Tertib Dalam Wudhu, Wajibkah ?

Diantara masalah kontroversi dalam bahasan tata cara wudhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah syari’at melaksanakan wudhu secara tertib (berurut) sebagaimana disebutkan dalam Al Quran dan hadits-hadits masyhur tentang cara wudhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam; apakah hukum melaksanakan wudhu secara tertib itu merupakan hal wajib atau tidak ?.

Pada artikel ini akan dijelaskan pendapat golongan ulama yang menyatakannya sunnah dan tidak wajib.

Diantara alasan mereka yang meyakininya sunnah adalah :

  1. Tidak ada dalil yang jelas dan tegas menyatakan bahwa berwudhu sesuai dengan tertib yang dinyatakan di dalam Al Quran itu adalah wajib, dimana seorang yang tidak melaksanakannya, maka wudhunya dinyatakan tidak sah.
  2. Ada beberapa indikator yang menunjukkan bahwa melaksanakan wudhu sesuai dengan tertib tersebut tidaklah wajib. Diantaranya adalah :

a. Hadits Abdul Rahman bin Maysarah Al Hadhramiy, beliau berkata; saya telah mendengar Miqdam bin Ma’dy Karib al kindiy berkata;

أُتِيَ رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم – بوَضوءٍ فتوضَّأ، فغسلَ كَفيهِ ثلاثاً، وغسلَ وجهَه ثلاثاً، ثمَّ غسلَ ذِراعَيهِ ثلاثاً ثلاثاً، ثم تَمضمَضَ واستَنشَقَ ثلاثاً، ثمَّ مسحَ برأسِهِ وأُذُنَيه ظَاهِرِهما وباطِنِهما

“Pernah disiapkan air wudhu buat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Disaat berwudhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencuci kedua telapak tangannya sebanyak tiga kali, kemudian mencuci wajahnya sebanyak tiga kali, kemudian mencuci lengannya (sampai siku) sebanyak tiga kali, kemudian beliau berkumur-kumur dan beristinsyaq sebanyak tiga kali, kemudian beliau mengusap kepala dan bagian luar serta bagian dalam kedua telinganya …”. (HR. Abu Daud, dinyatakan sebagai hadits hasan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan oleh syaikh Al Baani dinyatakan sebagai hadits hasan shahih).

Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkumur-kumur dan beristinsyaq setelah mencuci pergelangan tangannya hingga siku. Hal demikian menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berwudhu tidak sesuai urutan yang disebutkan dalam beberapa hadits masyhur lainnya (diantaranya hadits Utsman dan hadits Abdullah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma). 

b. Ulama telah sepakat menyatakan bahwa bila seorang yang berwudhu mencuci tangan kirinya terlebih dahulu sebelum mencuci tangan kanannya atau kaki kirinya terlebih dahulu sebelum mencuci kaki kanannya, maka wudhunya dinyatakan sah, meski tidak mendapatkan pahala sunnah memulai dengan mencuci bagian kanan terlebih dahulu. Seandainya tertib itu adalah wajib, maka tentu tidak akan tercapai kesepakatan ini.

c. Tayammum adalah pengganti wudhu ketika seorang tidak menemukan atau tidak mampu menggunakan air. Melaksanakan tayammum, tidak mesti berurut sesuai dengan urutan yang disebutkan dalam Al Quran (wajah kemudian telapak tangan). Jika demikian, maka wudhu pun seperti itu, tidak wajib dilakukan secara berurut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada ‘Ammaar tentang tata cara tayammum;

إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيكَ أَنْ تَقُولَ بِيَدَيْكَ هَكَذَا: ثُمَّ ضَرَبَ بِيَدَيْهِ الْأَرْضَ ضَرْبَةً وَاحِدَةً، ثُمَّ مَسَحَ الشِّمَالَ عَلَى الْيَمِينِ، وَظَاهِرَ كَفَّيْهِ، وَوَجْهَهُ

“Sesungguhnya cukup bagimu bertayammum (ketika tidak ada air).”. Lantas beliau (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) memukulkan kedua telapak tangannya ke tanah sebanyak satu kali. Kemudian beliau usapkan tanah (debu yang menempel di tanah) ke bagian dalam telapak tangan kanannya dan ke bagian luarnya (demikian juga telapak tangan kiri). Selanjutnya beliau mengusapkan debu tersebut ke wajahnya.”. (HR. Muslim)  

d. Mandi besar adalah cara membersihkan diri dari hadats besar. Tertib melaksanakan runut mandi besar sesuai dengan yang dijalaskan dalam hadits-hadits tentang itu bukan merupakan syarat sahnya mandi besar. Bila demikian, maka tertib melaksanakan wudhu hendaknya juga bukan merupakan syarat sahnya wudhu tersebut, karena keduanya (mandi dan wudhu) adalah cara untuk mensucikan diri dari hadats.

e. Dalam ayat wudhu (surah Al Maidah; 6) disebutkan pada akhir ayat itu tentang hikmah syari’at bertharah (wudhu, mandi junub dan tayammum), yaitu;

مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ

“Allah tidak hendak menyusahkan kalian dengan syari’at tersebut (bersuci dari hadats ketika akan shalat). Namun Allah ingin mensucikan kalian.”. Mencermati ayat ini, maka bisa disimpulkan bahwa tidak menjadikan “tertib” sebagai syarat sahnya wudhu adalah lebih sesuai dengan teks ayat tersebut daripada menetapkannya sebagai syarat (fardhu atau wajib); “Allah tidak hendak menyusahkan kalian dengan syari’at tersebut.”.

Bila salah satu tujuannya adalah sebagaimana firman Nya; ” Namun Allah ingin mensucikan kalian.”, maka sesungguhnya hal itu telah tercapai dengan mencuci seluruh anggota wudhu meski tidak dengan tertib. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّهُ لَا تَتِمُّ صَلَاةٌ لِأَحَدٍ مِنَ النَّاسِ حَتَّى يَتَوَضَّأَ فَيَضَعَ الْوُضُوءَ مَوَاضِعَهُ

“Sesungguhnya shalat itu tidak akan sah hingga seorang mencuci bagian (anggota-anggota) wudhu yang wajib ia cuci atau basuh.”. (HR. At Thabraani)

Dari dalil-dalil yang telah dikemukakan dinyatakan bahwa tartib melakukan wudhu sebagaimana yang dinyatakan di dalam Al Quran bukanlah hal yang diwajibkan.

Namun demikian, sangat dianjurkan untuk melakukannya sebagaimana tertib pelaksanaan yang telah dinyatakan dalam Al Quran dan hadits-hadits yang masyhur berkenaan dengan hal tersebut.

Wallahu A’lam bis shawaab

Baca lengkapnya di :

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: