“Saya Merasa Benar dan Selain Saya Adalah Salah”

Banarkah premis yang dibangun sebagaimana dinyatakan dalam judul tulisan ini? Untuk membuktikannya, silahkan mencermati uraian berikut!

*) Menurut anda,

  • Jika ditanyakan kepada orang Kristen, mengapa mereka memilih Kristen dan tidak memilih Islam?
  • Jika ditanyakan kepada orang Yahudi, mengapa mereka memilih Yahudi dan tidak memilih Islam?
  • Jika ditanyakan kepada orang Hindu, mengapa mereka memilih Hindu dan tidak memilih Islam?

Jawaban yang diprediksi mengemuka adalah “Saya yakin agama saya benar dan bukan selainnya”.

*) Ketika Allah berfirman dalam surah Al Kafirun;

قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡكَٰفِرُونَ. لَآ أَعۡبُدُ مَا تَعۡبُدُونَ. وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ. وَلَآ أَنَا۠ عَابِدٞ مَّا عَبَدتُّمۡ. وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ. لَكُمۡ دِينُكُمۡ وَلِيَ دِينِ

Katakanlah (Muhammad), “Wahai orang-orang kafir! Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah, dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” (Al Kaafirun; 1-6).  Dalam surah tersebut ada dua kubu yang menjadi objek berita, yaitu kubu muslim dan kubu selainnya (kafir).  Mencermati jawaban yang diprediksi mengemuka pada tiga pertanyaan sebelumnya, salahkah jika seorang muslim yang ditanya, “mengapa anda memilih Islam dan bukan agama selainnya?” menjawab; “Saya memilih Islam karena saya yakin agama saya benar dan bukan selainnya”?

*) Dalam ayat lain, Allah berfirman:

لَآ إِكۡرَاهَ فِي ٱلدِّينِۖ قَد تَّبَيَّنَ ٱلرُّشۡدُ مِنَ ٱلۡغَيِّۚ فَمَن يَكۡفُرۡ ‌بِٱلطَّٰغُوتِ وَيُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسۡتَمۡسَكَ بِٱلۡعُرۡوَةِ ٱلۡوُثۡقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَهَاۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ 

“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (Al Baqarah; 256). Dalam ayat ini, kembali diulas dua kubu yang berbeda;

  1. kubu yang mengikuti petunjuk (ar rusyd) yaitu mereka yang beriman kepada Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang disembahnya nya
  2. dan kubu yang mengikuti jalan kesesatan (al ghay) yaitu mereka yang beriman kepada selain Allah sebagai sembahannya.

Sebagai muslim, jika ditanya; “Mengapa anda  memilih Islam dan bukan agama selainnya?”. Apa kiranya jawaban anda?. Lantas jika jawabannya adalah, “Saya memilih Islam karena saya yakin agama itulah yang benar mengikuti petunjuk dan bukan selainnya yang menapaki jalan-jalan kesesatan”; adakah jawaban demikian adalah salah?

*) Dalam doa yang masyhur dikalangan salaf dinyatakan;

اللَّهُمَّ أَرِنَا ‌الْحَقَّ ‌حَقًّا وَأَلْهِمْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا، وَأَلْهِمْنَا اجْتِنَابَهُ

“Ya Allah tunjukilah kami kebenaran itu sebagai sebuah kebenaran dan berilah kekuatan kepada kami untuk mengikutinya. Dan perlihatkanlah kepada kami sebuah kebathilah itu sebagai sebuah kebathilan, serta berilah kami kekuatan untuk menjauhinya.”. Lagi-lagi dalam doa ini dipertemukan dua kubu yang berbeda secara diametral, yaitu kubu Al haq (benar) dan kubu Al bathil (salah dan menyimpang). Jika demikian apa pilihan anda dan mengapa?. Tentu jawabannya tidaklah akan bergeser jauh dari premis awal yang dinyatakan dalam judul tulisan ini, “Saya merasa benar dan selain saya adalah salah”.

Dari ulasan ini dapat disimpulkan bahwa “benar” dan “salah”, “baik” dan “jahat” adalah dua kubu berseberangan yang akan selalu bertemu berlawanan dalam kehidupan ini. Posisi manusia pun akan terpecah sesuai dengan kubu yang dipilihnya. Dan setiap pilihan pasti memiliki konsukwensinya masing-masing.

Dalam kehidupan ada beberapa perlakuan yang telah memiliki status hukum yang final (baku) dan berlaku secara internasional. Diantaranya; mencuri, membunuh tanpa melalui prosedur hukum yang benar, memperkosa, dan yang semisalnya. Seluruh perbuatan tadi telah memiliki status hukum yang baku bahwa pelakunya akan dijerat dengan hukuman tertentu karena telah melakukan sebuah kejahatan.   

Sama seperti agama lain, Islam sebagai sebuah agama memiliki aturan yang mengikat para pemeluknya. Dalam agama lain diatur jenis-jenis perbuatan jahat dan diatur pula jenis hukumannya sesuai dengan tingkatan kejahatan yang dilakukan. Demikianlah juga dalam Islam. Dalam agama ini ditetapkan bahwa  jenis kejahatan terbesar yang dilakukan oleh seseorang adalah menduakan Allah dalam peribadatan atau mengakui ada sembahan selain Allah. Demikianlah yang dinyatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya, “Dosa apakah yang paling besar?”. Beliau bersabda; “Engkau menduakan Allah dalam ibadah padahal Dialah yang telah menciptkanmu”.

Bila demikian, kembali ke pertanyaan sebelumnya:

  1. Sebagai muslim, mengapa anda memilih Islam dan bukan selainnya?
  2. Apakah anda yakin bahwa Allah adalah satu-satunya sembahan?
  3. Apakah anda yakin bahwa sembahan selain Allah adalah tidak benar?
  4. Apakah anda yakin bahwa seorang yang menyembah selain Allah telah melakukan pelanggaran?
  5. Apakah anda tahu jenis pelanggaran yang paling besar di sisi Allah?
  6. Adakah anda akan bersikap respect kepada seorang yang telah melakukan pelanggaran terbesar itu?

Pada akhirnya, silahkan menjawab enam pertanyaan tadi. Sembari mengajak para pembaca sekalian untuk senantiasa berdoa sebagaimana doa yang masyhur di kalangan salaf: 

اللَّهُمَّ أَرِنَا ‌الْحَقَّ ‌حَقًّا وَأَلْهِمْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا، وَأَلْهِمْنَا اجْتِنَابَهُ

“Ya Allah tunjukilah kami kebenaran itu sebagai sebuah kebenaran dan berilah kekuatan kepada kami untuk mengikutinya. Dan perlihatkanlah kepada kami sebuah kebathilah itu sebagai sebuah kebathilan, serta berilah kami kekuatan untuk menjauhinya.”.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: