Pahamilah Ibadah Secara Benar

Ibadah dalam terminologi Islam memiliki pengertian yang menyeluruh terhadap seluruh aspek kehidupan manusia dari awal hingga akhir. Cakupan yang menyeluruh tersebut dinyatakan oleh Allah melalui firman Nya ketika menjelaskan tentang tujuan keberadaan mereka di muka bumi ini. Allah berfirman ;

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah (menjadi hamba atas Ku).”. (Ad Dzariyaat; 56)

Olehnya seluruh aspek yang melingkupi kegiatan manusia sesungguhnya masuk dalam kerangka ibadah itu; baik kegiatan mereka yang bersifat fisik, maupun kegiatan mereka yang bersifat non fisik (keyakinan, cinta, marah, dan yang semisalnya). Hal demikianlah yang dinyatakan oleh beberapa ulama dalam defenisi mereka terhadap kata “ibadah” tersebut. Imam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata tentang ibadah :

اسم جامع لكل ما يحبه الله ويرضاه من الأقوال والأعمال الباطنة والظاهرة

“(Ibadah itu adalah) Nama dari seluruh hal yang mencakup segala yang disenangi Allah dan diridhainya, baik berupa perkataan atau perbuatan, baik yang bersifat non fisik (aktivitas hati) maupun yang bersifat fisik.”. Ustadz Sayyid Quthb rahimahullah berkata;

ليس في التصور الإسلامي نشاط إنساني لا ينطبق عليه معنى العبادة، أو لا يطلب فيه تحقيق هذا الوصف، والمنهج الإسلامي كله غايته تحقيق معنى العبادة أولا وأخيرا

“Tidak satupun aktivitas manusia dalam tashawwur (pandangan) Islam yang lepas dari konteks ibadah, atau bahwa tidak dituntut dari aktivitas tersebut wujudnya sifat ini (ibadah) pada aktivitas itu. Tujuan dari manhaj (syariat) Islam secara menyeluruh dari awal hingga akhir adalah mewujudkan makna ibadah ini (dalam seluruh aspek kehidupan).”.

Manusia dan iradah yang dimilikinya

Seluruh makhluk di alam raya ini adalah hamba Allah. Tidak satupun makhluk melainkan dia harus tunduk terhadap seluruh aturan Allah. Namun ada hal berbeda terkait dengan ketundukan yang lekat pada jin dan manusia, dan ketundukan yang lekat pada makhluk selainnya. Bila ketundukan yang lekat pada selain jin dan manusia adalah ketundukan yang bersifat mutlak, namun ketundukan yang lekat pada jin dan manusia adalah ketundukan yang didasari pada iradah (kemauan) yang Allah ciptakan sebagai sifat yang lekat pada diri mereka. Sebagai contoh adalah malaikat. Mereka adalah makhluk yang Allah ciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah dan Allah tidak menciptakan bagi mereka sifat “iradah” (kemauan). Allah berfirman;

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman jagalah diri-diri kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. (Neraka itu) dijaga oleh para malaikat yang kasar dan kuat. Mereka tidak ingkar terhadap apapun perintah Allah, namun mereka akan senantiasa melakukan seluruh yang diperintahkan kepadanya.”. (At Tahriim; 6)

Demikian juga ketika Allah berfirman tentang langit dan bumi;

ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْأَرْضِ ائْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ

“Kemudian Dia menuju ke langit dan langit itu masih berupa asap, lalu Dia berfirman kepadanya dan kepada bumi, “Datanglah kamu berdua menurut perintah-Ku dengan patuh atau terpaksa.”. Keduanya menjawab, “Kami datang dengan patuh.” (Fusshilat; 11)

Dari kedua ayat ini -diantaranya- dipahami bahwa ketundukan yang lekat pada makhluk selain jin dan manusia adalah ketundukan yang sifatnya mutlak dan mereka tidak dibekali dengan iradah untuk dapat menentukan pilihannya. Hal demikian berbeda dengan jin dan manusia. Allah berfirman tentang mereka ;

إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Sesungguhnya orang-orang yang sombong dan tidak mau beribadah kepada-Ku, kelak mereka akan masuk ke dalam neraka jahannam dalam keadaan terhina.” (Ghaafir; 60)

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ

“Sesungguhnya jika dikatakan kepada mereka (orang-orang kafir) bahwa tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah, niscaya mereka akan sombong.” (As Shaaffaat; 35)

Dari kedua ayat ini dipahami bahwa manusia adalah makhluk yang dibekali dengan iradah (kemauan). Dengan iradah itu mereka dapat memilih untuk menjadi hamba yang tunduk atau menjadi hamba yang ingkar dan sombong. Dan dengan bekal itu pula sangat mungkin bagi mereka untuk menjadikan seluruh hidupnya sebagai sesuatu yang bernilai ibadah atau menjadikannya sebagai sesuatu yang tidak bernilai ibadah. Satu diantara contoh kongkritnya adalah aktivitas berhubungan suami istri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

(وفي بضع أحدكم صدقة) قالوا: يا رسول الله أيأتي أحدنا شهوته ويكون له فيها أجر؟ قال: أرأيتم لو وضعها في حرام أكان عليه وزر؟ فكذلك إذا وضعها في الحلال كان له أجر

“Dan ketika kalian berhubungan badan dengan istri kalian, berarti kalian telah bersedekah kepadanya. Para sahabat bertanya, bagaimana seorang yang berhubungan badan dengan istrinya dinyatakan berhak mendapat pahala ?. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; bukankah ia berhak menerima hukuman (dinyatakan berdosa) jika ia menyalurkan hasratnya itu kepada selain istrinya ?. Maka demikianlah juga jika ia menyalurkannya pada jalan yang benar, niscaya ia berhak mendapat pahala.”.

Pergeseran nilai ibadah kepada adat dan rutinitas

Ibadah dalam keseharian kaum muslimin di masa-masa keemasan Islam sangat lekat mewarnai seluruh aktivitas mereka. Tidak satupun aktivitas yang mereka jalani melainkan mereka senantiasa menghadirkan rasa bahwa aktivitas yang dilakukannya itu adalah dalam rangka ibadah kepada Allah. Dari aktivitas itu mereka mengharapkan ridha Allah.

Namun semakin jauh kaum muslimin dari zaman kenabian dan semakin besar fitnah yang datang menerjang, semakin itu pula tingkat keimanan mereka menjadi lemah, dan pada akhirnya juga memudarkan kesadaran mereka untuk senantiasa menghadirkan niat ibadah dalam seluruh aktivitas kesehariannya.

Orang-orang Islam kebanyakan mulai menyangka bahwa mereka dapat menjadi muslim yang sempurna ketika telah melaksanakan ritual-ritual agama secara rutin sesuai dengan tuntunan Allah. Meski di sisi lain, dalam mu’amalah keduniaan, mereka ternyata berkiblat pada aturan dan tuntunan Tuhan selain Allah, dan mengabaikan aturan-aturan Allah dalam masalah-masalah tersebut. Mereka membagi aktivitas harian mereka menjadi dua bagian; aktivitas yang bersifat ritual peribadatan dan aktivitas yang bersifat keduniaan. Kiblat mereka dalam masalah pertama adalah agama Allah. Namun untuk persoalan keduniaan, mereka menjadikan aturan selain aturan Allah sebagai pedoman dan tuntunannya. Mereka lupa akan tujuan awal penciptaan mereka di muka bumi ini. Mereka lupa bahwa seharusnya tidak satupun dari aktivitas hidup yang dilakukannya melainkan hendaknya terkoneksi dengan tujuan awal keberadaan mereka itu. Mereka lupa bahwa untuk tetap terkoneksi dengan tujuan awal tersebut mereka tidak boleh memilah antara ritual agama dan persoalan keduniaan, karena Allah memerintahkan suluruh kaum muslimin untuk menjadi muslim yang paripurna (kaaffah) dengan menjadikan seluruh aturan Allah sebagai aturan tertinggi dalam kehidupannya.

Nilai sakral itupun memudar

Di saat orang-orang telah memisahkan ibadah dari aktivitas keduniaan, ketika itu nilai sakral dari ibadah sedikit demi sedikit menjadi pudar. Bahkan dalam hal ritual agama sekalipun, orang-orang tidak lagi memperhatikan esensi dari perintah yang ada dalam ritual-ritual tersebut. Orang-orang melaksanakan ritual-ritual itu hanya sekedar melepaskan diri dari kewajibannya, tanpa mau memahami ruh yang hendak dihidupkan dari serangkaian ritual yang mereka jalankan itu.

Dahulu ketika seorang mengucapkan kalimat tauhid, ia mengucapkannya betul-betul dalam keadaan sadar akan konsukwensi dari persaksian yang ia nyatakan dengan lisannya itu. Namun sekarang, begitu banyak orang yang membaca kalimat ini berkali-kali dalam wiridnya, tetapi faktanya bahwa kalimat ini tidak memberi bekas yang signifikan dalam kehidupannya. Belum lagi bahwa ternyata tidak sedikit dari mereka yang tidak mengetahui terjemahan dari kalimat ini, terlebih untuk memahaminya.

Demikianlah dengan Al Quran, tidak sedikit dari mereka yang sudah merasa sangat cukup ketika telah berhasil mengkhatamkan Al Quran berkali-kali dalam sebulan. Namun ia tidak berupaya mempelajari kandungan, hikmah dan hukum-hukumnya.

Shalat yang sedianya menjadi sarana bagi orang muslim untuk melepaskan diri dari perbuatan keji dan munkar, ternyata dilakukan dengan sangat seadanya, tanpa paham esensinya, tanpa tahu arti dari dzikir-dzikir yang diucapkannya dalam shalat, tanpa menghadirkan rasa khusyu, hanya sekedar gerakan yang hampa dari nilai, tidak ubahnya dengan ritual senam yang dilakukan untuk kebugaran.

Zakat yang wajib dikeluarkan untuk mensucikan harta seorang muslim, tidak lagi dimaknai sebagai sebuah kebutuhan. Namun seakan kewajiban itu menempati posisi yang sama dengan kewajibannya membayar berbagai jenis pajak yang dibebankan kepadanya oleh negara. Bahkan tidak sedikit orang yang lebih memprioritaskan melunasi berbagai jenis pajak itu daripada melunasi kewajibannya membayar zakat.

Bulan Ramadhan, yang sedianya dijadikan sebagai bulan memperbanyak amal shaleh, dan melatih diri untuk dapat sabar, menahan diri tidak makan dan tidak minum; faktanya dijadikan ajang wisata kuliner, begadang dan bersenang-senang menghabiskan waktu di malam hari. Waktu jelang buka puasa dan sahur pun habis dengan berbagai tontonan yang justru bertolakbelakang dengan nilai yang menjadi tujuan dari kewajian berpuasa.

Haji, betapa banyak laki-laki yang bertanya tentang hukum memakai jam tangan ketika tengah melakukan ihram. Mereka sangat khawatir melakukan pelanggaran haji ketika itu. Namun ternyata, semenjak ia menikah ia tidak pernah lepas dari cincin emas yang melingkar di jarinya. Mereka bahkan sangat khawatir terhadap sehelai rambut yang jatuh. Namun dalam kesehariannya, ia bagaikan penguasa yang bebas untuk melakukan apa saja dalam urusan keduniaan tanpa ada aturan yang mengikat, dan tanpa ada beban bahwa dirinya telah melakukan pelanggaran agama.

Demikianlah beberapa realita yang ada ditengah masyarakat Islam, sedikitnya memberi gambaran betapa lebar kesenjangan antara aktivitas manusia dengan nilai ibadah yang seharusnya selalu lekat dalam seluruh aktivitas itu. Sekaligus memberi gambaran betapa nilai sakral dari ibadah tidak lagi dominan dalam sebuah aktivitas bahkan aktivitas keagamaan sekalipun, dan telah tergantikan menjadi sebuah aktivitas yang dilakukan hanya sebagai rutinitas (adat keseharian) belaka.

Mengapa hal tersebut terjadi ?

Setidaknya ada dua hal pokok yang melatarbelakanginya;

  1. Kesalahapahaman manusia tentang tujuan keberadaannya dalam kehidupan ini. Mereka menganggap bahwa tujuan hidup itu adalah untuk bahagia dan sukses. Dan tolak ukur kebahagiaan dan kesuksesan itu hanya mereka lihat dari sudut pandang keduniaan. Mereka lupa bahwa tujuan hidup mereka adalah untuk mengabdi dan menghambakan diri (beribadah dengan pengertian yang menyeluruh) kepada Allah.
  2. Pemahaman keliru tentang ibadah bahwa ritual-ritual yang dilakukan adalah tujuan dan mereka lupa bahwa ritual-ritual tersebut sesungguhnya adalah sarana untuk sampai kepada tujuan yang dikehendaki agama dari kewajiban melaksanakan ritual-ritual itu. Mereka menganggap bahwa ritual-ritual yang mereka lakukan itu tidak sama sekali memiliki keterkaitan dengan nilai yang hendak ditanamkan dalam kehidupan melalui pelaksanaan ritual tersebut.
Wajib dipahami

Tujuan besar dari syari’at agama tergambar lewat firman Nya; “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka menjadi hamba-Ku (beribadah kepada Ku).”.

Untuk sampai kepada tujuan itu, maka Allah tetapkan beberapa ritual keagamaan yang wajib dijalankan secara benar.

Rangkaian ritual agama yang Allah perintahkan ibaratnya adalah sama dengan rumah-rumah sakit dan sekolah-sekolah. Tujuannya adalah menciptakan masyarakat yang cerdas, sehat jasmani dan rohani. Namun adakah tujuan ini dapat tercapai hanya dengan menjamurnya bangunan fisik dari sekolah dan rumah sakit-rumah sakit ?. Tujuan tersebut tentu tidak akan tercapai jika orang-orang justru memandang bahwa keberadaan bagunan fisik dari rumah sakit-rumah sakit dan sekolah-sekolah itu adalah tujuan. Kemudian mereka lupa bahwa bangunan-bangunan tersebut sesungguhnya adalah sarana yang tidak akan menyampaikan siapapun kepada tujuan tertentu kecuali dengan peran serta orang-orang yang menggerakkannya, baik sebagai pasien dan dokter, atau sebagai murid dan guru. Sang dokter dan guru menjalankan profesinya dengan amanah. Demikian juga sang pasien dan murid menjalankan arahan secara tepat.

Begitulah sejumlah ritual agama yang Allah perintahkan. Tujuan umum dari seluruh ritual itu adalah satu yaitu mencetak manusia yang mampu mewujudkan tujuan diciptakannya mereka oleh Allah, yaitu untuk beribadah. Ritual-ritual agama yang Allah perintahkan adalah sarana bagi seorang untuk dapat sampai kepada tujuan itu. Dan sarana itu tidak akan berfungsi jika tidak ada upaya dari orang-orang untuk memainkan dan memaksimalkan fungsi dari sarana itu. Allah berfirman;

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan sebuah kaum hingga mereka merubah keadaan mereka sendiri.”.

Saat ibadah hanya sebagai rutinitas

Ketika itu nilai sakral dari ibadah akan memudar atau bahkan hilang sama sekali;

Ada kelompok yang senantiasa menjaga ritual-ritual itu, namun mereka melaksanakannya hanya sebatas kewaiban rutinitas yang kadang-kadang atau sebagian besarnya tidak mereka pahami esensinya.

Ada kelompok yang betul-betul telah lepas kontrol dan memandang syariat agama adalah bentuk pengekangan terhadap kebebasan individu dan kebebasan masyarakat.

Olehnya sudah saatnya untuk mengembalikan pemahaman “ibadah” secara utuh kepada masyarakat agar mereka tidak terjebak dalam kejumudan rutinitas, yang pada akhirnya sangat berpotensi menjadikan mereka sebagai orang-orang yang lepas kontrol -wal ‘iyaadzu billah-.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here