Rapatkan Shaf Kalian

    0
    221

    Imam Bukhari rahimahullah berkata :

    باب إلزاق المنكب بالمنكب والقدم بالقدم في الصف وقال النعمان بن بشير: رأيت الرجل منا يلزق كعبه بكعب صاحبه

    حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ خَالِدٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ، عَنْ حُمَيْدٍ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ، فَإِنِّي أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِي، وَكَانَ أَحَدُنَا يُلْزِقُ مَنْكِبَهُ بِمَنْكِبِ صَاحِبِهِ، وَقَدَمَهُ بِقَدَمِهِ

    Bab (anjuran untuk) saling menempelkan pundak dan kaki dalam shaf (ketika shalat berjama’ah). Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu berkata; saya menyaksikan salah seorang dari kami menempelkan pundaknya ke pundak saudaranya.

    ‘Amr bin Khalid telah mengabari kami, (Beliau berkata; ) Zuhair telah mengabari kami, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda; “Rapatkan shaf-shaf kalian, sesungguhnya saya melihat kalian dari belakang punggungku. (Ketika itu -kata Anas radhiyallahu ‘anhu-) salah seorang dari kami menempelkan pundaknya ke pundak saudaranya, dan menempelkan kakinya ke kaki saudaranya.

     

    Penjelasan :

    Satu diantara kewajiban seorang dalam shalat berjama’ah adalah merapatkan shaf dan tidak membiarkan adanya ruang renggang antara satu jama’ah dengan jama’ah lainnya.

    Demikianlah kewajiban ini adalah merupakan sesuatu yang sangat dijaga oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Dan satu diantara bentuk kesungguhan mereka dalam menjaga kewajiban itu adalah dengan menempelkan kaki dengan kaki, serta bahu dengan bahu ketika shalat berjama’ah.

    Namun demikian, hal yang perlu diingat bahwa substansi dari perintah merapatkan shaf itu adalah agar tidak ada ruang (celah) yang kosong antara satu jama’ah dengan jama’ah lainnya, karena adanya ruang (celah) yang kosong itu -sebagaimana disebutkan dalam hadits- akan dimanfaatkan oleh syaithan untuk mengganggu para jama’ah dalam melaksanakan shalatnya. Olehnya, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para sahabatnya untuk merapatkan shaf, Beliau bersabda;

    وَلَا تَذَرُوا فُرُجَاتٍ لِلشَّيْطَانِ

    “Dan janganlah kalian membiarkan adanya celah bagi syaithan.”. (HR. Ahmad)

    Mengetahui hal tersebut maka jika tidak lagi ada celah yang memisahkan antara dua orang yang berdampingan dalam satu shaf shalat, dengan itu dinyatakan bahwa shaf mereka telah rapat, meski antara satu orang dengan jama’ah yang disebelahnya tidak menempelkan kaki dengan kaki.

    Dan jika para jama’ah saling menempelkan kaki dengan kaki serta pundak dengan pundak; maka tentu mereka telah melakukan hal yang lebih baik lagi dan lebih sempurna, sebagaimana deskripsi para sahabat tentang shaf mereka ketika shalat.

     

    Beberapa kekeliruan :

    Bila hal ini telah dipahami, maka diantara kekeliuran dalam praktek merapatkan shaf ini adalah :

    1. Shalat dengan shaf yang renggang, masing-masing jama’ah berpatokan pada batas sajadah atau karpet shalatnya.
    2. Memaksakan diri menempelkan kaki ke kaki jama’ah yang disampingnya meski hal tersebut akan mengganggu jama’ah itu.

    Jika ada seorang yang merasa tidak nyaman jika harus saling bersentuhan kaki, maka tidaklah boleh seorang memaksakan diri harus menyentuhkan kakinya ke kaki saudaranya itu. Sebabnya adalah karena substansi dari perintah merapatkan shaf itu adalah agar tidak ada ruang (celah) yang kosong antara satu jama’ah dengan jama’ah lainnya. Maka jika substansi itu telah tercapai meski tidak saling menempelkan kaki dengan kaki, ketika itu dinyatakan bahwa mereka telah menunaikan kewajibannya. Dan menjaga kekhusyuan serta kenyamanan setiap individu dalam shalat berjama’ah, juga adalah merupakan kewajiban yang harus dijaga dan tidak boleh dirusak.

    1. Mengingkari anjuran untuk saling menempelkan kaki dan pundak ketika shalat berjama’ah.

    Diantara pemicu timbulnya pengingkaran ini adalah adanya fenomena orang-orang yang memaksakan diri menyentuhkan kakinya dengan kaki saudaranya meski hal tersebut akan mengganggu kenyamanan saudaranya itu (sebagaimana disebutkan pada point sebelumnya).

    Pengingkaran demikian adalah sebuah kekeliruan karena menyalahi makna dzhahir dari deskripsi yang disampaikan oleh sahabat tentang keadaan shaf mereka ketika shalat berjama’ah. Dan tidak boleh seorang mengingkari sunnah karena kekeliruan orang lain dalam penerapannya.

     

    Komentar dan Tanggapan :

    Jika dikatakan :

    Deskripsi yang dinyatakan oleh para sahabat tentang shaf shalat mereka, maknanya tidaklah benar dipahami secara tekstual. Makna yang benar dari deskripsi tersebut adalah kesungguhan (mubalaghah) mereka dalam merapatkan shaf.

    Tanggapan :

    Pernyataan tersebut justru menguatkan anjuran untuk saling merapatkan kaki dan pundak ketika shalat berjama’ah. Karena merapatkan keduanya adalah bentuk nyata dari kesungguhan mereka dalam melaksanakan perintah merapatkan shaf.

    Jika tidak dengan menyentuhkan keduanya, maka dengan bagaimana lagi mereka dapat menunjukkan kesungguhan (mubalaghah) itu ?

     

    Jika dikatakan :

    Adakah penjelasan ulama yang menyatakan anjuran untuk saling melekatkan kaki dan pundak ketika shalat berjama’ah ?

    Tanggapan :

    Diantara ulama yang menjelaskan itu adalah imam Bukhari, yang mencantumkan judul bab dalam “shahih” beliau, yaitu ;

    باب إلزاق المنكب بالمنكب والقدم بالقدم في الصف وقال النعمان بن بشير: رأيت الرجل منا يلزق كعبه بكعب صاحبه

    “Bab (anjuran untuk) saling menempelkan pundak dan kaki dalam shaf (ketika shalat berjama’ah). Nu’man bin Basyir berkata; saya menyaksikan salah seorang dari kami menempelkan pundaknya ke pundak saudaranya.”.

    Judul bab yang mengiringi hadits Anas yang disampaikan di awal bahasan ini menunjukkan pemahaman Beliau terhadap hadits Anas yang dibawakannya itu.

     

    Jika dikatakan :

    Bagaimana dengan pernyataan Al Hafidz Ibnu hajar dalam menjelaskan judul bab ini, Beliau berkata;

    الْمُرَادُ بِذَلِكَ الْمُبَالَغَةُ فِي تَعْدِيلِ الصَّفِّ وَسَدِّ خَلَلِهِ

    “Maksud dari judul bab ini adalah anjuran untuk bersungguh-sungguh dalam meluruskan dan merapatkan/mengisi shaf yang kosong.” ?

    Tanggapan :

    Pernyataan beliau ini tidak sama sekali berisi penolakan terhadap penafsiran secara tekstual dari judul bab yang dinyatakan oleh imam Bukhari rahimahullah.

    Bahkan sangat mungkin dinyatakan bahwa bentuk maksimal dari pengamalan sunnah ini adalah dengan saling menempelkan pundak dan kaki ketika shalat berjama’ah.

     

    Kesimpulan
    1. Merapatkan shaf ketika shalat adalah satu diantara kewajiban shalat.
    2. Maksud dari merapatkan shaf adalah tidak membiarkan adanya celah antara satu jama’ah dengan jama’ah lain dalam satu shaf
    3. Keadaan sempurna dari merapatkan shaf adalah dengan saling menempelkan bahu dan kaki dalam satu shaf ketika shalat berjama’ah

     

    Wallahu a’lam bis shawaab

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here