Waktu-Waktu Shalat

Satu diantara syarat sahnya shalat selain dari niat dan bersuci adalah masuknya waktu shalat. Tentang ini, Allah berfirman;

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

“Sesungguhnya shalat adalah ibadah yang telah ditentukan waktunya bagi orang-orang beriman.”. (An Nisaa; 103)

Apa saja waktu-waktu itu ?

Secara umum penjelasan hal ini telah disampaikan Allah lewat firman Nya;

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (Al Israa; 78)

Dalam ayat tersebut ada penjelasan global tentang lima waktu shalat, yaitu :

  1. Shalat Dzhuhur dan Ashar, dimulai ketika matahari telah tergelincir ke arah tempat tenggelamnya.
  2. Shalat Maghrib dan Isya, dimulai ketika matahari telah tenggelam hingga tiba waktu dimana malam sudah sangat gelap (tengah malam)
  3. Shalat subuh, ketika waktu fajar telah menyingsing.

Perincian keterangan ini selanjutnya dijelaskan diantaranya melalui perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, diantaranya yang disampaikan oleh Jabir bin Abdullah:

كَان النَّبيُ صَلَى الله عَلَيْةِ وسَلَمَ يُصَلى الظهْرَ بالْهَاجرَةِ، وَالعَصْرَ، والشمس نَقِية، وَالمغْرِبَ إِذَا وَجَبَتْ، وَالعشَاءَ أحياناً وأحْيَاناً . إِذا رَآهُمُ اجْتَمَعُوا عجَّلَ وَإذا رآهُم أبْطَئُوا أخَرَ، والصبْحُ كَانَ النبي صَلَّى الله عَلَيْهِ وسَلَّمَ يُصَليهَا بِغَلَس

  • Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat dzhuhur ketika matahari sangat terik (di siang hari, setelah matahari tergelincir ke arah tempat terbenamnya)
  • Beliau melaksanakan shalat Ashar ketika cahaya matahari masih terang
  • Beliau melaksanakan shalat maghrib ketika matahari telah tenggelam
  • Beliau melaksanakan shalat isya; terkadang di awal waktu (ketika cahaya merah telah memenuhi awan setelah terbenamnya matahari), yaitu ketika para sahabat telah berkumpul di awal waktu itu; dan terkadang pula beliau melaksanakannya di akhir waktu (tengah malam), yaitu ketika para sahabat belum berkumpul di awal waktu itu.
  • Beliau melaksanakan shalat subuh ketika hari masih gelap (setelah terbitnya fajar)

Dalam keterangan lain dikatakan bahwa Abu Barzah radhiyallahu ‘anhu pernah ditanya tentang waktu-waktu shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau menjawab ;

كَانَ يُصَلِّى الهاجرة الَّتي تَدْعُونَهَا الأوَلى، حِينَ تَدْحَضُ الشًمْسُ، وَيُصَلى الْعَصْرَ، ثُمّ يَرْجِعُ أحَدُنَا إِلى رَحْلِهِ في أقْصَى الْمَدِينَةِ وَالشًمْسُ حَيّة. وَنَسِيت مَا قَال في الْمَغْرِبِ وَكَانَ يَسْتَحِبُّ أنْ يُؤَخرَ مِنَ العشَاءِ التي تَدعُونَهَا الْعَتَمَةَ. وَكَانَ يَكْرَهُ النَوْمَ قبلَهَا وَاْلحدِيث بَعْدَهَا. وَكَان يَنْفَتِلُ مِنْ صَلاةِ اْلَغدَاةِ حِينَ يَعْرِفُ الرَجُلُ جَلِيسَهُ. وَكَانَ يَقْرأ بالستينَ إِلى الْمائَةِ

  • Beliau melaksanakan shalat dzhuhur ketika matahari sangat terik (dipertengahan hari, disaat matahari telah tergelincir ke arah terbenamnya)
  • Beliau melaksanakan shalat ashar (dalam sebuah keterangan dikatakan; ketika tinggi bayangan suatu benda sama dengan tinggi bendanya) dan setelah itu, salah seorang dari mereka yang tinggal di pinggiran madinah pulang ke rumahnya sedangkan sinar matahari masih terang
  • Tentang shalat maghrib, perawi hadits ini dari Abu Dzar berkata; saya lupa apa yang beliau katakan tentang waktu tersebut (tetapi telah disebutkan dalam hadits Jabir)
  • Adapun tentang shalat isya, maka Rasulullah senang menunda pelaksanaannya hingga akhir waktunya (tengah malam)
  • Beliau tidak senang tidur sebelum shalat isya dan begadang setelahnya
  • Beliau selesai melaksanakan shalat subuh ketika seorang sudah dapat mengenali rekan duduknya, dan ketika itu beliau melaksanakan shalat dengan bacaan kira-kira 60 hingga 100 ayat.

Keterangan lain berkenaan dengan waktu shalat ini adalah hadits Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah didatangi Jibril Alaihissallam lalu ia berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bangun dan shalatlah!”

  • Maka beliau shalat Zhuhur ketika matahari telah tergelincir.
  • Kemudian Jibril mendatanginya lagi saat ‘Ashar dan berkata, “Bangun dan shalatlah!” Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat ‘Ashar ketika bayangan semua benda sama dengan panjang benda itu.
  • Kemudian Jibril mendatanginya lagi saat Maghrib dan berkata, “Bangun dan shalatlah.” Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat Maghrib ketika matahari telah terbenam.
  • Kemudian Jibril mendatanginya saat ‘Isya’ dan berkata, “Bangun dan shalatlah!” Lalu beliau shalat ‘Isya’ ketika merah senja telah hilang.
  • Kemudian Jibril mendatanginya lagi saat Shubuh dan berkata, “Bangun dan shalatlah!” Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat Shubuh ketika muncul fajar, atau Jabir berkata, “Ketika terbit fajar.”

Keesokan harinya,

  • Jibril kembali mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat Zhuhur dan berkata, “Bangun dan shalatlah!” Lalu beliau shalat Zhuhur ketika bayangan semua benda sama panjang dengan aslinya.
  • Kemudian dia mendatanginya saat ‘Ashar dan berkata, “Bangun dan shalatlah!” Lalu beliau shalat ‘Ashar ketika panjang bayangan semua benda dua kali panjang bendanya.
  • Kemudian dia mendatanginya saat Maghrib pada waktu yang sama dengan kemarin dan tidak berubah.
  • Kemudian dia mendatanginya saat ‘Isya’ ketika pertengahan malam telah berlalu -atau sepertiga malam,- lalu beliau shalat ‘Isya’.
  • Kemudian Jibril mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat hari sudah sangat terang dan berkata, “Bangun dan shalatlah!” Lalu beliau shalat Shubuh kemudian berkata,
  • ‘Di antara dua waktu tersebut adalah waktu shalat.’”

Disimpulkan dari seluruh keterangan yang telah disebutkan bahwa waktu-waktu shalat wajib adalah :

  1. Shalat Dzhuhur, dimulai ketika matahari telah tergelincir dari tengah langit ke arah terbenamnya; dan berakhir ketika masuk waktu ashar.
  2. Shalat Ashar, dimulai ketika panjang bayangan sebuah benda sama dengan panjang benda itu; dan berakhir ketika panjang bayangan sebuah benda adalah dua kali panjang benda tersebut.
  3. Shalat Maghrib, dimulai ketika matahari telah tenggelam; dan berakhir ketika waktu shalat Isya telah masuk.
  4. Shalat Isya, dimulai ketika cahaya merah yang menyebar di ufuk setelah terbenamnya matahari telah hilang; dan berakhir ketika tiba pertengahan malam.
  5. Shalat subuh, dimulai ketika waktu fajar telah menyingsing, yang ditandai dengan adanya cahaya merah di ufuk yang menyebar sebelum terbitnya matahari. Dan waktu shalat subuh berakhir ketika matahari telah terbit.

Waktu yang paling utama

Setelah mengetahui waktu-waktu shalat tersebut, dipahami bahwa masing-masing shalat itu memiliki interval waktu; awal waktu, pertengahan waktu dan akhir waktu. Jika demikian, manakah waktu yang paling utama melaksanakan shalat dari interval waktu yang disebutkan; awal waktu kah ?, atau pertengahan ?, atau akhir waktu ?.

Secara umum dinyatakan bahwa waktu yang paling afdhal untuk melaksanakan shalat adalah di awal waktunya. Dalam riwayat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa Beliau pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang amalan yang paling dicintai Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Shalat di awal waktu, berbuat baik kepada orang tua dan jihad fi sabilillah.”.

Jika ditanyakah; lantas bagaimana dengan hadits Rasulullah yang redaksinya adalah :

أسفروا بالفجر، فإنه أعظم للأجر

“Shalat subuhlah ketika hari telah terang (sebelum matahari terbit) karena sesungguhnya pahalanya akan lebih besar.”. (HR. Tirmidzi). Dipahami dari hadits ini bahwa waktu terbaik untuk melaksanakan shalat subuh adalah di akhir waktunya. Apakah demikian ?

Jawab : Tentang waktu terbaik melaksanakan shalat subuh, ada beda pendapat dikalangan ulama. Diantara mereka ada yang berpendapat bahwa waktu terbaiknya adalah di awal waktu; dan ada juga yang berpendapat bahwa waktu terbaiknya adalah di akhir waktu.

Namun pendapat yang lebih tepat menyatakan –wallahu a’lam- bahwa waktu terbaik melaksanakan shalat subuh itu adalah di awal waktu. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata bahwa para sahabat wanita biasa melaksanakan shalat subuh berjama’ah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Usai shalat, mereka langsung pulang ke rumah-rumahnya. Ketika itu, suasana masih sangat gelap; seorang belum bisa mengenali mereka karena suasana yang masih sangat gelap itu.

Keterangan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha tadi menunjukkan bahwa ketika itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat subuh di awal waktu. Penjelasan ini lebih diperkuat lagi dengan keterangan Abu Barzah radhiyallahu ‘anhu –sebagaimana penjelasan sebelumnya- bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya melaksanakan shalat dengan kadar bacaan kira-kira 60 hingga 100 ayat.

Jika demikian, bagaimana dengan hadits imam Tirmidzi yang dibawakan di awal ?

Jawab : Sebagian ulama ada yang mengarahkan makna hadits tersebut tidak secara tekstual, tetapi mereka mentakwilnya;

  1. Sebagian mengatakan bahwa maksud dari hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam “Shalat subuhlah ketika hari telah terang” bukanlah perintah untuk menunda pelaksanaan shalat subuh hingga akhir waktunya. Tetapi maksud dari hadits tersebut adalah perintah untuk bersugguh-sungguh memastikan bahwa waktu shalat subuh telah masuk agar mereka tidak melaksanakan shalat sebelum waktunya.
  2. Sebagian lagi mengatakan bahwa maksud dari hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tadi adalah perintah untuk memperpanjang pelaksanaan shalat subuh dengan membaca ayat-ayat yang panjang. Dengan itu, maka biasanya mereka selesai shalat subuh pada saat hari sudah agak terang.

Selanjutnya, telah dipaparkan bahwa secara umum waktu terbaik melaksanakan shalat adalah di awal waktunya. Adakah pengecualian dari hal tersebut ?

Jawab : Ia … .Dikecualikan dari keumuman ketentuan itu beberapa jenis shalat, yaitu:

  1. Shalat dzhuhur ketika cuaca sangat terik.

Pada saat itu dianjurkan menunda pelaksanaan shalat hingga terik matahari sedikit menurun. Dalam riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu disebutkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

إِذَا اشتَدَّ الْحَرُّ فَأبرِدُوا بِالصلاة فإنَّ شِدَّةَ الحَرِّ من فَيْح جَهَنمَ

“Apabila cuaca (diwaktu dzhuhur) sangat panas, maka tundalah pelaksanaan shalat dzhuhur hingga panas matahari menjadi reda (selama waktu dzhuhr belum berakhir).”.

  1. Shalat Isya.

Waktu yang disenangi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melaksanakannya adalah di akhir waktu (tengah malam), kecuali jika para sahabat telah berkumpul di awal waktu (hingga jika ditunda ke akhir waktu tentu akan menyusahkan mereka), maka ketika itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakannya di awal waktu sebagaimana disebutkan dalam hadits Jabir bin Abdullah yang telah disampaikan sebelumnya.

Qadha Shalat

Pada ulasan sebelumnya telah disampaikan bahwa shalat baru dinyatakan sah jika shalat itu dikerjakan pada waktunya masing-masing.

Namun mungkin sebagian kita bertanya bagaimana jika seorang berada dalam suatu keadaan yang betul-betul tidak memungkinkannya untuk melaksanakan shalat pada waktunya. Adakah keringanan baginya untuk melaksanakan shalat itu di luar waktunya ?

Secara umum kembali dinyatakan bahwa satu diantara syarat sahnya shalat adalah dilaksanakan pada waktunya. Allah berfirman;

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

“Sesungguhnya shalat itu adalah ibadah bagi orang-orang beriman yang telah ditetapkan waktunya.”. (An Nisaa; 103). Terhadap mereka yang sengaja menunda pelaksanaannya, hingga keluar batas waktunya, maka Allah mengancamnya lewat firman Nya;

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (4) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

“Maka celakalah (neraka wail lah) bagi orang-orang yang shalat. Yaitu mereka yang lalai dari shalatnya.”. (Al Ma’uun; 4-5). Ulama mengatakan bahwa maksud firman Nya ; “mereka yang lalai dari shalatnya” adalah mereka yang lalai dan mengentengkan pelaksanaan shalat, hingga mereka menundanya dan kemudian baru melaksanakannya ketika waktunya telah lewat.

Orang-orang yang sengaja menunda pelaksanaan shalatnya hingga melewati batas waktunya, maka mereka tidak akan dapat menggantinya, meski mereka kerjakan shalat tersebut seribu kali. Shalat yang mereka kerajakan sengaja setelah berlalu waktunya sama dengan shalat yang mereka kerjakan sebelum masuknya waktu shalat tersebut; keduanya tidak akan sah. Olehnya wajib bagi setiap muslim untuk bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa dan tidak menggampangkan perkara besar di sisi Allah.

Adapun jika seorang mengalami sebuah keadaan seperti yang telah disampaikan di awal, maka diantara ulama ada yang berpendapat bahwa dibolehkan bagi seorang melaksanakan shalat setelah waktu pelaksanannya selesai jika pada waktu shalat tersebut seorang berada dalam kondisi yang tidak memungkinkannya untuk shalat; baik dengan gerakan, isyarat atau bahkan dengan hati. Kondisi mereka ini sama dengan kondisi yang pernah dialami oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta para sahabatnya, sebagaimana yang dituturkan oleh Ali radhiyallahu ‘anhu; Dalam sebuah peperangan dengan orang-orang musyrik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertahan hingga tidak dapat melaksanakan shalat Ashar pada waktunya. Di saat itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat marah karena tertahan oleh mereka hingga tidak bisa melaksanakan shalat Ashar tersebut hingga matahari pun tenggelam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

شَغَلُونَا عَنْ صَلَاةِ الْوُسْطَى – صَلَاةِ الْعَصْرِ – مَلَأَ اللَّهُ بُيُوتَهُمْ وَقُبُورَهُمْ نَارًا

“Mereka telah menyibukkan kita dari pelaksanaan shalat wustha –shalat Ashar-. Semoga Allah memenuhi kubur dan rumah-rumah mereka dengan api.”. Setelah itu, Ali radhiyallahu ‘anhu berkata;

ثُمَّ صَلَاهَا بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ

“Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat Ashar tersebut antara maghrib dan Isya.”.

Dari hadits ini diketahui bahwa satu keadaan yang membolehkan seorang melaksanakan shalat setelah waktu pelaksanaannya berlalu adalah keadaan dimana seorang betul-betul tidak bisa melaksanakan shalat tersebut di waktunya; tidak dengan gerakan atau isyarat atau bahkan tidak juga dengan hatinya. Wallahu a’lam bis shawaab.

Pelajaran lain dari hadits Ali ini adalah :

  1. Hadits ini adalah satu diantara yang dijadikan dalil dari sebuah qaidah fiqh yang menyatakan;

الْأَمر إِذا ضَاقَ اتَّسع وَإِذا اتَّسع ضَاقَ

“Keadaan atau perkara jika berhadapan dengan situasi darurat maka hukumnya menjadi fleksibel dan jika keadaan atau perkara itu telah kembali normal maka hukumnya pun berlaku sesuai dengan asalnya.”.

  1. Nama lain dari shalat Ashar adalah shalat wustha. Wustha sendiri secara bahasa berarti pertengahan. Dan penggunaan diksi “al wustha” yang dilekatkan pada shalat Ashar memberi isyarat akan kemuliaan shalat tersebut. Karena kata “al wustha” biasanya dimaknai sebagai sesuatu yang terbaik.

Waktu-waktu terlarang melaksanakan shalat

Setelah mengetahui waktu-waktu shalat, maka hal lain yang juga perlu disampaikan adalah waktu-waktu terlarang melaksanakan shalat. Penjelasan akan hal tersebut disampaikan dalam hadits ‘Amr bin ‘Abasah As Sulamiy, beliau pernah bertanya kepada Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang waktu-waktu shalat. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

صَلِّ صَلاَةَ الصُّبْحِ ثُمَّ أَقْصِرْ عَنِ الصَّلاَةِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ حَتَّى تَرْتَفِعَ فَإِنَّهَا تَطْلُعُ حِينَ تَطْلُعُ بَيْنَ قَرْنَىْ شَيْطَانٍ وَحِينَئِذٍ يَسْجُدُ لَهَا الْكُفَّارُ ثُمَّ صَلِّ فَإِنَّ الصَّلاَةَ مَشْهُودَةٌ مَحْضُورَةٌ حَتَّى يَسْتَقِلَّ الظِّلُّ بِالرُّمْحِ ثُمَّ أَقْصِرْ عَنِ الصَّلاَةِ فَإِنَّ حِينَئِذٍ تُسْجَرُ جَهَنَّمُ. فَإِذَا أَقْبَلَ الْفَىْءُ فَصَلِّ فَإِنَّ الصَّلاَةَ مَشْهُودَةٌ مَحْضُورَةٌ حَتَّى تُصَلِّىَ الْعَصْرَ ثُمَّ أَقْصِرْ عَنِ الصَّلاَةِ حَتَّى تَغْرُبَ الشَّمْسُ فَإِنَّهَا تَغْرُبُ بَيْنَ قَرْنَىْ شَيْطَانٍ وَحِينَئِذٍ يَسْجُدُ لَهَا الْكُفَّارُ

“Laksanakanlah shalat subuh (pada waktunya), kemudian tahanlah (jangan laksanakan shalat) hingga matahari terbit dan dan naik (kira-kira setinggi satu tombak kecil), karena pada saat itu matahari terbit diantara dua tanduk syaithan dan orang-orang kafir (para penyembahnya) sujud menyambut sang matahari itu. (Setelah waktu itu berlalu) kembalilah (boleh) melakasanakan shalat, karena shalat itu dihadiri oleh para malaikat. Dan ketika bayangan sebuah benda hilang (matahari tepat berada di atas benda itu) berhentilah melaksanakan shalat (jangan shalat), karena pada saat itu neraka jahannam tengah dipanaskan. Selanjutnya, ketika matahari telah tergelincir (dari tengah langit bergeser ke arah tenggelamnya), maka kembalilah melaksanakan shalat, karena shalat itu disaksikan dan dihadiri oleh para malaikat. Jika telah masuk waktu Ashar dan engkau telah melaksanakan shalat ashar, maka tahan dan janganlah shalat setelahnya hingga matahari telah terbenam. Sesungguhnya matahari itu terbenam diantara dua tanduk syaithan, dan pada saat itu orang-orang kafir (para penyembah matahari) sujud (penghormatan kepada matahari).”. (HR. Muslim)

Hadits lain berkenaan dengan waktu-waktu terlarang ini adalah hadits ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, Beliau berkata;

ثلاث ساعات نهانا رسول الله – صلى الله عليه وسلم – أن نصلى فيهن أو أن نقبر فيهن موتانا : حين تطلع الشمس بازغة حتى ترتفع ، وحين يقوم قائم الظهيرة (1) ، وحين تضيف(2) للغروب ) رواه مسلم

“Tiga waktu yang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kami dilarang melaksanakan shalat dan menguburkan mayit pada ketiganya, yaitu; ketika matahari terbit dan naik (kira-kira setinggi satu tombak kecil), ketika matahari tepat berada di atas kepala seseorang, dan ketika matahari terbenam.”. (HR. Muslim)

Dari kedua hadits ini diketahui beberapa hal, diantaranya terkait dengan waktu-waktu terlarang melaksanakan shalat dan sebabnya, yaitu;

  1. Setelah masuknya waktu subuh hingga matahari terbit (kira-kira setinggi satu tombak kecil).

Jika waktu shalat subuh telah masuk, maka tidak ada lagi shalat kecuali shalat sunnah rawatib sebelum shalat subuh dan shalat subuh.

Tentang sebab pelarangan shalat ketika matahari terbit maka dijelaskan bahwa waktu itu adalah waktu yang digunakan oleh orang-orang kafir untuk mengagungkan sembahannya (matahari).

  1. Ketika matahari tepat berada di atas kepala seseorang hingga tergelincir ke arah terbenamnya.

Tentang sebab pelarangannya maka dijelaskan bahwa ketika itu neraka jahannam tengah dipanaskan.

Dan olehnya juga maka dianjurkan untuk menunda pelaksanaan shalat dzhuhur jika cuaca sangat panas hingga cuaca lebih dingin, yaitu selama belum masuk waktu shalat ashar, karena panasnya cuaca di waktu itu adalah imbas dari panasnya neraka jahannam.

  1. Ketika seorang telah melaksanakan shalat ashar hingga matahari telah terbenam.

Tentang sebab pelarangannya, maka sebagaimana point pertama disebutkan bahwa waktu itu adalah waktu yang digunakan oleh orang-orang kafir untuk mengagungkan sembahannya (matahari).

Pelajaran lain dari hadits ‘Uqbah bin ‘Amir adalah larangan menguburkan mayat pada tiga waktu, yaitu;

  1. Ketika matahari sedang terbit hingga telah terbit dan naik sekitar satu tombak kecil
  2. Ketika matahari tepat berada di atas kepala seseorang hingga tergelincir
  3. Ketika matahari sedang terbenam hingga telah terbenam

Pelajaran tambahan dari hadits ‘Amr bin ‘Abasah As Sulamiy adalah larangan bertasyabbuh dengan orang-orang kafir.

Demikian beberapa hal terkait dengan waktu-waktu pelaksanaan shalat. Semoga Allah senantiasa menuntun kita menjadi orang-orang yang senantiasa menjaga dan menegakkan shalat.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: