Selfie Dalam Pandangan Islam

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, kata ‘selfie’ dinyatakan sepadan dengan kata swafoto, yang berarti potret diri yang diambil sendiri dengan menggunakan kamera ponsel atau kamera digital, biasanya untuk diunggah ke media social. (https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/swafoto)

Bertolak dari defenisi ini, maka pembahasan hukum Islam terkait dengan fenomena selfie yang marak berkembang saat ini akan berpulang pada beberapa point, yaitu ;

  1. Apa hukum gambar dan foto dalam Islam
  2. Apa motif melakukan selfie
  3. Adakah selfie tidak bertentangan dengan nilai akhlak yang hendak ditanamkan Islam dalam diri penganutnya

Hukum Gambar dan Foto Dalam Islam

Tentang hukum gambar makhluk bernyawa, pahatan, dan yang semisalnya, maka disebutkan dalam beberapa keterangan tentang keharamannya ;

  1. Abdullah bin Mas’ud –radhiyallahu ‘anhu- berkata, bahwa saya mendengar Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda;

إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُونَ

“Sesungguhnya orang yang paling keras diadzab oleh Allah pada hari kiamat adalah mushawwir (pembuat gambar makhluk bernyawa, pahatan dan yang sejenisnya).”[HR. Bukhari].

  1. Abudullah bin Umar –radhiyallahu ‘anhuma- berkata,  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda;

يُعَذَّبُ الْمُصَوِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، وَيُقَالُ لَهُمْ أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ

“Para pembuat shuurah akan diadzab pada hari kiamat, dan akan dikatakan kepadanya; hidupkanlah apa yang engkau telah buat di dunia berupa shuurah.”[HR. Thabraani].

  1. Abu Zur’ah –rahimahullah- berkata;

دَخَلْتُ مَعَ أَبِي هُرَيْرَةَ دَارًا بِالْمَدِينَةِ فَرَأَى أَعْلَاهَا مُصَوِّرًا يُصَوِّرُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذَهَبَ يَخْلُقُ كَخَلْقِي

“Saya bersama Abu Hurairah pernah masuk ke suatu rumah di Medinah. Ketika itu Beliau melihat seorang pembuat shurah tengah membuat shurah di atas rumah tersebut. Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu- berkata kepadanya; saya mendengar  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda (bahwa Allah berfirman); Siapakah manusia yang lebih dzhalim daripada seorang yang meniru pencipataan Ku (terhadap makhluk bernyawa) ?.”[HR. Bukhari].

  1. Aisyah –radhiyallahu ‘anha- berkata;

قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ سَفَرٍ وَقَدْ سَتَرْتُ بِقِرَامٍ لِي عَلَى سَهْوَةٍ لِي فِيهَا تَمَاثِيلُ فَلَمَّا رَآهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَتَكَهُ وَقَالَ أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الَّذِينَ يُضَاهُونَ بِخَلْقِ اللَّهِ قَالَتْ فَجَعَلْنَاهُ وِسَادَةً أَوْ وِسَادَتَيْنِ

“Pernah  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- tiba dari sebuah safar, dan ketika itu saya berada di sebuah tempat yang tertutup oleh tirai dan di dalamnya ada beberapa gambar. Maka ketika  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- melihat gambar-gambar tersebut, Beliau pun merobeknya, dan berkata; “Orang yang paling keras diadzab pada hari kiamat adalah mereka yang mencoba menyamai Allah dalam penciptaan-Nya (terhadap makhluk bernyawa).”. Mendengar pernyataan tersebut, saya pun lantas menjadikannya sebagai satu atau dua sarung bantal.”[HR.Bukhari].

  1. Abu Juhaifah –radhiyallahu ‘anhu- berkata;

إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ ثَمَنِ الدَّمِ وَثَمَنِ الْكَلْبِ وَكَسْبِ الْبَغِيِّ وَلَعَنَ آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَالْوَاشِمَةَ وَالْمُسْتَوْشِمَةَ وَالْمُصَوِّرَ

“Sesungguhnya  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- telah melarang (memakan) harta dari hasil transaksi darah, anjing, hasil perzinahan, dan Beliaupun telah melaknat orang yang memakan riba dan yang mengambil pinjaman ribawi, orang pembuat tato dan yang minta dibuatkan, serta orang yang membuat shurah.”. (HR. Bukhari)

  1. Sa’id bin Abi al Hasan -rahimahullah- berkata;

كُنْتُ عِنْدَ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا إِذْ أَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا أَبَا عَبَّاسٍ إِنِّي إِنْسَانٌ إِنَّمَا مَعِيشَتِي مِنْ صَنْعَةِ يَدِي وَإِنِّي أَصْنَعُ هَذِهِ التَّصَاوِيرَ فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ لَا أُحَدِّثُكَ إِلَّا مَا سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ سَمِعْتُهُ يَقُولُ مَنْ صَوَّرَ صُورَةً فَإِنَّ اللَّهَ مُعَذِّبُهُ حَتَّى يَنْفُخَ فِيهَا الرُّوحَ وَلَيْسَ بِنَافِخٍ فِيهَا أَبَدًا فَرَبَا الرَّجُلُ رَبْوَةً شَدِيدَةً وَاصْفَرَّ وَجْهُهُ فَقَالَ وَيْحَكَ إِنْ أَبَيْتَ إِلَّا أَنْ تَصْنَعَ فَعَلَيْكَ بِهَذَا الشَّجَرِ كُلِّ شَيْءٍ لَيْسَ فِيهِ رُوحٌ

“Saya pernah bersama Ibnu Abbas –radhiyallahu anhuma, ketika seorang lelaki mendatanginya dan berkata; Wahai Abu ‘Abbas, sesungguhnya saya ini adalah seorang yang hidup dari membuat shurah. Ibnu Abbas –radhiyallahu anhuma- berkata; kalau demikian saya tidaklah mengabarimu kecuali apa yang saya dengarkan dari  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-. Saya mendengarkan Beliau bersabda; Barangsiapa membuat shurah, maka sesungguhnya Allah akan mengazabnya hingga ia mampu memasukkan ruh ke dalam tubuh makhluk yang dibuatnya itu, sedangkan ia tidak akan pernah sanggup untuk itu. Mendengar hal tersebut, laki-laki itu menjadi galau hingga raut wajahnya menguning. Ibnu ‘Abbas berkata; jika engkau tetap saja ingin membuat shurah, maka buatlah shurah pepohonan dan makhluk lain yang tidak bernyawa.”[HR.Bukhari].

Demikianlah beberapa keterangan dari al Quran dan sunnah yang berkenaan dengan shurah dan atau pembuat shurah. Maka beberapa kesimpulan dari seluruh keterangan yang telah disebutkan;

  1. Para pembuat shurah adalah golongan manusia yang paling keras adzabnya di hari kiamat.
  2. Membuat shurah makhluk hidup adalah perbuatan yang Allah khususkan bagi diri-Nya, dan Ia tidak ingin seorang pun menyerupai-Nya dalam perbuatan tersebut. Olehnya, maka  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda;

ومن أظلم ممن ذهب يخلق كخلقي

“Siapakah manusia yang lebih dzhalim daripada seorang yang meniru pencipataan Ku (terhadap makhluk bernyawa) ?.” [HR.Bukhari].

Setelah mengetahui penjelasan dasar berkenaan dengan hukum gambar ini, maka adakah larangan membuat gambar ini juga berlaku bagi orang yang mengambil gambar dengan kamera hp atau semacamnya ?

Bila dilihat dari asal pembuatannya, maka shurah itu terbagi ke dalam dua jenis, yaitu;

  1. Shurah yang dibuat oleh manusia, yang pembuatnya –kemudian- disebut sebagai pelukis, pemahat, penyulam dan yang semacamnya. Jenis shurah demikianlah yang dinyatakan haram untuk membuatnya; karena perbuatan itu adalah perbuatan yang melanggar hak privasi Allah.
  2. Shurah yang dibuat dengan bantuan alat perekam, baik berupa gambar bergerak atau foto. Bagaimana hukumnya ?

Bila diamati secara seksama, maka akan ditemukan beberapa perbedaan mendasar antara shurah yang dibuat oleh manusia dan shurah yang dibuat dengan perantara alat perekam. Perbedaan yang dimaksud adalah;

  1. Shurah yang dibuat oleh alat perekam tidak ubahnya seperti memindahkan satu objek dari sebuah media ke media yang lainnya. Ibarat orang bercermin, terjadi pemantulan cahaya yang menyebabkan munculnya bayangan dari orang tersebut pada kaca cermin. Hanya saja, bayangan tersebut akan lenyap dengan perginya orang itu dari kaca; sedangkan bayangan yang ditangkap oleh alat perekam akan tersimpan dan mungkin ditampilkan kapan saja diperlukan, baik dalam bentuk foto atau rekaman video. Lantas pertanyaan selanjutnya, adakah ulama yang mengharamkan seorang bercermin dengan dalih pengharaman membuat shurah ?.
  2. Seorang yang membuat shurah dengan keterampilan tangannya, benarlah bila dinyatakan bahwa dialah pembuat shurah itu, dan perbuatan demikianlah yang merupakan perbuatan melanggar privasi Allah. Adapun seorang yang mengambil gambar dengan kamera atau foto, tidaklah dinyatakan bahwa dialah pembuat gambar itu. Boleh jadi orang tersebut sama sekali tidak tahu melukis dan memahat, namun pandai memotret. Maka adakah benar jika orang semacam ini dinyatakan sebagai pembuat shurah tersebut?. Olehnya itu, maka perbuatan jenis kedua ini tidaklah benar dinyatakan sebagai perbuatan melanggar privsi Allah, sebagaimana jenis perbuatan yang pertama.

Dengan demikian disimpulkan bahwa hukum selfie secara umum tidaklah mengapa dan tidaklah perbuatan itu masuk dalam kategori membuat surah yang diharamkan, kecuali jika disertai dengan proses editing foto atau video (gambar yang dihasilkan sudah melalui tangan / campur tangan manusia).

Motif Selfie

Selain menitikberatkan pada hukum boleh dan haram nya ber-selfie,  yang perlu untuk kita cermati juga adalah maksud atau motif dari orang yang melakukan selfie dan bagaimana efek yang mungkin dirasakan oleh orang-orang yang melihat foto selfie tersebut.

Adakah selfi itu didasari oleh sifat takabbur, Riya, dan ujub ?. Jika demikian, maka tentu hal itu diharamkan. Demikianlah juga jika foto selfie tersebut menampilkan kemewahan diri di tengah krisis yang menimpa orang-orang disekitarnya, tentu hal itu tidak selayaknya dilakukan.

Tetapi jika selfi itu dilakukan untuk keperluan administrasi kantor, absensi, mengabarkan kepada keluarga akan kondisi kita yang baik-baik saja, promosi barang dagangan, dan yang semisalnya; maka wallahu a’lam bis shawaab hal demikian tidaklah mengapa, karena kembali pada hukum asal selfie sebagaimana dijelaskan pada poin sebelum ini.

Adakah selfie itu tidak mengabaikan nilai akhak islami ?

Aspek lain yang perlu juga dicermati dalam bahasan ini adalah bagaimana pandangan Islam terhadap akhlak berupa rasa malu, yang terutama hendak ditanamkan kepada para wanita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‌الْحَيَاءَ ‌مِنَ ‌الْإِيمَانِ

“Malu itu adalah bagian dari iman.”. (HR. Bukhari)

Malu dalam agama Islam merupakan salah satu bentuk keimanan kita, terlebih bagi para wanita yang seharusnya menjadikan malu sebagai pakaian dan hiasan terbaik bagi dirinya.

Olehnya, satu diantara ciri wanita Muslimah dikalangan sahabat adalah senantiasa berada di rumahnya, dan tidak keluar kecuali karena ada hajat. Ketika keluar pun mereka tidak akan dengan sengaja mempubish dirinya untuk disaksikan oleh orang-orang banyak. Allah telah berpesan pada Muslimah bahwa:

وَقُل لِّلۡمُؤۡمِنَٰتِ يَغۡضُضۡنَ مِنۡ أَبۡصَٰرِهِنَّ وَيَحۡفَظۡنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنۡهَاۖ 

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka tundukkan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya’…” (QS 24:31)

Dalam ayat yang lain Allah juga telah menyinggung tentang perilaku tabarruj, yaitu segala sesuatu tindakan berhias yang ditujukan agar diperhatikan oleh lelaki. Allah berfirman :

وَقَرۡنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجۡنَ تَبَرُّجَ ٱلۡجَٰهِلِيَّةِ ٱلۡأُولَىٰۖ 

“Dan menetaplah kalian di rumah-rumah kalian, dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu”. (QS 33:33).

Jika demikian, maka cobalah para wanita menimbang keadaan dirinya ketika berselfie; adakah ia melakukannya karena sebuah hajat yang harus dipenuhinya atau ia lakukan hanya karena sebuah hobi atau sebab-sebab lain yang tidak harus dipenuhinya. Bila bukan karena hajat, maka kewajiban seorang Muslimah untuk mengarahkan dirinya berada dalam arahan Allah dan Rasul Nya, serta menjadikan wanita-wanita shalehah sebagai qudwah dan ikutannya.

 

Wallahu a’lam bis shawaab

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: