Shallu Fi Rihaalikum

    0
    64

    Diantara kewajiban muslim laki-laki dalam agama ini adalah melaksanakan shalat lima waktu secara berjama’ah di masjid. Diantara indicator kewajiban jenis ibadah ini adalah adanya panggilan ke masjid setiap kali tiba waktu shalat lima waktu. Demikian juga, diantara indicatornya adalah adanya keringanan untuk melaksanakannya di rumah ketika ada udzur, semisal hujan, angin kencang, dan juga tentunya wabah pandemi seperti saat ini di beberapa daerah yang tingkat penyebarannya masih sangat tinggi.

    Menandakan berlakunya keringanan itu adalah syari’at mengucapkan : “Shallu fii rihaalikum” atau “Shallu fii buyuutikum” (shalatlah di rumah-rumah kalian) ketika adzan dikumandangkan. Diantara riwayat berkenaan dengan syariat mengucapkan himbauan untuk shalat di rumah itu adalah :

    Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dari Nafi’e, beliau berkata;

    أَذَّنَ ابْنُ عُمَرَ فِي لَيْلَةٍ بَارِدَةٍ بِضَجْنَانَ ، ثُمَّ قَالَ : صَلُّوا فِي رِحَالِكُمْ ، فَأَخْبَرَنَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْمُرُ مُؤَذِّنًا يُؤَذِّنُ ، ثُمَّ يَقُولُ عَلَى إِثْرِهِ : ” أَلاَ صَلُّوا فِي الرِّحَالِ ” فِي اللَّيْلَةِ البَارِدَةِ ، أَوِ المَطِيرَةِ ، فِي السَّفَرِ

    “Suatu ketika Ibnu Umar mengumandangkan adzan di sebuah malam yang dingin di daerah Dajnan. Kemudian Ibnu Umar menyeru, ‘Salatlah kalian di rumah-rumah kalian!’ Lalu Ibnu Umar memberikan informasi kepada kami, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyuruh seorang muadzzin untuk mengumandangkan adzan. Setelah itu muadzzin mengumandangkan, ‘Hendaklah kalian salat di rumah-rumah!’ dalam  sebuah malam yang sangat dingin atau hujan di tengah perjalanan.”. Dalam riwayat lain, yang juga dibawakan oleh imam Bukhari dan Muslim, dari Abdullah bin Harits, dari Abdullah bin Abbas, Beliau berkata kepada muadzzin ketika hari tengah hujan;

    إِذَا قُلْتَ : أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ ، فَلَا تَقُلْ : حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ ، قُلْ : صَلُّوا فِي بُيُوتِكُمْ ” ، قَالَ : فَكَأَنَّ النَّاسَ اسْتَنْكَرُوا ذَاكَ ، فَقَالَ: ” أَتَعْجَبُونَ مِنْ ذَا ؟! ، قَدْ فَعَلَ ذَا مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنِّي ، إِنَّ الْجُمُعَةَ عَزْمَةٌ ، وَإِنِّي كَرِهْتُ أَنْ أُحْرِجَكُمْ ، فَتَمْشُوا فِي الطِّينِ وَالدَّحْضِ

    “Jika engkau telah mengucapkan “Asyhadu an laa ilaaha illallaah, asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, ” maka janganlah kamu mengucapkan “Hayya alash shalaah, ” namun ucapkanlah “Shalluu fii buyuutikum” (Shalatlah kalian di rumah-rumah kalian).” Abdullah bin Abbas berkata; “Ternyata orang-orang sepertinya tidak menyetujui hal ini, lalu ia berkata; “Apakah kalian merasa heran terhadap ini ? Padahal yang demikian pernah dilakukan oleh orang yang lebih baik dariku (maksudnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam). Shalat jum’at adalah ibadah wajib, namun aku tidak suka jika harus membuat kalian merasa sukar, keluar berjalan di lumpur dan lubang-lubang yang tergenang air dan lumpur.”.

    Dari kedua keterangan diatas dipahami akan syari’at mengucapkan “Shallu fii rihaalikum” atau “Shallu fii buyuutikum” (shalatlah di rumah-rumah kalian) ketika adzan dikumandangkan pada saat ada udzur, dan bahwa kalimat tersebut dapat dikumandangkan setelah atau pada saat adzan menggantikan kalimat “hayya ‘alas shalaah”.

    Wallahu a’lam bis shawaab