Urusanmu, Urusanku Juga

    0
    64

    Gaya hidup orang-orang zaman sekarang sudah banyak bergesar dibandingkan dengan orang-orang terdahulu. Nilai simpati dan empati berubah menjadi sikap egois dn individualistis. Lebih cenderung bersikap nafsi-nafsi. Urusanmu bukan urusanku sebagaimana urusanku juga bukan urusanmu. Tak ada ruang untuk bersimpati, berempati maupun berbagi.

    Dalam Islam, sesama muslim adalah bersaudara. Allah Ta’ala telah menjadikan ikatan persaudaraan mereka di atas iman dan islam. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya. Ikatan Iman dan Islam ini begitu kuat karena Allah lah yang menumbuhkan perasaan menyayangi dan mencintai sesama saudara semuslim. Allah Ta’ala berfirman :

    وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

    Artinya : “Dan berpegang teguhlah kalian dengan tali Allah dan janganlah berpecah belah. Dan ingatlah nikmat Allah kepada kalian ketika kalian bermusuhan lalu Allah menautkan diantara hati-hati kalian lalu dengan nikmat Allah kalian menjadi bersaudara.” (Q.S.Ali Imron : 93)

    Seorang muslim dengan keimanan yang ia sandang, tak akan menjadi pribadi yang individualistis. Justeru keimanan yang melekat dalam dirinya akan menjadikannya sosok yang mudah untuk berempati dan bersimpati kepada sesama muslim. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

    لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ، حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِه

    Artinya :”Tidak sempurna keimanan salah seorang diantara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”. (HR.Bukhari dan Muslim)

    Perasaan cinta yang menumbuhkan kepedulian. Ibarat satu tubuh yang ikut serta merasakan apa yang dirasakan oleh saudara semuslimnya. Saling menguatkan satu dengan yang lainnya. Sedih dan duka dirasakan bersama. Susah dan sulit dipikul bersama. Senang dan bahagia dinikmati bersama-sama. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

     مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

    Artinya : “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam cinta, kasih sayang dan berlemah lembut diantara mereka adalah laksana satu tubuh yang apabila satu bagian tubuh merasakan sakit maka seluruh tubuh akan diliputi perasaan susah tidur dan demam.” (HR.Muslim)

    Maka sudah sepantasnya seorang muslim untuk tidak bersikap egois dan hanya memikirkan kemashlahatan dirinya sendiri. Tumbuhkan semangat untuk berempati, bersimpati dan berbagi karena sesungguhnya kehidupan terlalu berharga jika hanya untuk dinikmati sendiri.

    ✍️ Penulis : Ustadz Rafael Afrianto, Lc
    Tim Rubrik Kajian Ilmiyah Al Binaa Menyapa