Pertanyaan :

Apakah benar ada kewajiban mengeluarkan zakat profesi ?

Jawaban :

Istilah zakat profesi adalah sebuah peristilahan baru yang tidak dikenal di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sahabat, dan generasi salaf selanjutnya. Olehnya, pendapat yang lebih tepat dalam masalah ini adalah pendapat ulama yang menyatakan bahwa tidak ada syariat membayar zakat profesi dalam Islam. Adapun paparannya adalah sebagai berikut:

Menurut golongan yang membenarkan adanya zakat profesi bahwa seorang yang menerima gaji dan dikalkulasikan jumlahnya selama satu haul (tahun) dapat mencapai nishab, tidak perlu menunggu haul. Namun langsung wajib membayarnya setiap penerimaan gaji –dikiaskan dengan zakat biji-bijian-, dengan besaran 2,5 % -dikiaskan dengan zakat harta-.

Disamping itu, mereka menetapkan kewajiban zakat profesi ini –juga- berdasarkan dalil analogi bahwa mengapa hanya petani-petani yang diwajibkan mengeluarkan zakatnya sedangkan para dokter, para eksekutif, karyawan yang gajinya hanya dalam beberapa bulan sudah melebihi nisab, tidak diambil zakatnya ?.

Adapun golongan yang tidak sependapat dengan golongan ini menyatakan bahwa kaidah umum syar’I sejak dahulu berkenaan dengan zakat harta –dari manapun sumbernya; apakah dari warisan, hadiah, kontrakan, gaji, profesi dan yang lainnya- bahwa syarat wajibnya mengeluarkan zakat tersebut yaitu bila telah terpenuhi dua kriteria, yaitu : sampai nishab dan sampai haul (putaran satu tahun). Bila tidak mencapai batas minimal nishab dalam satu haul, maka zakat tidaklah wajib. Rasulullah –shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ فِي مَالٍ زَكَاةٌ حَتَّى يَحُولَ عَلَيْهِ الْحَوْلُ

“Zakat itu tidak wajib kecuali telah genap satu tahun.”. (HR. Abu Daud)

Adapun zakat profesi, maka dua syarat wajibnya mengeluarkan zakat tersebut tidaklah terpenuhi, dimana harta yang dimiliki oleh orang tersebut belum sampai nishab dan belum mencapai satu haul. Dengan kata lain bahwa zakat profesi ini adalah zakat tanpa haul dan tanpa nishab. Sementara penetapan zakat tanpa haul dan nishab hanya ada pada rikaz (harta karun). Dan penetapan zakat tanpa haul hanya ada pada zakat biji-bijian dan buah-buahan, namun penetapannya –pun berdasarkan nishab tertentu setiap kali panen. Olehnya itu maka penetapan wajibnya membayar zakat profesi adalah penetapan yang tidak berlandaskan pada dalil-dalil yang kuat.

Hal lain bahwa di zaman Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- pun ada profesi. Namun tidak sedikitpun keterangan yang menyatakan bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- memungut zakat profesi.

Selanjutnya, kias zakat profesi dengan zakat biji-bijian dan buah-buahan adalah kias yang tidak tepat karena beberapa hal, diantaranya karena kias ini tidak konsukwen; dimana pengqiasan waktu wajibnya berdasarkan pada zakat biji-bijian itu (setiap kali panen – setiap bulan), sementara kadar wajibnya dikiaskan pada zakat harta (2,5 %) dan bukan dikiaskan pada zakat biji-bijian (5 atau 10%).

Kemudian mungkin ada pertanyaan; bagaimana dengan seorang yang menerima gaji setiap hari atau setiap minggu; wajibkah ia mengeluarkan zakat penghasilannya setiap kali gajian (dikiaskan dengan setiap kali panen) ?.

Selanjutnya, penetapan wajibnya mengeluarkan zakat profesi akan menyulitkan manusia. Dinyatakan demikian karena seorang yang memiliki harta dibolehkan untuk mempergunakan hartanya itu;

  1. Baik dengan membelanjakannya dijalan yang halal untuk keperluannya atau keluarganya,
  2. atau mengembangkan harta itu dengan melakukan usaha (misalnya, mudharabah dll)
  3. atau mengeluarkan zakat bila telah terpenuhi syarat-syaratnya.
  4. atau menabungnya bila belum terpenuhi syarat-syaratnya, agar kemudian bisa dikeluarkan zakatnya.

5 atau dia shadaqohkan/berinfaq (sunnah hukumnya).

Bertolak dari uraian tersebut, maka menetapkan wajibnya mengeluarkan zakat profesi, sedikit tidaknya –tentu- akan menjadi batu sandungan bagi mereka yang ingin memanfaatkan hartanya dengan berbagai pemanfaatan yang telah disebutkan, sementara ia wajib menyisihkan bagian dari hartanya untuk dikeluarkan –sedangkan- pengeluaran itu belum wajib baginya.

Hal ini akan lebih terasa lagi dengan bertambahnya beban tanggungan setiap bulan –misalnya-. Adanya biaya-biaya yang tidak terduga. Kondisi perekonomian yang tidak menentu. Terjadi PHK besar-besaran, bencana, dll. Tentu hal ini semua akan mempertegas betapa zakat profesi ini akan memberatkan manusia yang belum memiliki kesanggupan untuk berzakat, lantas ia telah dibebankan untuk mengeluarkan zakat tersebut. Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda:

لَا صَدَقَةَ إِلَّا عَنْ ظَهْرِ غِنًى

“Zakat itu tidak wajib melainkan bagi orang yang mampu.”. (HR. Bukhari)

Adapun bila dikatakan bahwa mengapa hanya petani-petani yang diperintahkan untuk mengeluarkan zakatnya setiap kali panen sedangkan para dokter, eksekutif, karyawan yang gajinya hanya dalam beberapa bulan sudah melebihi nisab, tidak diambil zakatnya ?.

Maka dikatakan bahwa alasan ini tidaklah benar untuk diangkat sebagai dalih membenarkan adanya kewajiban zakat profesi. Yang demikian ini karena masalah ibadah sifatnya tauqifiyyah, yaitu harus mengikuti dalil yang jelas dan shahih. Dengan demikian hukum-hukum itu tidaklah boleh diintervensi, karena Allah memiliki hikmah tersendiri dari hukum-hukum-Nya. Allah berirman;

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ

“Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai.”. (al Anbiyaa’; 23).

Kalau sekiranya masalah-masalah ibadah –pun harus diintervensi dengan akal, maka akan begitu banyak pertanyaan-pertanyaan yang kemudian akan dilontarkan berkenaan dengan masalah peribadatan atau masalah agama lainnya yang telah baku. Misalnya; “Mengapa warisan untuk wanita lebih rendah?”, “Mengapa ketika seorang mengeluarkan air seni yang najis hanya disucikan dengan mencuci kemaluan, sedangkan air mani yang suci harus disucikan dengan mandi janabah?”, “Mengapa orang yang mencuri harus dipotong tangannya sebatas pergelangan, sedangkan orang yang telah menikah harus dirajam, bukan dipotong alat vitalnya?”, dan masih banyak lagi hal yang akan kita tanyakan, dan selanjutnya akan menghalangi seorang dari hukum Allah, bila semuanya dilandaskan –semata- pada kemampuan nalar seseorang.

Olehnya, berdasarkan keterangan-keterangan yang disebutkan, maka pendapat yang lebih tepat –wallahu a’lam- adalah yang menyatakan bahwa tidak ada kewajiban zakat profesi dalam Islam.

Baca juga di Zakat Emas, Perak dan Zakat Harta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here