Sebelum Penyesalan Itu Tiba

    0
    313

    Satu diantara ciri dasar makhluk adalah lemah. Karena kelemahan itulah maka tidak jarang kita melihat orang banyak mengeluh. Dan karena kelemahan itu pula, tidak sedikit kita menyaksikan banyak orang yang berperasangka.

    Islam hadir untuk mengarahkan keterbatasan dan kelemahan itu agar tidak menjadi mudharat bagi orang tersebut dan bagi orang selainnya.

    Aisyah radhiyallahu ‘anha diisukan berbuat serong …

    Benarkah ?

    Negara Irak diklaim menyimpan senjata pemusnah massal …

    Benarkah ?

    Tokoh masyarakat bernama Fulan dituduh akan melakukan makar …

    Benarkah ?

    Ustadz Fulan diisukan anti NKRI …

    Benarkah ?

    “Benarkah ?”, belum lagi pertanyaan tersebut terjawab, ternyata telah ada upaya masif yang dilakukan oleh pihak-pihak jahat untuk menggiring opini publik agar meyakini bahwa objek yang dituduh adalah benar sebagai pihak yang bersalah. Hasilnya ;

    🔷 Betapa banyak nyawa tidak berdosa telah melayang di Irak hingga saat ini, sedangkan klaim yang menjadi awal pemicu timbulnya fitnah itu belum juga terbukti.

    🔷 Nama tokoh masyarakat yang diisukan akan berbuat makar telah terlanjur tersebar, dan betapa dampak psikis yang begitu hebat tentu dirasakan oleh tertuduh dan oleh keluarganya; sementara tuduhan itu hingga saat ini tidak terbukti.

    🔷 Betapa Ustadz tersebut dihalangi untuk berceramah, dicaci dan diperlakukan tidak pantas; sementara tuduhan itu ibarat pribahasa, jauh panggang dari api.

    Demikian akibat buruk dari kelemahan manusia jika tidak diarahkan secara benar dan baik. Islam datang mengarahkan manusia untuk kehidupan yang baik dan bermartabat. Islam memerintahkan berbaik sangka, sebagaimana agama ini juga memerintahkan untuk mengklarifikasi berita-berita miring yang didengarnya.

    Dan karena itulah, terkait dengan isu miring yang beredar tentang Aisyah radhiyallahu ‘anha, Allah berpesan kepada orang-orang beriman;

    لَّوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَٰذَا إِفْكٌ مُّبِينٌ

    Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohon itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata”. (An Nuur; 12)

    وَلَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُم مَّا يَكُونُ لَنَا أَن نَّتَكَلَّمَ بِهَٰذَا سُبْحَانَكَ هَٰذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌ (16) يَعِظُكُمُ اللَّهُ أَن تَعُودُوا لِمِثْلِهِ أَبَدًا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

    Dan mengapa kamu tidak berkata, diwaktu mendengar berita bohong itu: “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini, Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar”. Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman. (An Nuur; 16-17)

    Demikianlah seharusnya sikap seorang yang beriman; berperasangka baik, mengklarifikasi dan selektif dalam menshare berita.

    Sebagai seorang atasan, mungkin banyak menerima berita miring terkait dengan bawahannya; demikian juga orang tua terkait dengan anaknya; anak terkait dengan orang tuanya; guru terkait dengan anak didiknya; murid terkait dengan gurunya; orang tua terkait dengan sekolah atau guru anaknya; dst.

    Jika saja setiap orang mengabaikan dan tidak menghiraukan tuntunan agama yang telah dikemukakan tadi, niscaya dapatlah dibayangkan betapa tatanan sosial dan kerukunan akan rusak dan tercabik-cabik. Dan betapa banyak orang yang menyesali kelalaiannya setelah melihat akibat buruk dari penyimpangannya terhadap nasehat ilahi ini.

    Maka sebelum penyesalan itu tiba, taatlah dan jangan menyimpang. Allah berfirman :

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

    “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”. (Al Hujuraat: 6).


    Donasi Korban Gempa Sulbar