Sedekah Dengan Niat Pahalanya Untuk Orang Tua

    0
    2019
    Pertanyaan :

    Assalamu’alaikum. Mau Tanya ustadz, kalau kita bersedekah mengatasnamakan kedua orang tua bisa kah? Sedekah apa yang diperbolehkan ?

    Jawaban :

    Boleh bersedekah mengatasnamakan kedua orang tua, atau meniatkan bahwa pahalanya juga untuk kedua orang tua. Baik kedua orang tua itu masih hidup atau telah wafat; dan apapun jenis sedekah yang dikeluarkan, terutama jenis sedekah yang pahalanya akan terus mengalir selama barang yang disedekahkan terus dimanfaatkan (sedekah jariyah), contohnya ; membangun masjid, membuat sumur, dan yang semisal dengan keduanya. Beberapa dalil berkenaan dengan hal ini adalah :

    1. Riwayat Imam Muslim, dengan sandanya hingga ke Aisyah radhiyallahu ‘anha, Beliau berkata ;

    أَنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ أُمِّيَ ‌افْتُلِتَتْ ‌نَفْسُهَا ‌وَلَمْ ‌تُوصِ، وَأَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ، أَفَلَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا، قَالَ: نَعَمْ

    “Sesungguhnya seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam, kemudian ia berkata ; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia (mendadak) namun ia belum sempat berwasiat, dan aku menduga seandainya sempat berkata-kata ia akan bershadaqah, apakah ia akan mendapatkan pahala jika aku bershadaqah atas beliau ?, Nabi kemudian menjawab ; “Ya (maka bershadaqahlah).”.

    1. Disebutkan dalam shahih Bukhari dan Muslim dari hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma, bahwasanya seorang wanita Khats’am bertanya,

    يَا رَسُولَ اَللَّهِ, إِنَّ فَرِيضَةَ اَللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ فِي اَلْحَجِّ أَدْرَكَتْ أَبِي شَيْخًا كَبِيرًا, لَا يَثْبُتُ عَلَى اَلرَّاحِلَةِ, أَفَأَحُجُّ عَنْهُ؟. قَالَ: نَعَمْ

    “Wahai Rasulullah sesungguhnya ayahku telah wajib untuk melaksanakan haji, tetapi beliau tidak lagi mampu duduk di atas kendaraannya (melakukan perjalanan haji) karena usianya yang telah renta. Apakah saya boleh menghajikannya ?.” Beliau alaihishshalatu wasslam menjawab,  “Ya Boleh.”

    1. Tatkala haji Wada’, disebutkan dalam Shahih Bukhari dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma bahwasanya seorang wanita Juhainah bertanya kepada Nabi shallallahu’alaihi wasallam,

    إن أمي نذرت أن تحج فلم تحج حتى ماتت أفأحج عنها؟

    “Sesungguhnya ibuku bernadzar melakukan ibadah haji namun ia belum menunaikannya sampai akhirnya beliau meninggal. Apakah saya boleh menghajikan untuknya ?’. Beliau shallallahu’alaihi wasallam menjawab,

    نعم، حجي عنها، أرأيت لو كان على أمك دين أكنت قاضيته؟ اقضوا الله، فالله أحق بالوفاء

    “Tentu. Berhajilah atas namanya. Apa pendapatmu jika ibumu memiliki hutang (kepada orang lain) bukankah engkau ingin melunasinya?. Tunaikanlah hak Allah. Hak Allah tentu lebih berhak untuk dipenuhi.”.

    1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

    إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية، أو علم ينتفع به، أو ولد صالح يدعو له

    “Jika anak cucu Adam mati maka terputuslan amalnya kecuali tiga perkara, sedekah jariyah,  ilmu yang bermanfaat atau anak shalih yang mendoakannya.”. (HR. Muslim)

    Dari seluruh keterangan di atas disimpulkan sebagaimana pernyataan Syaikh Abdul Azizi bin Baaz -rahimahullah- ;

    أما الصدقة فإنها تنفع الحي والميت بإجماع المسلمين

    “Adapun bersedekah dengan niat untuk orang lain, maka sesungguhnya para ulama telah sepakat menyatakan bahwa amalan itu akan memberi manfaat kepada orang yang diniatkan itu, baik ia masih hidup atau ia telah meninggal.”. (Lihat di Link ini )