Zakat Emas, Perak dan Zakat Harta

    0
    129

    Allah berfirman;

    خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

    “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdoalah untuk mereka.”. (At Taubah; 103)

    Diantara zakat yang wajib ditunaikan oleh seorang hamba mukmin  adalah zakat emas dan perak. Bila seorang muslim yang merdeka memiliki harta berupa emas atau perak yang telah memenuhi syarat wajibnya zakat, yaitu mencapai nishab dan telah mencapai haul (satu tahun hijriah) maka wajib baginya untuk mengeluarkan zakatnya sebesar 2,5% atau 1/40. 

    Adapun dalil yang memunjukkan kewajiban membayar zakat emas dan perak adalah sebagai berikut :

    a. keumuman perintah  Allah Ta’ala untuk mengambil zakat :

    خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِم صَدَقَةً تُطَهِّرُهُم وَتُزَكِّيْهِمْ بِهَا

    “Ambillah zakat dari harta mereka guna membersihkan dan menyucikan mereka.”. ( QS : Attaubah : 103)

    b. Ancaman Allah  akan azab yang pedih terhadap orang-orang yang tidak mau menginfakkan hartanya  yang berupa emas atau perak dijalan Allah. Firman Allah Ta’ala :

    وَالّذِينَ يَكْنِزُوْنَ الذَّهَبَ وَالفِضَّةَ وَلاَ يُنْفِقُوْنَهَا فِي سَبِيلِ الّلهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيْمٍ . يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِيْ نَارِجَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوْبُهُمْ وَظُهُوْرُهُمْ ، هذَا مَا كَنَزْتُمْ لأَنْفُسِكُمْ فَذُوْقُوْ مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُوْنَ

    “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak mau menginfakkannya di jalan Allah, maka berikalanlah kabar gembira kepada mereka bahwa mereka akan mendapatkan azab yang pedih. Ingatlah ketika emas dan perak dipanaskan dalam neraka jahannam, lalu dengan itu disetrika dahi, lambung, dan punggung mereka seraya dikatakan kepada mereka, “inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri maka rasakanlah akibat dari apa yang kamu simpan itu.”( QS: Attaubah : 34-35)

     

    Dalil ketentuan Nishab zakat emas dan perak dan kadar zakat yang dikeluarkan dari keduanya.

    Disebutkan dalam hadist, dari seorang sahabat bernama Ali bin Abi Thalib radiyallahu ‘anhu, dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda :

    إِذَا كَانَتْ لَكَ مائتا دِرْهَمِ ، وَحَالَ عَلَيْهَا الحَوْل فَفِيْهَا خَمْسَةُ دَرَاهِم ، وَلَيْسَ عَلَيْكَ شَيْئٌ -يَعْنِي فِي الذَّهَبِ- حَتَّى يَكُوْنَ لَكَ عِشْرُوْنَ دِيْنَارًا ، فَإِذَا كَانَتْ لَكَ عِشْرُونَ دِيْنَارًا وَ حَالَ عَلَيْهَا الحَولُ فَفِيهَا نِصْفُ دِيْنَار

    “Apabila engkau memiliki dua ratus dirham dan telah berlalu satu tahun (sejak memilikinya) maka padanya engkau dikenai zakat sebesar lima dirham. Dan engkau tidak berkewajiban membayar zakat sedikitpun- yang dimaksud zakat emas- hingga engkau memiliki dua puluh dinar. Apabila engkau telah memiliki dua puluh dinar dan telah berlalu satu tahun (sejak memilikinya), maka padanya engkau dikenai zakat setengah dinar”. (HR Abu Dawud no 1558, At Tirmidzi no 616 di shahihkan oleh syekh Albani dan di Hasankan oleh Ibnu Hajar dalam fathul Bari). Dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ;

    ليس فِيْمَا دُوْنَ خَمْسِ أَوَاقٍ مِنَ الْوَرِقِ صَدَقَةٌ

    “Tidaklah ada kewajiban  zakat pada uang perak yang kurang dari lima uqiyyah.”. ( HR Bukhari no 1483 dan Muslim 979 ). Kalimat awaq dalam hadist diatas adalah bentuk plural (jama’) dari kalimat uqiyyah, dan satu uqiyyah sama dengan 40 dirham, maka 5 awaq sama dengan 200 dirham.

     Dari dua hadits diatas dapat diambil beberapa pelajaran :

    Pertama, bahwa nishab perak  5 awaq= 200 dirham, dari perak murni = 595 gram perak. Bahwa nishab emas = 20 dinar, dimana 1 dinar = 4,25 gram. Maka 20 dinar = 85 gram dari emas 24 karat, yang nilainya sama dengan 97 gram dari emas 21 karat, yang nilainya sama dengan 113 gram dari emas 18 karat.

    Kedua, emas dan perak  yang telah mencapai nishab harus berlalu selama satu tahun (tahun hijriah secara sempurna).

    Ketiga, besar zakat yang dikeluarkan dari emas dan perak adalah masing-masing 2,5% atau 1/40.

    Contoh : seseorang memiliki 500 gram emas 24 karat, maka berapa besar zakat yang dikeluarkan jika telah mencapai haul?

    Jawab : karena harta orang tersebut telah mencapai nisab dan haul maka wajib baginya mengeluarkan zakat. Cara menghitungnya adalah 500 gram X 1/40 = 12,5 gram. Berarti zakat yang harus dikeluarkan orang tersebut adalah 12,5 gram.

    Apakah perlu menggabungkan/menambahkan emas dan perak untuk menyempurnakan nishab ?

    Bila seseorang memiliki beberapa gram emas belum mencapai nishab, di satu sisi ia juga memiliki beberapa gram perak yang belum mencapai nishab. Namun jika emas dan perak tersebut digabungkan/ditambahkan maka akan mencapi nishab. Apakah penggabungan itu perlu dilakukan?

    Jawab : para ulama dalam masalah ini memiliki dua pendapat :

    Pendapat pertama, orang tersebut wajib menggabungkan emas dan perak tersebut untuk menyempurnakan nishab, kemudian dia mengeluarkan zakatnya. Ini adalah pendapat jumhur ‘ulama (al hanafiah, al malikiyyah, dan salah satu riwayat dari imam ahmad, dan sufyan attsauri dan Auza’i). (Al Mausuu’ah al Fiqhiyyah, 23/267)

    Dalil pendapat ini, bahwa keduanya (emas dan perak) memiliki fungsi dan manfaat yang sama yaitu sebagai mata uang yang berfungsi sebagai alat tukar untuk transaksi jual-beli.

    Pendapat kedua, tidak ditambahkan/digabungkan emas dan perak tersebut. Ini adalah pendapat as syafi’iyyah, salah satu riwayat imam Ahmad, pendapat Abu Tsaur, Ibnu Hazm, dan inilah pendapat yang dipilih oleh Syekh Albani dan Syekh Utsaimin. (Abu Malik kamaluddin sayyid, Shhih fiqih sunnah jilid 2 halaman 16-17)

    Dalil pendapat kedua ini adalah keumuman hadist Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam;

     ليس فِيْمَا دُوْنَ خَمْسِ أَوَاقٍ مِنَ الْوَرِقِ صَدَقَةٌ

    “Tidaklah ada kewajiban  zakat pada uang perak yang kurang dari lima uqiyyah.”. ( HR Bukhari no 1483 dan Muslim 979 ). Dan keumuman hadist :

    وَلَيْسَ عَلَيْكَ شَيْئٌ – يَعْنِي فِي الذَّهَبِ- حَتَّى يَكُوْنَ لَكَ عِشْرُوْنَ دِيْنَارًا

    “Engkau tidak berkewajiban membayar zakat sedikitpun -yang dimaksud zakat emas- hingga engkau memiliki dua puluh dinar.”.

    Dua dalil diatas menunjukkan bahwa mereka yang menggabungkan emas dan perak untuk menyempurnakan nishab, maka mereka telah mewajibkan zakat dari emas dan perak yang keduanya belum mencapai nishabnya masing-masing.

    Selain dalil tersebut, mereka juga menggunakan dalil qiyas terhadap sapi dan kambing dalam zakat peternakan, dimana satu sama lain dari jenis hewan tersebut tidak digabungkan untuk menyempurnakan nishab.

    Pendapat yang terpilih (rajih) ; Dari ulasan yang telah disebutkan, maka argument dari pendapat kedua adalah lebih kuat. Olehnya pendapat itulah yang rojih dan terpilih. (As Syarhul Mumti’; jilid 6, halaman 107). Wallahu a’lam bi asshawab.

     

    Zakat Perhiasan

    Salah satu pembahasan yang diangkat para ulama dalam bab zakat adalah zakat perhiasan, karena emas dan perak tidak selamanya dalam bentuk batangan, namun ada yang sudah berubah bentuk menjadi perhiasan.

    Perhiasan pun dibagi menjadi 2 jenis, yaitu : perhiasan dari emas dan perak, serta perhiasan selain emas dan perak.

    Terhadap perhiasan dari emas dan perak maka para ulama salaf dan kholaf (kontemporer) berbeda pendapat; apakah wajib zakat pada keduanya atau tidak ?. Dalam masalah ini ada dua pendapat ulama yang paling terkenal, yaitu :

    Pendapat pertama : bahwa tidak ada zakat pada perhiasan dari emas dan perak yang dipakai oleh wanita. Ini adalah pendapat jumhur ulama dan perkataan dari Ibnu ‘Umar, Jabir bin Abdillah dan Asma’ binti Abi Bakr.

    Dalil pendapat ini : Mereka menyatakan ada hadist Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi :

     لَيْسَ فِي الحُلِي زَكَاةٌ

    “Tidak ada zakat terhadap perhiasan.”. (Irwaa Al Ghaliil, 3/294-295)

    Namun hadist ini tidaklah sah bila disandarkan kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, yang tepat bahwa hadist ini adalah perkataan dari sahabat bernama Jabir bin Abdillah radiyallahu ‘anhu. Ibnu umar juga menyebutkan perkataan yang sama dengan yang dikatakan oleh Jabir, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abdurrozzaq, Ibnu Abi syaybah, dan Daruquthni dengan sanad yang shahih.

    Pendapat Kedua : Bahwa perhiasan dari emas dan perak wajib dikeluarkan zakatnya secara mutlak bila telah mencapai nishab dan telah berlalu satu tahun (tahun hijriah); baik perhiasan tersebut disimpan,  digunakan atau diperdagangkan. Ini adalah pendapat para ulama Hanafiah, salah satu riwayat dari imam Ahmad, dan pendapat dari Ibnu Hazm. Diantara dalil pendapat ini :

    1. Keumuman firman Allah Ta’ala :

    وَالّذِينَ يَكْنِزُوْنَ الذَّهَبَ وَالفِضَّةَ وَلاَ يُنْفِقُوْنَهَا فِي سَبِيلِ الّلهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيْمٍ . يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِيْ نَارِجَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوْبُهُمْ وَظُهُوْرُهُمْ ، هذَا مَا كَنَزْتُمْ لأَنْفُسِكُمْ فَذُوْقُوْا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُوْنَ

    “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak mau menginfakkannya di jalan Allah (membayar zakatnya), maka berikalanlah kabar gembira kepada mereka bahwa mereka akan mendapatkan azab yang pedih. Ingatlah ketika emas dan perak dipanaskan dalam neraka jahannam, lalu dengan itu disetrika dahi, lambung, dan punggung mereka seraya dikatakan kepada mereka, “inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri maka rasakanlah akibat dari apa yang kamu simpan itu.”( QS: Attaubah : 34-35).

    2. Hadist dari Amr bin Syu’aib dari bapak nya dari kakeknya, Ia berkata;

    أَنَّ امْرَأَةً أَتَتْ رَسُولَ اللّهِ صلى اللّه عليه وسلم وَمَعَهَا ابْنَةٌ لَهَا ، وَفِي يَدِ ابْنَتِهَا مَسْكَتَانِ غَلِيْظَتَانِ مِنْ ذَهَبٍ ، فَقَالَ لَهَا : أَتُعْطِيْنَ زَكَاةَ هذَا ؟ قَالَت : لاَ ، قَالَ : أَيَسُرُّكِ أَنْ يُسَوِّرَكِ اللّه بِهِمَا يَومَ القِيَامَةِ سِوَارَيْنِ مِن نَارِ قَالَ فَخَلَعْتهُمَا فَأَلْقَتْهُمَا إِلَى النبيِّ صلى الله عليه و سلم وَقَالَتْ : هُمَا لِلّهِ عزوجل وَلِرَسُولهِ

    “Ada seorang wanita datang kepada Rasulullah shalallohu ‘alihi wa sallam bersama anak perempuannya yang ditangannya terdapat dua gelang besar yang terbuat dari emas. Maka Rasulullah bertanya kepadanya, Apakah engkau sudah mengeluarkan zakat ini ?. Dia menjawab, belum. Rasulullah lantas bersabda, “ Apakah engkau senang kalau nantinya Allah memakaikan kepadamu pada hari kiamat dengan dua gelang dari api neraka ?.”. Kemudian wanita itupun melepaskan keduanya dan memberikannya kepada Rasulullah seraya berkata: keduanya untuk Allah dan Rasul-Nya.”. ( HR Abu Daud no 1563 dan At Tirmidzi 637, Hadist ini shahih ).

    3. Hadist dari Abdullah bin Syaddad bin Hadi, Ia berkata,

    دَخَلْنَا عَلَى عَائِشَة زَوج النَّبي صلى الله عليه وسلم فقالت : دخل عليَّ رسول الله فَرأَ فِي يَدَيَّ فَتَخَاتٍ مِن وَرِقٍ فقال : مَا هذا يا عائشة ؟ فَقُلتُ صَنَعْتُهُنَّ أَتَزَيَّنُ لَكَ يَارسول الله ، قال : أَتُؤَدِّينَ زكَاتَهُنَّ ؟ قُلتُ : لاَ ، قَالَ : حَسْبُكَ مِنَ النَّارِ.

    “Kami masuk menemui Aisyah istri Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam lalu beliau berkata: “Rasulullah pernah masuk menemuiku dan melihat ditanganku ada beberapa cincin dari perak. Beliau bertanya : apakah ini wahai Aisyah?. Aku menjawab : saya memakainya demi berhias untukmu wahai Rasulullah. Lalu beliau bertanya lagi : Apakah engkau sudah kelurkan zakatnya?. Aku menjawab, belum. Kemudian Rasulullah bersabda cukuplah itu memasukkanmu ke dalam neraka. ( HR Abu Daud no 1565)._

    Dari dalil- dalil diatas maka pendapat yang terkuat adalah pendapat kedua yang menyatakan bahwa perhiasan secara mutlak adalah jenis harta yang wajib dikeluarkan zakatnya. Demikianlah pendapat yang lebih hati-hati dalam masalah ini.

    Adapun dalil yang menyatakan tidak adanya zakat bagi perhiasan maka pendapat tersebut tidaklah kuat jika disandingkan dengan keterangan-keterangan kelompok yang mewajibkannya, karena keterangan-keterangan yang mereka sampaikan itu bersumber dari perkataan sahabat, dan perkataan sahabat tidak bisa menjadi hujjah (dalil yang tepat) bila bertentangan dengan nash Al Quran dan sunnah yang shahih. (Shahih Fiqih Sunnah jilid 2 halaman 25-26)

    Bila uraian di atas telah dipahami maka zakat perhiasan dikeluarkan setiap tahun saat haul (mencapai satu tahun hijriyyah) dan telah memenuhi nishab yang sama seperti nishab emas (85 gram, dan perak 595 gram) batangan. Adapun besaran yang dikeluarkan adalah 2,5% atau 1/40.

    Contoh : Seorang wanita memiliki kalung emas murni saat mencapai haul seberat 100 gram. Sedangkan harga emas murni yang bukan kalung adalah 500 ribu per gram X 100 gram= 50.000.000. Namun harga emas setelah dibentuk menjadi kalung adalah Rp 60.000.000. Maka zakat kalung emas dihitungnya adalah 1/40 X 60.000.000 = Rp 1.500.000.

    Demikian beberapa penjelasan berkenaan dengan zakat perhiasan berupa emas dan perak. Adapun perhiasan selain emas dan perak seperti batu safir dan mutiara, maka tidak ada zakatnya berdasarkan kesepakatan para ulama karena tidak ada dalil yang menunjukkan wajibnya zakat atas perhiasan-perhiasan jenis itu. Kecuali perhiasan tersebut diniatkan untuk diperdagangkan maka ia masuk ke dalam zakat perdagangan.

    Jika cincin emas atau perak bercampur dengan jenis lain seperti mutiara; kalau bisa dipisah tanpa merusak cincin tersebut, maka yang kena zakat adalah perhiasan emas atau peraknya. Namun jika tidak bisa dipisah, yang bila dipisah akan merusak cincin tersebut, maka diperkirakan saja berapa kadarnya dan dikeluarkan zakat dari emas atau perak tersebut. (Shahih Fiqh Sunnah jilid 2 halaman 26-27)

     

    Zakat Profesi (Penghasilan)

    Seorang pegawai atau pekerja yang memiliki pekerjaan dan mendapatkan gaji bulanan atau mingguan diklasifikasikan menjadi dua golongan berdasarkan jumlah penghasilan atau nominal gaji yang diterimanya :

    Pertama, Orang yang gajinya habis setiap bulannya untuk memenuhi segala kebutuhannya dan tidak ada sedikitpun harta yang disimpan, maka orang yag berada dalam kondisi semacam ini tidak wajib zakat, karena syarat wajib zakat adalah mencapai nishab dan memenuhi haul (tahun hijriyyah).

    Kedua, Orang yang memiliki gaji kemudian dia gunakan untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari namun masih ada uang yang bisa ia sisihkan untuk ditabung/disimpan walaupun terkadang harta tersebut berkurang dan kadang bertambah.

    Orang yang berada pada kondisi kedua ini dinyatakan wajib zakat apabila telah memenuhi nishab dan telah mencapai haul. Perhitungan haulnya dimulai semenjak hartanya mencapai nishab (untuk pertama kali).

    Disamping itu, untuk jenis kedua ini, ada juga pendapat sebagian ulama kontemporer seperti Abdul wahab khallaf, Abu Zahrah, dan Yusuf Qardhawi yang mengatakan bahwa zakat profesi/penghasilan wajib dikeluarkan setiap bulannya (terima gaji).

    Menurut golongan ini seorang yang menerima gaji dan dikalkulasikan jumlahnya selama satu haul (tahun) dapat mencapai nishab, tidak perlu menunggu haul. Namun langsung wajib membayarnya setiap penerimaan gaji –dikiaskan dengan zakat biji-bijian-, dan dengan besaran 2,5 % -dikiaskan dengan zakat harta-.

    Disamping itu, mereka menetapkan kewajiban zakat profesi ini –juga- berdasarkan dalil aqli (nalar) bahwa mengapa hanya para petani –misalnya- yang wajib mengeluarkan zakat sedangkan para dokter, para eksekutif, karyawan yang gajinya hanya dalam beberapa bulan sudah melebihi nisab, tidak diambil zakatnya ?.

    Demikianlah argument yang dikemukakan oleh kelompok tersebut. Namun argument tersebut tidak disepakati oleh kelompok yang lain. Mereka menyatakan bahwa kaidah umum syar’I sejak dahulu berkenaan dengan zakat harta –dari manapun sumbernya; apakah dari warisan, hadiah, kontrakan, gaji, dan yang lainnya- bahwa syarat wajibnya mengeluarkan zakat tersebut yaitu bila telah terpenuhi dua kriteria, yaitu : sampai nishab dan sampai haul (putaran satu tahun). Bila tidak mencapai batas minimal nishab dalam satu haul, maka zakat tidaklah wajib. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

    لَيْسَ فِي مَالٍ زَكَاةٌ حَتَّى يَحُولَ عَلَيْهِ الْحَوْلُ

    “Zakat itu tidak wajib kecuali telah genap satu tahun.” (HR. Abu Daud)

    Adapun zakat penghasilan (profesi) yang dinyatakan wajib dikeluarkan setiap bulan jika dikalkulasikan dapat mencapai nishab dalam satu haul, maka dua syarat wajibnya mengeluarkan zakat tersebut tidaklah terpenuhi, yaitu harta yang dimiliki oleh orang tersebut –sesungguhnya- belum sampai nishab dalam satu haul. Dengan kata lain bahwa zakat profesi ini adalah zakat tanpa haul dan tanpa nishab. Olehnya itu maka penetapan wajibnya membayar zakat profesi adalah penetapan yang tidak berlandaskan pada dalil-dalil yang kuat.

    Hal lain bahwa di zaman Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- pun ada profesi. Namun tidak sedikitpun keterangan yang menyatakan bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- memungut zakat profesi. Zakat adalah ibadah, maka berdasarkan kaidah yang disepakati para ulama;

    الأَصلُ فِي الْعِبَادَاتِ التَّوْقِيْفِ او المَنْعِ

    “Hukum asal sebuah ibadah itu adalah terlarang kecuali ada dalil yang mensyariatkannya.”, maka zakat penghasilan/profesi tidaklah tepat hingga memenuhi ketentuan umum yang merupakan syarat wajibnya zakat harta, yaitu memenuhi nishab selama satu haul. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah).

    Adapun bila dikatakan bahwa mengapa hanya para petani yang diperintahkan untuk mengeluarkan zakatnya setiap kali panen sedangkan para dokter, eksekutif, karyawan yang gajinya hanya dalam beberapa bulan sudah melebihi nisab, tidak diambil zakatnya ?.

    Maka dikatakan bahwa hujjah (alasan) ini tidaklah benar dijadikan sebagai dalil untuk mewajibkan sesuatu yang tidak wajib. Yang demikian ini karena masalah ibadah sifatnya tauqifiyyah –sebagaimana yang telah disebutkan-, yaitu harus mengikuti dalil yang jelas dan shahih. Dengan demikian hukum-hukum itu tidaklah boleh diintervensi, karena Allah memiliki hikmah tersendiri dari hukum-hukum-Nya. Allah berirman;

    لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ [الأنبياء : 23]

    “Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai.”. (al Anbiyaa’; 23).

    Kalau sekiranya masalah-masalah ibadah –pun harus diintervensi dengan akal, maka akan begitu banyak pertanyaan-pertanyaan yang kemudian akan dilontarkan berkenaan dengan masalah peribadatan atau masalah agama lainnya yang telah baku. Misalnya; “Mengapa warisan untuk wanita lebih rendah?”; “Mengapa ketika seorang mengeluarkan air seni yang najis hanya disucikan dengan mencuci kemaluan, sedangkan air mani yang suci harus disucikan dengan mandi janabah?”; “Mengapa orang yang mencuri harus dipotong tangannya sebatas pergelangan, sedangkan orang yang berzina dan ia telah menikah harus dirajam, bukannya dipotong alat vitalnya?”; dan masih banyak lagi hal yang akan kita tanyakan. Dan hal inilah diantara celah yang dijadikan syaithan untuk menghalangi seorang dari hukum Allah.

    Dari uraian yang telah disebutkan disimpulkan bahwa pendapat yang lebih tepat menyatakan bahwa zakat profesi hanya wajib dikeluarkan jika memenuhi dua syarat yang telah disebutkan, yaitu; mencapai nishab dan bertahan hingga satu haul.

    Selanjutnya, jika ditanyakan;

    Dalam membayar zakat, apakah yang dijadikan acuan adalah nishab emas atau nishab perak ?, mengingat bahwa alat transaksi yang digunakan saat ini adalah mata uang (bukan emas atau perak).

    Ada perbedaan pendapat dikalangan ulama kontemporer tentang nishab zakat mata uang saat ini apakah dikeluarkan dengan mengacu pada nishab emas atau dengan mengacu pada nishab perak ?.

    Pendapat pertama, Nishab uang kertas di qiyaskan kepada nishab perak.

    Dalil pendapat ini; karena jika diqiyaskan dengan nishab perak akan lebih banyak kaum muslimin yang bisa mengeluarkan zakat dan ini akan bermanfaat untuk fakir miskin dari kalangan kaum muslimin.

    Pendapat Kedua, Nishab uang kertas diqiyaskan kepada nishab emas.

    Dalil pendapat ini ;

    1. Karena nilai perak berubah-ubah setelah zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan setelahnya. Berbeda dengan emas yang nilainya cenderung stabil.

    2. Nishab emas juga lebih mendekati nishab-nishab zakat yang lain seperti nishab zakat dalam peternakan yaitu unta yang nishabnya adalah 5 ekor dan kambing nishabnya 40 ekor. Jika yang dijadikan acuan adalah nishab perak, sedangkan nilai dari nishab perak saat ini tidak sebanding dengan harga 1 kambing; maka akan nampak adanya ketimpangan harga yang sangat jauh, hingga akan tidak logis jika menjadikannya sebagai standar nishab.

    Dari kedua pendapat yang telah disampaikan beserta alasannya, maka pendapat yang lebih kuat bahwa nisab uang diqiyaskan dengan nishab emas karena kekuatan dalil-dalil yang telah disebutkan.

    Jika uraian diatas telah dipahami, maka hal terakir yang akan disampaikan dalam rubric ini bahwa jika seorang yang telah memiliki nishab ingin menyegerakan pembayaran zakatnya sebelum tiba haulnya, maka yang demikian tidaklah mengapa, namun hal itu bukanlah merupakan kewajiban.

    Jumhur ulama dari kalangan syafi’iyyah, al hanafiah, dan al hanabilah dan perkataan Hasan al bashri dan Said ibnu Jubair, membolehkan menunaikan zakat penghasilan sebelum haul dan dianggap  sebagai zakat yang disegerakan. (Fatwa Al Lajnah Ad Daimah 9/280).  Hal ini didasarkan oleh perlakuan Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- yang memungut zakat dari pamannya sebelum tiba haulnya, sebagaimana disebutkan oleh imam Tirmidzi –rahimahullah-:

     أَنَّ الْعَبَّاسَ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي تَعْجِيلِ صَدَقَتِهِ قَبْلَ أَنْ تَحِلَّ فَرَخَّصَ لَهُ فِي ذَلِكَ

    “Abbas bin Abdul Muthalib minta ijin untuk menyegerakan pengeluaran zakatnya sebelum datang haul, maka Rasulullah memberinya keringanan untuk melakukannya.”. (HR Tirmidzi, no. 614).

     

    Demikian beberapa ulasan tentang zakat emas dan perak, serta zakat harta. Wallahu a’lam bis shawaab.

     

    ️ Penulis : Ustadz Muhammad Mukhtar Zain, Lc

    Tim Rubrik Kajian Ilmiyah Al Binaa Menyapa

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here