Ulama dan Peradaban Bangsa

Agama itu adalah pedoman hidup manusia. Manusia tanpa agama tidaklah pernah akan menemukan kebahagiaan yang sejati, karena ia akan hidup tidak berdasarkan arahan Zat yang telah menciptakannya dan telah menciptakan alam semesta.

Agar arahan itu terbaca, maka Allah turunkan Al Quran sebagai petunjuk bagi seluruh manusia. Untuk menjelaskan dan merincikannya, maka Allah mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Rasul-Nya. Dan untuk mengekalkan hukum-hukum, nilai dan norma-norma agama, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewariskan ilmu agama ini kepada orang-orang pilihan, orang-orang yang Allah hendaki baginya kebaikan di dunia dan di akhirat, mereka itulah para ulama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

الْعُلَمَاءَ ‌وَرَثَةُ ‌الْأَنْبِيَاءِ

“Para ulama itu adalah pewaris sekalian nabi.”(HR. Abu Daud). Mereka itu ibarat bintang gemintang memberi petunjuk bagi orang banyak di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang mengambil ilmu yang diwariskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan akan menyampaikannya secara amanah kepada seluruh manusia, membantah penyimpangan orang-orang menyimpang dan menjaga agama ini dari infeltrasi pemikiran-pemikiran sesat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

يَحْمِلُ ‌هَذَا ‌الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُولُهُ يَنْفُونَ عَنْهُ تَحْرِيفَ الْغَالِينَ وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِينَ وَتَأْوِيلَ الْجَاهِلين

“Ilmu ini akan diemban dari generasi ke generasi oleh orang-orang terpercaya. Merekalah orang-orang yang akan selalu membentengi agama ini dari para perusak yang coba menyisipkan berbagai pemikiran sesat dan menyimpang ke dalam agama ini.”. (Shahih Al Kutub At Tis’ah)

Para ulama itu ibarat sumber air, merekalah rujukan umat dalam menyelesaikan berbagai persoalannya. Lantas pernahkah dibayangkan jika sumber air itu ternyata telah tercemari oleh limbah dan kotoran?. Orang-orang ramai mendatangi sumber air itu hendak melepas dahaga dan memenuhi kebutuhannya. Namun alih-alih dahaganya terobati, justru selepas itu ia harus segera dirujuk ke rumah sakit karena keracunan.

Ulama jahat, Imam Al Ghazali pernah mengingatkan bahaya ulama jahat bagi masyarakat. Jika ulama rusak, maka rakyat dan penguasa pun akan rusak. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, Umar radhiyallahu ‘anhu pernah berkata dalam khutbahnya;

إنَّ أخوفَ ما أخافُ عليكم ‌تغيُّرُ ‌الزَّمانِ، ‌وزَيغةُ ‌عالِمٍ، وجدالُ منافقٍ بالقرآنِ، وأئمَّةٌ يُضلُّون الناسَ بغير علم

“Sesungguhnya sesuatu yang sangat saya khawatirkan atas kalian ada beberapa hal, yaitu; perubahan zaman yang sangat cepat dan ketergelinciran ulama, debat orang munafik terhadap Al Quran, serta para imam yang menyesatkan orang-orang tanpa landasan ilmu yang benar”. (Musnad Al Faaruuq, 2/424).

Olehnya, upaya mempertahankan dan meregenerasi ulama sejati adalah sesuatu yang sangat urgen dan menempati skala prioritas. Demikianlah proyek kebaikan yang menjadi lahan garapan muslim sejati. Lantas bagaimana dengan mereka yang justru berupaya memberangus ulama dan hal-hal yang menjadi simbol keberadaan dan persatuan mereka?. Allah berfirman;

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ يُنفِقُونَ أَمۡوَٰلَهُمۡ لِيَصُدُّواْ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ ‌فَسَيُنفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيۡهِمۡ حَسۡرَةٗ ثُمَّ يُغۡلَبُونَۗ وَٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِلَىٰ جَهَنَّمَ يُحۡشَرُونَ 

Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu, menginfakkan harta mereka untuk menghalang-halangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan (terus) menginfakkan harta itu, kemudian mereka akan menyesal sendiri, dan akhirnya mereka akan dikalahkan. Ke dalam neraka Jahanamlah orang-orang kafir itu akan dikumpulkan. Surah Al Anfaal; 36)   

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: