Seruan Empat Imam Madzhab

    0
    64

    Satu diantara karakter yang dimiliki oleh ahlussunnah wal jama’ah adalah kesamaan pandang secara global dalam memahami hukum-hukum syari’at. Kesamaan pandang itu tidak tersekat dan terhalangi oleh waktu dan tempat. Meski berbeda dalam beberapa atau bahkan banyak hal ketika menarik kesimpulan hukum agama dalam sebuah masalah ijtihadi, namun mereka dipersatukan oleh manhaj dan ketentuan baku dalam beragama.

    Satu diantara kesamaan itu terwujud dalam pesan dan seruan empat imam madzhab kepada seluruh murid dan perngikutnya. Seruan untuk berpegang teguh kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berikut kita simak perkataan mereka :

    1. Imam Abu Hanifah rahimahullah berkata:

    اذا صح الحديث فهو مذهبي

    “Apabila hadist itu shahih maka itu adalah mazhabku.”.

    لا يحل لاحد ان ياخذ بقولنا ما لم يعلم من اين اخذناه

    “Haram hukumnya seseorang mengambil pendapat kami tanpa dia tahu dari mana kami mengambil dalil pendapat tersebut.”.( Abu Malik Kamal Ibnu Sayyid salim, shahih fiqh Sunnah wa adillatuhu wa taudiihul mazaahib Al aimmah jilid 1 hal 33 terbitan daruttafiqiyyah litturats Kairo Mesir).

    2. Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata :

    انما انا بشر اخطیء واصيب فانظروا في رايي فكل ما وافق الكتاب والسنۃ فخذوه وكل ما لم يوافق الكتاب والسنۃ فاتركوه

    “Sesungguhnya aku hanyalah manusia yang bisa salah dan benar, maka periksalah pendapatku. Setiap pendapatku yang sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah ambillah, dan setiap yang tidak sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah tinggalkanlah.”.

    ليس احد بعد النبي صلی الله عليه وسلم الا ويؤخذ بقوله ويترك الا النبي صلی الله عليه وسلم

    “Tidaklah ada seorangpun setelah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam melainkan bahwa perkataan mereka bisa diterima dan bisa juga ditolak. Kecuali perkataan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam (maka wajib diterima).”. ( Abu Malik Kamal Ibnu Sayyid salim, shahih fiqh Sunnah wa adillatuhu wa taudiihul mazaahib Al aimmah jilid 1 hal 33-34 terbitan daruttafiqiyyah litturats Kairo Mesir).

    3. Muhammad Ibnu Idris As Syafi'i rahimahullah berkata :

    اجمع المسلمون علی ان من استبان له سنۃ عن رسول اﷲ لم يكن ان يدعها لقول احد

    “Para kaum muslimin telah bersepakat bahwa barang siapa yang telah jelas kepadanya dalil dari Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak boleh seorangpun meninggalkan atau berpaling dari Sunnah Rasulullah tersebut karena (mengikuti) perkataan siapapun juga.”.

    اذا وجدتم في كتابي خلاف سنۃ رسول الله فقولوا بسنۃ رسول الله و دعوا ما قلت

    “Apabila kalian mendapatkan di dalam kitabku perkataan yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam maka berkatalah sesuai dengan Sunnah Rasulullah dan tinggalkanlah perkataan ku.”. ( Abu Malik Kamal Ibnu Sayyid salim, shahih fiqh Sunnah wa adillatuhu wa taudiihul mazaahib Al aimmah jilid 1 hal 34 terbitan daruttafiqiyyah litturats Kairo Mesir).

    4. Ahmad Ibnu Hanbal rahimahullah berkata :

    لا تقلدني ولا تقلد مالكا ولا الشافعي ولا الاوزاعي ولا الثوري وخذ من حيث اخذوا

    “Janganlah kalian mengikuti pendapat ku dan jangan mengikuti pendapat  imam Malik dan jangan mengikuti pendapat imam Syafi’i dan Auzai dan At Tsauri. Tetapi ambillah dari sumber mana mereka mengambil pendapat tersebut ( Al Qur’an dan Sunnah).”.

    Demikianlah kesamaan pandang mereka dalam beragama (Lihat juga ‘Al Wajiiz Fi Aqidati As Salafi As Shaaleh, 1/155). Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

    إِنَّ ‌الْعُلَمَاءَ ‌وَرَثَةُ ‌الْأَنْبِيَاءِ

    “Sesungguhnya para ulama adalah pewaris sekalian nabi.”. (HR. Ibnu Majah). Olehnya, dalam beragama kembalilah kepada Al Quran dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atas dasar petunjuk para ulama (dari generasi sahabat, tabi’ien dan at baaut taabi’ien, serta ulama lain yang datang setelah mereka). Dan semoga Allah senantiasa membimbing dan mengarahkan kita semua ke jalan yang diridhoinya in sya Allah.