Wahhabi dan Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab

    0
    88

    (Penulis : Az Zukhrufu Fi Silmi Suwondo, Santriwati SMAIT Al Binaa)

    Kata Wahhabi, Wahhabisme (الوهابي) adalah sebuah kata yang dimunculkan oleh orang-orang yang tidak menyukai dakwah yang diserukan oleh Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhabrahimahullah. Beliau sendiri, sebagai orang yang menyerukan dakwahnya, demikian pula murid-murid beliau, tidak pernah menamakan diri dengan Wahhabi.

    Sejarah mencatat, istilah Wahhabi pertama kali disematkan kepada dakwah Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah oleh penjajah Inggris, ketika mereka mendapatkan perlawanan yang keras dari para mujahid India yang terpengaruh oleh dakwah Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah.[1] Istilah ini pun, segera dijadikan senjata oleh para pelaku syirik dan bid’ah yang gerah dengan dakwah tauhid dan sunnah yang diserukan Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhabrahimahullah, tujuan mereka tidak lain untuk menjatuhkan dakwah beliau.

    Istilah Wahhabi ini memang di telinga orang awam lebih dapat mencitrakan kejelekan dibanding istilah muhammadi. Walaupun hakikatnya, istilah muhammadi yang lebih tepat, karena nama Syaikh adalah Muhammad, sama dengan nama Nabi kita yang mulia. Sedangkan Wahhab (الوهاب) itu sendiri adalah nama Allah ta’ala yang agung.[2] Allah ta’ala berfirman,

    رَبَّنَا لَا تُزِغ قُلُوبَنَا بَعدَ إِذ هَدَيتَنَا َوَهَب لَنَا مِن لَدُنكَ رَحمَةً إِنَّكَ أَنتَ الوَهَّابُ

    (Mereka berdoa), ‘Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)’.[3]

    Seorang Ulama Al-Azhar Mesir, Syaikh Muhammad Hamid Al-Faqi rahimahullah berkata, “Penisbatan nama wahabi kepada beliau adalah salah menurut bahasa Arab, yang benar penisbatannya adalah Muhammadiyyah (bukan wahhabiyyah), karena nama beliau Muhammad bukan Abdul Wahhab.”[4]

    Syaikh Muhammad bin Jamil Zainurahimahullah berkata, “Orang-orang itu telah terbiasa menyebut istilah Wahhabi bagi setiap orang yang menyelisihi kebiasaan, keyakinan dan bid’ah-bid’ah mereka. Meskipun keyakinan-keyakinan mereka itu rusak, menyelisihi Al Quranul karim dan hadits-hadits yang shahih, juga menyelisihi dakwah kepada tauhid dan ajakan untuk berdoa hanya kepada Allah yang satu saja, tidak kepada selain-Nya.

    Aku pernah membacakan kepada seorang syaikh sufi, hadits Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma yang ada dalam Al-Arba’in An-Nawawiyah, yaitu sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, “Apabila kamu mau meminta (doa) maka mintalah kepada Allah Ta’ala.[5]

    Sangat mengagumkan penjelasan Imam An-Nawawi rahimahullah ketika beliau berkata, “Kemudian apabila hajat yang diminta oleh seseorang itu bukanlah suatu hajat yang bisa dikabulkan oleh makhluk, seperti meminta hidayah, ilmu, kesembuhan penyakit dan kesehatan, maka hendaklah minta kepada Allah ta’ala. Memintanya kepada makhluk dan bergantung kepadanya adalah sesuatu yang tercela.”[6]

    Maka aku katakan kepada syaikh ini, bahwa hadits ini dan penjelasan Imam An Nawawi bermakna tidak boleh meminta tolong (doa) kepada selain Allah ta’ala. Maka Syaikh itu berkata, “Bahkan boleh”. Aku katakan, “Apa dalilmu?” Dia pun marah dan berkata dengan suara keras, “Sungguh bibiku telah berdoa, wahai Syaikh Sa’ad (padahal Syaikh Sa’ad sudah dikubur di masjidnya, dia minta tolong (berdoa) kepada Syaikh Sa’ad), maka aku bertanya kepada bibiku, apakah Syaikh Sa’ad bisa memberi manfaat kepadamu? Bibiku berkata, aku berdoa kepada Syaikh Sa’ad, lalu beliau meneruskannya kepada Allah, hingga menyembuhkan aku.”

    Aku katakan kepada Syaikh ini, “Sungguh engkau seorang yang pintar, banyak membaca buku, lalu kenapa engkau mengambil aqidahmu dari bibimu yang jahil?” Dia berkata, “Engkau memiliki pemikiran Wahhabi, engkau pergi melaksanakan umroh lalu kembali dengan membawa buku-buku Wahhabi.”[7]

    Tatkala umat Islam meninggalkan Al Quran dan sunnah Rasul-Nya, menuju berbagai sekutu-sekutu selain-Nya serta mengkultuskan Al Badawi, Al Rifai, Abdul Qadir Al Jailani, Ibnu Abbas, dan Ibnu Al Ulwan juga menyembah batu-batuan tak bernyawa, muncullah cahaya petunjuk yang menyinari kegelapan jazirah Arab, Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah, yang menumpas segala bentuk kesyirikan dan penyekutuan.

    Nasab Syaikh Muhammad rahimahullah adalah Muhammad bin Abdil Wahhab bin Sulaiman bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Rasyid bin Buraid bin Muhammad bin Buraid bin Musyarrof bin Umar bin Mu’dhad bin Rais bin Zakhir bin Muhammad bin Alwi bin Wuhaib bin Qosim bin Musa bin Mas’ud bin Uqbah bin Sani’ bin Nahsyal bin Syaddad bin Zuhair bin Syihab bin Rabi’ah bin Abu Suud bin Malik bin Hanzhalah bin Malik bin Zaid Manah Ibni Tamim bin Mur bin Ad bin Thabikhah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan.

    Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pada Ilyas bin Mudhar, terus sampai kepada Nabi Ismail dan Ibrahim ‘alaihimassalam.

    Adapun ibu beliau adalah Bintu Muhammad bin Azaz Al-Musyarrofi Al Wuhaibi At-Tamimi. Beliau berasal dari Bani Tamim, kabilah yang dicintai oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan para sahabat, sebagaimana dalam riwayat berikut.

    Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku selalu mencintai Bani Tamim karena tiga perkara yang aku dengarkan dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Aku mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Mereka (Bani Tamim) adalah umatku yang paling keras terhadap Dajjal.” Kata Abu Hurairah, ketika datang sedekah dari bani Tamim, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ini adalah sedekah dari kaum kita.” Lalu Abu Hurairah, ada seorang tawanan (budak) wanita dari Bani Tamim milik Aisyah radhiyallahu ‘anha, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bebaskan dia, karena sesungguhnya dia adalah keturunan Nabi Ismail ‘alaihissalam.”[8]

    Beliau tumbuh di rumah keilmuan yang mewariskan banyak ilmu dari kakek-kakek beliau. Berikut beberapa sanak saudara beliau yang merupakan ulama:

    [a] Kakek beliau, Sulaiman bin Ali, merupakan pemimpin ulama Najd dan yang paling luas ilmunya serta banyak berdakwah. Beliau merupakan rujukan para ulama Najd dan pernah menjadi Qadhi di Uyainah.

    [b] Ayah beliau, Abdul Wahhab, merupakan ulama besar dan yang juga menjabat Qadhi di Uyainah selama empat belas tahun dari tahun 1125 H. Kemudian menjabat Qadhi di Huraimala selama empat belas tahun.

    [c] Syaikh Ibrahim bin Sulaiman bin Ali yang merupakan seorang ulama juga penulis yang terkenal adalah paman Syaikh Muhammad.[9]

    Beliau menuai pujian banyak ulama. Di antaranya Syaikh Muhammad bin Ismail Al Amir Ash Shan’ani, beliau memuji Syaikh Muhammad dalam bait syairnya,

    “Muhammad bin Abdul Wahhab adalah penunjuk jalan kepada sunnahnya Ahmad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Aduhai betapa mulianya sang penunjuk dengan yang ditunjuk. Sungguh telah mengingkarinya semua kelompok sesat. Pengingkaran tanpa dasar kebenaran dan tanpa pijakan.”[10]

    Syaikh Muhammad bin Ahmad Al Hifzhi Shahib Daujal berkata,

    “Dan Allah mengutus seorang mujaddid dari negeri Najd, seorang ulama mujtahid. Beliau adalah Syaikhul Huda Muhammad Al Muhammadi Al Hanbali Al Atsari Al Ahmadi. Beliau berjuang berdakwah melawan kesyirikan yang tengah merebak di tengah manusia dengan amat parah.”[11]

    Al-Imam Muhammad bin Ali Asy-Syaukani rahimahullah, penulis kitab Nailul Authar, ketika mendengar berita kematian Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah, Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah pun merangkai bait-bait syairnya,

    “Telah wafat tonggak ilmu dan pusat kemuliaan, Rujukan utama orang-orang pilihan yang mulia. Ilmu-ilmu agama nyaris hilang bersama wafatnya, Wajah kebenaran pun hampir lenyap tertelan derasnya arus sungai.”[12]

    Syaikh Muhammad Rasyid Ridho rahimahullah berkata,

    “Zaman yang telah banyak tersebar bid’ah ini, tidak akan pernah berlalu tanpa adanya ulama rabbaniyyin yang terpilih untuk memperbarui kembali bagi umat ini urusan agama mereka dengan dakwah dan ta’lim serta teladan yang baik.

    Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab di antara ulama pembaharu yang terpilih itu. Beliau bangkit untuk mengajak kepada tauhid dan memurnikan ibadah hanya kepada Allah semata, meninggalkan bid’ah dan kemaksiatan.”[13]

    Dr. Thaha Husain rahimahullah, sastrawan Mesir berkata,

    “Sungguh dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah mazhab baru namun hakikatnya lama, kenyataannya ajaran ini memang baru bagi orang-orang yang hidup di zaman ini, tetapi hakikatnya lama. Sebab dakwah beliau tidak lain hanyalah ajakan yang kuat kepada Islam yang murni, bersih lagi suci dari noda-noda syirik dan paganisme.”[14]

    Syaikh Muhammad Hamid Al-Faq rahimahullah, ulama Al-Azhar, berkata,

    “Al-Wahhabiyyah adalah penisbatan kepada seorang Imam Al-Mushlih (yang mengadakan perbaikan), Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, beliau adalah mujaddid (pembaharu) abad ke-12 Hijriyah. Namun penisbatan nama Wahabi kepada beliau salah menurut bahasa Arab, yang benar penisbatannya adalah Muhammadiyyah (bukan Wahabiyah), karena nama beliau Muhammad bukan Abdul Wahhab.”[15]

    Dr. Taqiyyuddin Al-Hilali rahimahullah, ulama Iraq, berkata dalam mukadimah kitab, Muhammad bin Abdil Wahhab Muslihun Mazlumun wa Muftara ‘alaihi’,

    “Tidak samar lagi bahwa Al-Imam Ar-Rabbani Al-Awwab Muhammad bin Abdul Wahhab bangkit dengan dakwah hanifiyyah (tauhid), beliau telah melakukan pembaharuan kembali zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Dan beliau mendirikan daulah yang mengingatkan manusia dengan daulah Khulafaur Rasyidin.”[16]

    Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah memiliki banyak karya tulis, di antaranya Ushulul Iman, Ushul Tsalatsah wa Adillatuha, At Tauhidul ladzi huwa Haqqullah ‘alal ‘Abid, Tsalatsau Masa-il fii Thalabil ‘Ilmi, Khuthab Syaikhil Islam Muhammad bin Abdil Wahhab, Ar Raddu ‘alar Rafidhah, Mukhtashar Zaadil Ma’ad, Mukhtashar Sirah Nabawiyyah, Masa-ilul Jahiliyyah, Kasyfusy Syubuhat, Ma’nath Thaghut, Al Jami’ li ‘Ibadatillah wahdah, Tafsir Kalimatit Tauhid, Talqin Ushul Aqidah ‘Ammah, dan Al Masa-il Arba’.[17]


    [1] Di’ayaat Mukatstsafah Diddu Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, hal 105-106

    [2] Majmu’atur Rosaail At-Taujihat Al-Islamiyah Li Ishlahil Fardi wal Mujtama’ (1/182)

    [3] Al Quran, surah Ali Imran, ayat : 8

    [4] Majmu’atur Rosaail At-Taujihat Al-Islamiyah Li Ishlahil Fardi wal Mujtama’ (3/240)

    [5] HR. At-Tirmidzi

    [6] Syarhu Al Arba’iin An Nawawiyyah, ditahqiiq oleh Syaikh Ali Ahmad Abdil ‘Aal At Thataawi, hal. 77-78

    [7] Maj’muatur Rosaail At-Taujihaat Al-Islamiyyah Li Ishlahil Fardi wal Mujtama’ (3/191)

    [8] Ulama Najd Khilal Tsamaniyah Qurun (1/125-127)

    [9] Ulama Najd Khilal Tsamaniyah Qurun (1/127-128)

    [10] Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab: Aqidatuhu As Salafiyyah, wa Dakwatuhu Al Ishlahiyah, wa Tsana-ul ‘Ulama ‘alaihi, hal 58

    [11] Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab: Aqidatuhu As Salafiyyah, wa Dakwatuhu Al Ishlahiyah, wa Tsana-ul ‘Ulama ‘alaihi, hal 59

    [12] Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab: Aqidatuhu As Salafiyyah, wa Dakwatuhu Al Ishlahiyah, wa Tsana-ul ‘Ulama ‘alaihi, hal 60

    [13] Majmu’atu Rasa-ilit Tawjihatil Islamiyyah li Ishlahil Fardi wal Mujtama’ (3/239)

    [14] Majmu’atu Rasa-ilit Tawjihatil Islamiyyah li Ishlahil Fardi wal Mujtama’ (3/239)

    [15] Majmu’atu Rasa-ilit Tawjihatil Islamiyyah li Ishlahil Fardi wal Mujtama’ (3/240)

    [16] Majmu’atu Rasa-ilit Tawjihatil Islamiyyah li Ishlahil Fardi wal Mujtama’ (3/240)

    [17] Da’watusy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bainal Mu’aridhin wal Munshifin wal Mu-ayyidin, hal 81