya.” , pun adalah riwayat yang lemah disandarkan kepada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-, karena diantara perawinya terdapat perawi lemah bernama Muhammad bin Abdul Rahman ibnu Abi Laila dan Daud bin Ali .

    Hanya saja hadits ini dinyatakan shahih secara mauquuf dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

    1. Berpuasa hanya pada hari ke-10

    Sebagian ulama menyatakan bahwa hukum berpuasa pada hari tersebut adalah makruh karena adanya persamaan antaranya dengan puasa orang-orang Yahudi. Namun demikian, yang lebih tepat adalah pendapat yang menyatakan bahwa hukum melaksanaannya adalah makruh bagi orang-orang yang sanggup mengiringinya dengan puasa sehari sebelum atau sehari setelahnya.

    Demikian sedikit penjelasan terkait dengan puasa Asyuura, dan semoga Allah memudahkan kita semua dalam melakukan amalan-amalan shaleh.

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here